Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Isra Nabi Muhammad: Peristiwa Supra Rasional

isra
Sumber: https://www.dara.co.id/

Surat al-Isra ayat pertama mengabadikan peristiwa luar biasa yang pernah dialami Nabi Muhammad Saw; isra.  Beliau dengan kehendak Allah Swt melakukan perjalanan malam yang cukup jauh secara geogafis tapi hanya ditempuh dalam beberapa saat pada malam hari. Peristiwa luar biasa tersebut berlangsung dari dua tempat, Mekkah dan berujung ke Yerussalam. Dari Masjidil Haram, Mekah ke Masjidil Aqsha, Palestina.  Secara geografis, dua tempat ini memiliki jarak ribuan kilometer. Peristiwa isra penuh dengan ketakjuban. Tiada yang dapat menciptakan itu, kecuali Yang Maha Menciptakan. Di sisi lain, dalam nalar sains, sesuatu itu di atas pertimbangan sains yang rasional, logis, bahkan positivistik.  Kekuasaan Allah Swt “mengalahkan” adidaya nalar ilmiah manusia.

Mahasuci Allah Swt

Pada Q.S. al-Isra [17]:1, Allah Swt berfirman: “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Kemenag, 2019). Pada ayat ini, al-Qur’an memberitakan peristiwa luar biasa yang pernah dialami oleh makhluk pilihan-Nya.

Kata Subhana mengawali ayat ini menandakan bahwa Allah Swt memiliki kesucian dari sifat-sifat yang tidak layak, sekaligus mengagungkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Hal ini menandakan pernyataan tentang keagungan-Nya yang telah memperjalankan hamba-Nya pada sebagian malam dengan waktu yang sangat cepat. 

Pada frase “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa”, terkandung beberapa isyarat. Pertama, yang melakukan dan berkehendak adalah Allah Swt, bukan dari kehendak makhluk.  Peristiwa yang luar biasa pasti melebihi perhitungan rasionalitas manusia. Perhitungan waktu dalam perspektif Allah Swt tidak dapat disamakan dengan perhitungan waktu manusia. Walaupun Allah Swt telah menciptakan tata surya, galaksi, dan seluruh komponen anstrofisika. Perhitungan ini dengan fisika dan astronomi. Peristiwa ini sungguh melewati batas-batas sains.

Baca Juga  Lebih Dekat dengan Nabi Muhammad Saw.

Kedua, artikel hamba-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kehendak kekuasaan-Nya, ada makhluk yang dijadikan subjek peristiwa, Nabi Muhammad Saw. Beliau layaknya manusia, berjasad dan memiliki ruh. Peristiwa luarbiasa ini melibatkan sisi fisika dan metafisika yang bersamaan menyatu.  Keluarbiasaan muncul pada bagaimana mungkin makhluk yang berjasad dapat terlibat dalam waktu yang sebentar tanpa ada campur tangan-Nya. Secara normal sains, seseorang yang berada dalam kendaraan dengan supercepat pasti memerlukan piranti perlindungan yang kokoh. Penumpang di pesawat dengan rata-rata kecepatan 900-1000 km per jam, pasti harus matang dalam perlindungan metal kabin. Sudut ketika duduk, sabuk pengaman, posisi ketika di pesawat, kekuatan kaca, dan sebagainya. Hal ini berbeda dengan isra, Nabi Muhammad Saw berada dalam perlindungan di luar nalar sains. Hanya dalam beberapa saat pada malam tersebut bisa sampai ke Masjidil Aqsha. Sebagai abd’, Nabi Muhammad Saw –dalam satu riwayat– mengalaminya melibatkan jasmani dan rohani.

Dimensi Waktu dan Jarak

Kendaraan Buraq. Makhluk yang dapat menembus dimensi waktu dan jarak tempuh cepat. Bahkan, beliau singgah dulu di beberapa tempat seperti Yastrib, Madyan, Tur Sina, hingga akhirnya sampai ke Masjidil Aqsha. Dalam hitungan sains, jarak (s) tertentu yang memerlukan waktu tertentu (t), ketika ingin cepat sampai, pasti butuh kecepatan (v) yang kentara.  Jarak dari Mekkah, ke Yastrib, ke Madyan, ke Tur Sina, sampau ke Masjidil Aqsha, berjumlah ribuan kilometer. Perlu beberapa jam atau hari apabila menggunakan kendaraan biasa. Sisi yang menarik adalah peristiwa isra mungkin hanya berapa saat dalam satu malam. Karena beliau langsung naik ke langit, sementara menjelang subuh sudah kembali ke Mekkah. Allah Swt Maha Kuasa atas segala hal.

