Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Filosofi Mengerjakan Ibadah Haji di Tanah Suci

Sumber: istockphoto.com

Haji merupakan salah satu pilar keislaman. Haji pun menjadi idaman setiap muslim agar ia dapat melaksanakannya. Meskipun, pelaksanaannya harus memenuhi persyaratan tertentu, yaitu mampu dalam melaksanakannya atau diperjalanannya.  Posisi kewajibannya hanya tertuju pada orang yang mampu. Al-Qur’an menginformasikan hal ini pada QS. Ali Imran: 97, “ (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu”.  Kemampuan dalam berhaji dalam Tafsir Kemenag RI (2022) berhubungan dengan kesanggupan mendapatkan perbekalan, alat transportasi, sehat jasmani, perjalanan aman, dan keluarga yang ditinggalkan terjamin kehidupannya.

Telah banyak kajian fikih mengenai haji. Para ulama telah banyak membahas tentang ketentuan, rukun, dan prosedur pelaksanaannya. Di samping kajian ini, ada sesuatu yang bisa ditelaah lebih lanjut. Kajian ini juga berkisar pada mengapa harus ada haji? Apa filosofi haji bagi manusia? Pertanyaan seperti ini mengarah pada hakikat haji.  Di dalamnya, terdapat nilai-nilai yang dapat dipetik oleh manusia.

Nilai Filosofi dalam Ibadah Haji?

Kearifan dan filosofi mendalam yang mendasari tindakan yang dilakukan selama haji adalah esensi sejati dari ibadah haji. Jika tempat-tempat yang dikunjungi selama haji tidak dimaknai dan jika setiap ritual yang dilakukan tidak ada artinya, maka haji itu sendiri akan menjadi perjalanan yang tidak relevan dan sia-sia.

Mekkah: Ketika seorang berhaji dengan lelah melakukan perjalanan dari jauh dan akhirnya melihat bukit pasir Mekkah, dia menyadari bahwa Allah melindungi mereka yang berkorban untuk-Nya. Kemudian dia diingatkan akan fakta bahwa di tanah kering dan tandus ini, yang benar-benar sedikit makanan dan air, Allah menyelamatkan Nabi Ismail dan Hajar. Kebenaran sejarah ini ditambah dengan fakta bahwa para peziarah menyaksikan tanah tempat mukjizat itu semula terjadi untuk meningkatkan kecintaan seseorang kepada Allah sebagai kepastian keimanan. Hal ini pernah diungkap oleh Aziza Khan dalam The Philosophy of Hajj (2014)

Baca Juga  Filsafat Hari Arafah Ali Shariati: Inspirasi Perjuangan Rafah, Palestina!

Mina: Nama Mina berasal dari Umniyyah, yang berarti keinginan dan tujuan. Ini mewakili tujuan dan niat sejati dari seorang jamaah yang menyelesaikan haji, yaitu untuk menemui Tuhannya. Konsekuensinya, bahwa kunjungan seorang peziarah ke Mina adalah simbol pencapaian tujuan mereka bertemu dengan Allah sambil benar-benar meninggalkan setan.

***

Arafat: akar bahasa Arab dari nama ini berarti mengenali dan mengidentifikasi. Mengunjungi Arafah menandakan bahwa peziarah telah mengidentifikasi dan mengenali Allah dan telah bertemu dengan-Nya.

Muzdalifah: Nama Muzdalifah menunjukkan kedekatan. Mengunjungi Muzdalifah menandakan bahwa tujuan yang dicari oleh para peziarah kini sudah sangat dekat.

Ka’bah: Ketika seorang peziarah pertama kali menatap Ka’bah, sebuah rumah kuno dari zaman Nabi Adam as, mereka secara emosional menyadari bahwa mereka adalah bagian dari rangkaian generasi orang yang mengunjungi bangunan ini sebagai ungkapan kasih Allah. Penghormatan terhadap Ka’bah sebagai simbol tersuci dalam Islam memfokuskan perhatian peziarah kepada Tuhan dan hanya kepada-Nya.

