Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Khasyyah dan Khauf: Perbedaan Dua kata Takut di Dalam Al-Qur’an

takut
Sumber: istockphoto.com

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang dimana di dalamnya terkandung banyak sekali kata atau istilah yang sama dengan maksud dan tujuan yang berbeda. Persamaan makna dengan dengan ragam lafadz yang berbeda disebut sebagai sinonim atau dalam istilah tafsirnya disebut dengan muradif. Adanya persamaan arti dan lafadz yang beragam ini memunculkan sebuah pertanyaan di masyarakat yang mempelajari Al-Qur’an, seperti “Apakah kata dalam Al-Qur’an ini bersinonim? Jika bersinonim kenapa Tuhan harus membedakan lafadz-lafadznya?” Inilah yang akan kita bahas dalam tulisan ini terutama mengenai dua kata takut : Khasyyah dan Khauf didalam Al-Qur’an.

Makna Khasyyah dalam Al-Qur’an

Khashyah memiliki beberapa definisi yang berbeda dalam al-Qur’an dilihat dari segi etimologinya. Jika ditinjau dari mayoritas ayat al-Qur’an yang berbicara tentang khasyyah didefinisikan sebagai perasaan takut kepada Allah swt. Namun, dalam ayat lain khashyah juga diartikan sebagai pengagungan. Sebagaimana tercermin dalam surat Fatir ayat 28.

……اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ ……

28. …..Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama…..

Khasyyah terkadang juga didefinisikan sebagai taat. Sebagaimana dalam kitab tafsir jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an karya Tabari, namun di dalam kitab tafsir yang berjudul Al-Tafsir Al-Basit karya Wahidi beliau menyebutkan selain mendefinisikan khahsyah di sini dengan arti taat, dia juga mengartikannya sebagai penyerahan diri kepada Allah (Istislam) dan mengesakan Allah (Tauhid).

Para mufassir telah memberikan pengertian khasyyah secara terminologi dalam berbagai bentuknya yang bersumber dari al-Qur’an dan didukung oleh hadist. Salah satu pengertian khasyyah adalah perasaan takut kepada Allah sebagai wujud dari keihsanan seorang hamba. Ini tercermin dalam surat Qaf ayat 33 dalam kalimat.

Baca Juga  Hukum Mengambil Imbalan Mengajar dalam Perspektif Islam

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِ …..

33.  (Dialah) orang yang takut kepada Zat Yang Maha Pengasih (sekalipun) dia tidak melihat-Nya……

Pada ayat lain, secara terminologi khasyyah oleh para mufassir dipahami sebagai rasa takut kepada Allah sebagai wujud dari ketakwaan. Pengertian ini termaktub dalam surat al-Bayyinah ayat 8. Kata khasyyah dalam ayat ini menurut Tabari, Ibnu Kasir, dan Baghawi dipahami sebagai perasaan takut seorang mu’min baik secara tampak maupun samar sebagai bentuk ketakwaannya kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.

Dari semua pendapat para mufassir mengenai pengertian khasyyah dari beragam bentuknya yang tercermin dalam ayat-ayat terkait khasyyah, penulis menemukan satu titik kesamaan yakni penekanan akan rasa takut kepada Allah sebagai indikator keimanan seorang mu’min yang itu dilandaskan atas sebuah bangunan ilmu.

Dalam kitab al-majmu’ al-Qayyim min Kalam Ibnu al-Qayyim karya Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah yang menyebutkan bahwa kecemasan yang mutlak adalah takut kepada Allah, sebagaimana ketakutan itu menjadi syarat keimanan, karena bagi seorang mu’min beriman kepada Allah, malaikat, dan rasul-Nya harus didasari oleh rasa takut.

Sedangkan dalam kitab Mu’jam Alfaz al-‘Aqidah dijelaskan bahwa khasyyah merupakan ketakutan yang hadir setelah seorang mengetahui kebesaran dan keagungan objek yang ditakuti dan kesempurnaan kekuasaan-Nya. Pernyataan yang sama disebutkan dalam kitab Mufradat Alfaz al-Qur’an yaitu perasaan takut yang disertai pengangungan dan berkaitan dengan adanya pengetahuan terhadap yang ditakuti.