Baca Juga  Kerinduan Eksistensial Kepada Sang Nabi

Jarak tempuh yang jauh dengan waktu yang sangat cepat menunjukkan kekuasaan-Nya. Konsep dan praktik sains modern mungkin dapat menyebutnya dengan teleportasi atau pun pembuatan pesawat yang melebihi kecepatan rata-rata cahaya. Itu pun biasanya linear dalam satu vektor tempat semula ke tempat sasaran. Berbeda dengan isra, jarak yang ditempuh tidak lurus melainkan berkelok. Bahkan pindah titik dengan sudut tempat yang berbeda pula.

Penjelasan di atas bukan berarti bahwa sains itu tidak penting. Sains harus dikuasai dengan baik untuk perjalanan kehidupan. Karena ia punya sisi aksiologis untuk mencapai kemudahan dalam menjalani kehidupan. Dengan demikian, Sains menjadi simbol ilmu yang penemuannya berkat akal yang diberikan oleha-Nya. Al-Qur’an dan ajaran Islam sangat mendorong manusia untuk menguasai sains. Namun, dari sisi teologis, ada sesuatu yang melebihi positivistik sains, salah satunya adalah peristiwa isra. Untuk menunjukkan kekuasaan-Nya di atas nalar sains yang ada pada manusia.

Isra yang Supra Rasional

Allah Swt telah memberikan kemampuan luar biasa pada manusia dengan akal. Ia bisa menjamah, mengetahui, memahami, menelaah, bahkan membuat sesuatu. Pertimbangan logis dan empiris pada sains mendorong manusia menemukan ilmu dan teknologi. Sehingga ia bisa bermanfaat bagi dunia.

Apa yang dijangkau oleh akal melalui proses berpikir terbatas pada apa yang empiris. Jalinan logis pada pernyataan berkait berkelindan dalam rangkain logika berpikir. Apa yang berjalan melalui logika, adalah yang dialami secara empiris oleh manusia.

Perhitungan jarak dan waktu dengan kecepatan dalam fisika menjadi salah satu objek yang logis dan empiris. Ia dapat dihitung. Lokasi dan vektornya dapat dijamah. Waktunya dapat dihitung sesuai dengan nalar positivistik dan uji eksperimen. Jarak tertentu dapat dengan cepat ditempuh dalam waktu yang cepat pasti memerlukan kecepatan tertentu. Dalam kondisi objek dengan kecepatan luar biasa, juga pasti memerlukan gaya dan momentum yang kuat. Perhitungan ini dalam fisika sudah biasa  dilakukan.

Baca Juga  Kehidupan Manusia Dalam Pandangan Buya Hamka dan Al-Ghazali

Jarak Mekkah ke Palestina cukup jauh. Jarak keduanya kira kira 1239 km/ 743,4 mil. Untuk rata-rata kendaraan 80 km/jam, butuh waktu 15,5 jam/ 929,3 menit. Perhitungan matematis ini cukup rasional. Berbeda dengan peristiwa Isra, sangat cepat hanya beberapa saat dalam semalam. Ia menjadi tanda bahwa ia supra rasional. Ia berada di atas normalitas perhitungan nalar fisika.

Sebuah Pelajaran

Peristiwa isra mengajarkan kepada manusia untuk mengerahkan pemikiran dan menarik ibrah sekaligus menyadari kekuasaan-Nya. Pada suatu saat, al-Qur’an mengisyaratkan dorongan memahami hukum alam dengan runtut pikiran logis. Di saat lain, al-Qur’an pun mengisyaratkan ada sesuatu yang lebih tinggi dari rasionalitas manusia. Semuanya bermuara bahwa sains hendaknya mengarah pada pengakuan atas kemahakuasaan Allah Swt. Wallahu A’lam.