Pernahkah Anda merasa gelisah hanya karena ponsel tertinggal di rumah? Atau merasa cemas saat tidak membuka media sosial selama beberapa jam? Itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan sinyal dari otak yang kecanduan dopamin.
Fenomena ini menunjukkan betapa mudahnya manusia modern terperangkap dalam pola hidup yang serba instan dan memanjakan hawa nafsu. Dalam tradisi Islam, kondisi ini sejatinya bukan hal baru, al-Qur’an secara tegas menekankan pentingnya menyucikan jiwa (tazkiyah al-nafs) sebagai jalan meraih keberuntungan sejati (QS asy-Syams: 9).
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ ٩
“9. sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)”
Di sinilah pentingnya meninjau ulang praktik seperti dopamin detoks, tidak semata sebagai gaya hidup sehat, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan spiritual dalam Islam.
Mengenal Dopamin dan Konsep Detoks
Sebelum mengaitkan dopamin detoks dengan konsep penyucian jiwa dalam Islam, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu dopamin dan bagaimana detoks bekerja dalam tubuh manusia.
Dopamin adalah neurotransmitter monoamina yang diproduksi di otak dan berfungsi sebagai pembawa pesan kimiawi antar sel saraf serta tubuh. Zat ini juga berperan dalam sistem penghargaan otak yang memengaruhi motivasi, emosi, dan kebiasaan manusia terhadap rangsangan. Ketidakseimbangan dopamin dapat menyebabkan kecanduan dan stres, sehingga diperlukan pengelolaan yang seimbang.[1]
Detoksifikasi atau detoks merupakan proses pengeluaran racun dari dalam tubuh secara alami melalui mekanisme tubuh atau bantuan pola hidup sehat.[2] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), detoksifikasi diartikan sebagai penawar atau penetralan terhadap toksin yang membahayakan metabolisme tubuh.[3]
Dopamin detoks adalah praktik membatasi paparan terhadap rangsangan yang memicu pelepasan dopamin berlebih, seperti media sosial, makanan cepat saji, dan hiburan instan. Tujuannya untuk memulihkan sensitivitas otak terhadap kenikmatan alami.[4]
Menurut Dr. Anna Lembke dari Stanford University, dopamin detoks membantu individu keluar dari siklus candu rangsangan agar bisa kembali menemukan makna dan kebahagiaan dari hal-hal sederhana dalam hidup.[5]
Tazkiyah al-Nafs sebagai Detoks Spiritual
Jika dalam ilmu medis detoks berfokus pada tubuh, maka dalam Islam, penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) menjadi bentuk detoks spiritual. Setelah memahami mekanisme dopamin detoks, mari kita telaah bagaimana konsep ini memiliki padanan dalam ajaran Islam, khususnya melalui tazkiyah al-nafs, yakni penyucian jiwa.
Dalam Islam, praktik serupa dikenal dengan tazkiyah al‑nafs, yaitu menyucikan jiwa dari dorongan hawa nafsu yang merusak sebagaimana dalam Firman Allah Q.S. asy-Syams (91): 9.