Mencium Hajar Aswad (Hajr-e-Aswad): Batu ini merupakan simbol keesaan Allah. Sementara berhala diukir, dipotong, dan dibentuk oleh manusia. Mencium batu adalah ungkapan yang berarti bahwa peziarah tidak ingin menyingkirkan diri dari Keesaan Allah.

Ihram: Dua kain putih yang dikenakan oleh laki-laki mengingatkan mereka akan kematian dan merupakan simbol dari kain kafan. Ketika jutaan peziarah berkumpul di tempat-tempat seperti Mina dan Arafah mengenakan ihram, sebuah pemandangan tercipta seperti gaknya Hari Perhitungan. Peziarah seperti baru saja bangkit dari kubur untuk menghadap Allah.

***

Tawaf (Perputaran):   Nasir Ahmaddalam Twenty-three Great Objectives of Building the House of Allah (2012) pernah menuturkan bahwa ketika seorang peziarah mengelilingi Ka’bah bersama dengan ribuan peziarah lainnya dan berdoa bersama mereka, mereka merasa seolah-olah telah terputus dari dunia. Mereka benar-benar berada di hadapan hadirat Allah, Mereka tunduk dan bersujud di hadapan-Nya. Tawaf adalah ekspresi cinta yang dalam dan tulus kepada Allah.Tawaf memiliki filosofi sirkumbulasi yang menyatakan bahwa itu adalah tanda para pecinta Tuhan. Para pecinta mengitarinya, seolah-olah mereka dibiarkan tanpa kehendak mereka sendiri dan di sekeliling-Nya mereka menyerahkan diri.

Baca Juga  Hadis tentang Siwak dan Manfaatnya bagi kesehatan

Sa’i (berlari di antara bukit Safa dan Marwah): Saat berlari antara Safa dan Marwah, seorang peziarah juga mengenang kejadian Hajar yang mati-matian mencari air di tempat yang tepat di masa lampau. Peziarah menyadari pula untuk melakukan pengorbanan serupa untuk Tuhan dengan meninggalkan segalanya. Allah tidak akan membiarkan mereka sia-sia seperti Dia tidak menyia-nyiakan pengorbanan Hajar dan Nabi Ismail as.

Ramyal Jamar (melempar kerikil): Melempar kerikil ke tiga pilar yang merupakan simbol setan menandakan penolakan total terhadap serangan setan. Tiga pilar didirikan di Mina di tempat-tempat di mana Nabi Ibrahim as menolak total serangan setan sebanyak tiga kali. Ketiga pilar tersebut merupakan simbol dari tahapan kehidupan manusia yaitu kehidupan di dunia material, keadaan setelah kematian, dan kehidupan akhirat yang kekal. Pelemparan setiap pilar dengan kerikil melambangkan bahwa peziarah akan menjauhkan diri dari setan.

***

Dzabihah (Pengorbanan hewan):  Stewart Murray dalam Atlas of World Religions: A Visual History of Our Great Faiths (2009) menyatakan bahwa mengorbankan hewan berfungsi sebagai pengingat bagi peziarah bahwa mereka harus selalu siap untuk memberi dan memperjuangkan jalan Allah.

Maqam Ibrahim:  Berdoa di tempat ini adalah simbol status spiritual yang dicapai Nabi Ibrahim as setelah menghilangkan semua penghalang, menjauhi semua hubungan duniawi, dan meninggalkan keinginan mereka demi Allah, kemudian mereka mencapai maqam selaras dengan kehendak Allah. Mereka pun melakukan ibadah dengan cara yang paling sempurna.

Ketika seorang yang berhaji memahami kearifan dan filosofi yang mendasari ritual haji, hal itu akan dimensi spiritual yang mendalam. Oleh karena itu, ketika haji dilakukan dengan makna dan niat yang tulus, hal itu akan memungkinkan seseorang tidak hanya mereformasi ego mereka tetapi juga membangun hubungan yang kekal dengan Allah. Wallahu A’lam.

Editor: An-Najmi

Baca Juga  Deforestasi dalam Pandangan Al-Qur'an dan Hukum Lingkungan