Analisis kata Khauf dalam Al-Qur’an

Dalam memaknai kata khauf pada periode Qur’anik, harus dilakukan dengan cara mengamati dan menelusuri konteks ayat-ayat tentang khauf dengan memilah menjadi periode Makkah dan periode Madinah. Pada periode Makkah, makna khauf tidak mengalami perubahan makna, tetap dengan makna takut yang menjadikan seseorang tidak tenang atau bahagia.

Baca Juga  Sikap Ramah dan Lembut: Inti Dakwah Al-Quran

Dalam ilmu tasawuf, Al-Ghazali mengartikan khauf sebagai rasa sakit dalam hati karena khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak disenangi dimasa sekarang. Ia juga membagi khauf kedalam beberapa derajat dan tingkatan.

  • Macam-macam khauf

Menurut Al-Ghazali khauf terdiri dari tiga tingkatan atau tiga derajat diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Tingkatan Qasir (pendek), yaitu khauf seperti kelembutan perasaan yang dimiliki wanita, perasaan ini seringkali dirasakan tatkala mendengarkan ayat-ayat Allah dibacakan.
  2. Tingkatan Mufrith (yang berlebihan), yaitu khauf yang sangat kuat dan melebihi batas kewajaran dan putus asa. Khauf pada tingkatan ini menyebabkan hilangnya kendali akal dan bahkan kematian, khauf ini juga dicela karena membuat manusia tidak bisa beramal.
  3. Tingkatan Mu’tadil (sedang), yaitu tingkat khauf yang sangat terpuji, ia berada diantara khauf qasir dan khauf mufrith.

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, al-Ghazali juga membagi khauf kedalam tiga tingkatan, yaitu:

  1. Khauf al-awam (takutnya orang awam, yaitu takut akan hukuman dan keterlambatan pahala.
  2. Khauf al-khasah (takutnya orang khusus), yaitu takut akan keterlambatan teguran.
  3. Khauf al-khasah al-khasah (takutnya orang yang paling khusus), yaitu takut akan ketertutupan dengan nampaknya keburukan budi pekerti.
  4. Hakikat Khauf

Khauf adalah ibadah hati. Tidak dibenarkan khauf ini kecuali kepada Allah swt. Khauf adalah syarat pembuktian keimanan seseorang. Apabila khauf kepada Allah swt berkurang dalam diri seseorang, maka ini sebagai tanda mulai berkurangnya pengetahuan dirinya terhadap Rabb-Nya, sebab orang yang paling tahu tentang Allah adalah orang yang paling takut kepada-Nya.

Rasa khauf akan muncul dengan sebab beberapa hal, di antaranya : pertama, bila seorang hamba mengetahui dan menyakini hal-hal yang tergolong pelanggaran dan dosa-dosanya serta kejelekan-kejelekannya. Kedua, pembenarannya akan adanya ancaman Allah swt bahwa Allah swt akan menyiapkan siksa atas segala kemaksiatan. Ketiga, dia mengetahui akan adanya kemungkinan penghalang antara dirinya dan taubatnya.

  • Makna dasar
Baca Juga  Penafsiran Tokoh Tafsir Kontemporer tentang Hukum Poligami

Dalam Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an, al-Asfahani mengatakan bahwa khauf dalam ketakutan atau suatu hal yang sudah diduga atau sudah diketahui dengan pasti, atau takut karena lemahnya orang yang takut itu, meskipun yang ditakuti adalah hal sepele. Lawan kata dari khauf adalah rasa aman. Ungkapan khauf bisa digunakan dalam urusan duniawiyah dan ukhrawiyah.

Sedangkan Ibnu Manzur mengatakan dalam kitabnya yang berjudul Lisan al-A’rab

الخوف: انفعاٌل في النفس يَدث لتوقّع ما يرد من الدكروه او يفوت منالمحبوب

Khauf adalah kondisi (bisikan) kejiwaan yang timbul sebagai akibat dari dugaan akan munculnya sesuatu yang dibenci atau hilangnya sesuatu yang disenangi. Jadi makna dasar dari khauf adalah sebuah perasaan yang muncul ketika mengetahui sesuatu yang buruk akan terjadi atau akan kehilangan sesuatu yang berharga.

Editor: An-Najmi