Dalam surah asy-Syams, Allah SWT bersumpah atas ciptaan-Nya seperti matahari, bulan, siang, malam, langit, dan bumi. Kemudian disusul sumpah atas jiwa (nafs) yang telah disempurnakan penciptaannya oleh Allah (QS asy-Syams: 7–9).[6]
Perlu diketahui bahwa nafs memiliki dua potensi, yaitu kecenderungan kepada keburukan (fujur) dan kebaikan (taqwa), yang telah dianugerahkan Allah sejak manusia diciptakan secara sempurna dalam rahim ibunya. Fujur mencakup sikap seperti kefasikan, kesombongan, dan kedustaan, sementara taqwa mencakup kejujuran, kesabaran, dan kerendahan hati.[7]
Hal ini terdapat dalam Q.S. asy-Syams ayat 7-10 sebagai dasar spiritual bagi upaya penyucian jiwa;
وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ ٧ فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ ٨ قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ ٩ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ ١٠
“7. dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, 8. lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, 9. sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). 10. dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
Setelah itu ditegaskan bahwa keberuntungan ada pada mereka yang menyucikan jiwanya. Siapa yang mampu mengelola dan menata nafs dengan baik, maka hidupnya akan lebih cenderung kepada kebahagiaan dan ketenangan batin.[8]
Dari Tafsir Kemenag RI terkait Q.S. al‑Syams (91): 7–10 menunjukkan bahwa Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan. Maka, siapa yang menyucikannya akan menang, dan siapa yang mengotorinya pasti rugi.[9]
Tahapan Tazkiyah: Jalan Paralel dengan Dopamin Detoks
Praktik tazkiyah terbagi menjadi tiga yaitu takhalli (mengosongkan diri dari sifat tercela) seperti hasad dan marah, tahalli (menghiasi jiwa dengan sifat maḥmūdhah) seperti sabar, syukur, dan jujur, dan tajalli (menghadirkan kesadaran akan Allah secara batiniah).[10]
Dopamin detoks mirip takhalli, yakni dengan membuang kecanduan akan hiburan dan stimulasi. Proses ini membersihkan qalb agar dapat lebih fokus pada ibadah, refleksi, dan kehidupan bermakna yang tak bersandar pada kesenangan sesaat.[11]
Saat dopamin stabil, tahapan tahalli dapat terjadi pada saat hadirnya sifat sabar, syukur, dan jujur. Seseorang mampu menikmati tilawah, zikir, dan amal karena otaknya tak lagi bergantung pada stimulasi eksternal yang dangkal.[12]
Dopamin detoks membuka peluang bagi tajalli, yakni keterhubungan spiritual yang tulus. Ketika hati bersih dan tenang, seseorang lebih mudah merasakan kehadiran Allah, sebagaimana terdapat isyarat dalam QS ar-Rad (13):28.[13]
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ ٢٨
“28. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”
Di era candu digital, detoks bukan hanya soal jeda dari gawai. Ini adalah ajakan untuk kembali ke diri, menyucikan jiwa dari kecanduan instan, dan menemukan ketenangan dalam zikir, tilawah, dan keheningan.
Mari mulai hari ini dengan mematikan notifikasi, mengurangi scroll, dan mengisi waktu dengan zikir, tilawah, atau sekadar merenung dalam hening. Di situlah detoks digital menjadi tazkiyah spiritual.
Daftar Pustaka
[1]https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-hormon-dopamin-fungsi-dan-manfaatnya-pada-tubuh?srsltid=AfmBOopLKhBqlGaWN61-heHkDChn7LrRb5uR7ZzNvZ1d8fNqLEuRDHjM
[2]https://dinkes.bandaacehkota.go.id/2024/06/03/detoks-tubuh-secara-alami-cara-dan-manfaat-untuk-kesehatan-optimal/#:~:text=Detoksifikasi%20atau%20yang%20sering%20disingkat,kaya%20akan%20serat%20dan%20antioksidan
[3]https://kbbi.web.id/detoksifikasi
[4]https://www.youtube.com/watch?v=x-UD_1OfeZM
[5]https://www.youtube.com/watch?v=x-UD_1OfeZM
[6]http://tajdeed.id/administrasi-jiwa-refleksi-atas-surah-asy-syams-ayat-7-9/
[7]http://tajdeed.id/administrasi-jiwa-refleksi-atas-surah-asy-syams-ayat-7-9/
[8]http://tajdeed.id/administrasi-jiwa-refleksi-atas-surah-asy-syams-ayat-7-9/
[9]https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/91?from=1&to=15
[10]https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/syifa-al-qulub/article/view/23637
[11]https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11223451/
[12]https://monitorday.com/tahalli-takhalli-dan-tajalli-dalam-ilmu-tasawuf/
[13]https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/13?from=1&to=43
Editor: Trisna Yudistira






























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.