Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Keutamaan Menghidupkan Waktu Sahur dengan Istighfar

Sumber: istockphoto.com

Dalam ajaran Islam, perintah istighfar tidak hanya sekedar kewajiban belaka. Akan tetapi hal tersebut ialah sebuah kebutuhan mutlak bagi seorang muslim. Sebab manusia terlahir dengan segala kelemahan dan keterbatasan dalam menjalankan amanah yang berat dari Allah sebagai hamba sekaligus khalifah. Hal ini menunjukkan bahwa setiap manusia tidak akan lepas dari segala kesalahan dan pelanggaran.

Meskipun istighfar bisa dilakukan kapan saja, namun saat sahur menjadi waktu yang dikhususkan untuk melakukan munajat dan permohonan ampun seorang hamba kepada Rabbnya. Dalam al-Quran hal ini termaktub di dalam QS. Ali Imran [3]: 17 dan QS. adz-Dzariyat [51]: 18 yang menjelaskan perihal keutamaan istghfar di waktu sahur.

Keistemewaan Waktu Sahur

Menurut Wahbah al-Zuhaili, sepertiga malam merupakan waktu yang sangat istimewa dan spesial. Waktu ini semakin istimewa karena Allah mengabulkan istighfar (permohonan ampun) yang diminta oleh hambaNya. Selain itu, waktu sepertiga malam adalah momentum dimana Allah berada paling dekat dengan hamba-hambaNya. Seperti dikatakan dalam  hadis yang diriwayatkan oleh Amr bin Ash.

Rasulullah bersabda: “Keadaan yang paling dekat antara Tuhan dan hambaNya adalah di waktu sepertiga malam akhir. Oleh karena itu, jika kamu sanggup menjadi bagian yang berdzikir kepada Allah, maka kerjakanlah pada waktu itu.” (HR. Tirmidzi)

Tahajud yang merupakan ibadah yang sangat mulia dan merupakan kebiasaannya kaum shalihin. Allah menyebutkan bahwasanya diantara sifat-sifat kaum mukminin yang dijanjikan surga bagi mereka adalah beristighfar setelah shalat malam.

Mengapa banyak ibadah agung yang disyari’atkan seperti qiyam al-lail supaya diakhiri dengan istighfar. Dalam Tafsir Ruh al-Ma’ani dijelaskan, hal ini untuk memberi isyarat akan kurangnya seseorang dalam beribadah yang meskipun telah berusaha semaksimal mungkin. Dan kesadaran seperti merasa bahwa ibadah yang mereka lakukan adalah karena anugerah dari Allah.

Baca Juga  Keselarasan Nilai Pancasila dalam Al-Qur'an

Teladan Orang-orang Saleh dalam Beristighfar

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menceritakan kebiasaan Rasulullah dan aslafuna shalihin yang dikutip dari atsar para sahabat. Diriwayatkan dari Ibnu Murdawaih, Anas ibnu Malik mengatakan bahwa, dirinya dan para sahabat yang lain apabila melakukan shalat malam diperintahkan Rasul untuk melakukan istighfar di waktu sahur sebanyak tujuh puluh kali.

Dan Abdullah ibnu Umar ketika telah selesai dari shalat malamnya bertanya, “Hai Nafi’, apakah waktu Sahur telah masuk?” Apabila dijawab belum maka ia kembali berdiri untuk mendirikan shalat malam dan apabila dijawab ya maka ia mulai berdo’a dan memohon ampun hingga waktu Subuh. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Adapun Rasulullah dikatakan dalam riwayat yang masyhur bahwa beliau beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari semalam. Dapat diambil sebuah hikmah bahwa sekelas Nabi Saw., saja tidak pernah merasa bosan, lelah dan lalai untuk terus melantunkan lisannya dengan kalimat istighfar.

Padahal beliau termasuk orang yang sangat sibuk dalam urusan pekerjaannya dan perannya di tengah-tengah umat. Juga meski seluruh perbuatannya telah mendapat garansi berupa ampunan selamanya oleh Allah (ma’sum) tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk terus membasahi lidah dan hatinya dengan istighfar. Maka diri kita yang banyak melakukan kesalahan dan kedzaliman, sudah seharusnya memperbanyak istighfar agar Allah merasa iba dan menurunkan ampunan serta rahmatNya.

Perintah Istighfar dan Jaminan Ampunan dari Allah

Dalam hadits Rasulullah bersabda, “Wahai hambaku, sesungguhnya kalian berbuat dosa siang dan malam, sedangkan aku adalah sang pengampun dosa. Maka mintalah ampunan (beristighfarlah kepadaku) niscaya aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)

Hadits tersebut sangatlah jelas bahwa keutamaan istighfar bagi manusia sangatlah besar, terbukti ketika mereka melakukan kesalahan, kedzaliman dan perbuatan keji. Maka hal utama yang harus dilakukannya adalah segera mengingat Allah dan bertaubat, kemudian memohon ampun atas segala dosa yang telah diperbuatnya serta tidak mengulagi perbuatan tersebut.

Baca Juga  Menelaah Makna Qurrata A'yun dalam Al-Quran

Semakin banyak beristighfar, maka pintu ampunan Allah akan semakin terbuka lebar. Terlebih lagi jika mengerkannya pada waktu-waktu khusus seperti waktu sahur dimana telah dikatakan waktu tersebut lebih  mustajab. Allah memberikan kesempatan untuk menjadikan bacaan istighfar dikabulkan, hal ini berkaitan dengan waktu yang sempit dimana pada kondisi tersebut manusia lengah dalam tidurnya. Sehingga pada waktu tersebut Allah sangat senang membukakan pintu ijabah dan hanya orang mengerti yang akan mendapatkan keberuntungan ini.

Bacaan Istighfar Yang Dianjurkan

Menurut Imam an-Nawawi shighat istighfar yang dapat dibaca seseorang, bisa apa saja bentuknya. Ini merupakan kemurahan para ulama supaya tidak memberatkan umat. Misalnya mengucapkan seperti doa yang terdapat dalam al-Quran, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami.” (QS. Ali Imran [3]: 16).

Atau melafadzkan sayyidul istighfar yang merupakan induk atau raja dari bacaan istighfar, atau hanya sekadar lafadz “Astaghfirullah al-‘Adzim” (Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung). Wallahu a’lam.[]

Editor: An-Najmi