Berbicara kajian yang berbasis Al-Qur’an dan Hadis tentu tidak akan lepas dengan diskursus tafsir-hadis. Tafsir merupakan wasilah untuk memahami makna kandungan yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Disiplin ini (tafsir-hadis) mengalami pasang surut dalam paradigmanya, sebab pembacaanya terus mengalami pembaharuan dengan metode dan pendekatan yang berbeda-beda. Sangat tidak mudah menilai sebuah kitab tafsir maupun hadist itu tergolong ‘ideal’ atau bukan.
Sungguh sangat relatif. Akan tetapi, bagi penulis sendiri, kitab atau buku yang ideal itu parameternya adalah kitab tersebut dirujuk oleh banyak orang, terutama oleh kalangan awam yang selama ini masih kesulitan dalam memahami isi al-Qur’an.
Tafsir Ideal
Ada sebuah diskusi menarik antara penulis dengan teman yang mempunyai fokus di bidang ilmu tafsir, mengenai bagaimana tanggapan tafsir ideal. Singkatnya, ia mengemukakan produk tafsir selama ini, terutama di Indonesia. Ia mencontohkan tafsir yang sudah masyhur: Al-Misbah, karya M. Quraish Shihab yang menurutnya, belum bisa dikatakan sebagai tafsir yang ideal, karena masih sangat minim yang membaca karyanya itu kecuali dari kalangan akademisi. Terutama yang tengah mengkaji kitab tafsir.
Sejenak, penulis berfikir ulang mengenai hal ini. Bahwa parameter yang digunakan oleh kawan saya tadi ternyata dari segi kuantitas pembaca (banyak-sedikitnya) yang mengkaji kitab tafsir tersebut. Pertanyaannya lagi, banyak-sedikit itu siapa yang mengukur? Percetakan atau tukang jual buku?
Memang, kitab tafsir dari era klasik sampai sekarang, tidak bisa lepas dari kritik. Seperti karya al-Razi, Zamakhsari, al-Suyuti, at-Thabari, dan kitab-kitab tafsir yang lain, bila dilihat dari kacamata oleh penikmat tafsir saat ini, tentu banyak kritik, baik dari metodologi maupun penafsirannya. Ya wajar saja, karena horizon pemikiran dan konteks kehidupan seseorang yang berbeda. Jazirah Arab dan NKRI itu berbeda. Begitu juga mufassir dari kalangan modern dan kontemporer, seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Nasr Hamid Abu Zayd, Farid Essack, Fazlur Rahman, dan lain-lain, yang tidak jauh berbeda, masih banyak kritik.
Apakah dengan banyaknya kritik menandakan kitab atau karya tafsir itu jelek atau tidak ideal? Ah, tidak juga. Justru otokritik terhadap suatu karya itu perlu dijaga supaya banyak yang mengkajinya. Kritik bukan berarti jelek. Dengan banyak kritik maka terjadi dialektika dan menghasilkan penafsiran-penarsiran baru (re-interpretasi) terhadap problematika masa kini dan atau yang akan datang. Serta, mampu membebaskan dari kungkungan sektarianisme dan pandangan yang mengkotak-kotakan antara liyan. Jadi, kesimpulannya adalah tidak ada tafsir yang tunggal, namun tafsir yang beragam.
Tafsir-Hadits Digital
Tidak sebatas itu saja, penulis menemukan sudah tersedia berbagai website resmi untuk mengakses semua tentang tafsir dan hadist sesuai dengan konteks masa kini seperti : www.al-tafsir.com, dorar.net, carihadist.com, tafsirq.com, www.tafsir.web.id. dan masih banyak lagi website serta software yang bisa digunakan guna memudahkan akses para mahasiswa dan dosen serta peneliti untuk mencari data yang ia mereka inginkan. Caranya pun sangat lah simple dengan membuka salah satu website diatas lalu menuliskan keyword di kolom search atau pencarian kemudian akan muncul semua data yang berkaitan dengan keyword yang kita gunakan. Penggunaan Bahasa yang populer,singkat dan tidak terkesan bertele-bertele memiliki nilai lebih dalam kajian tafsir digital berbasis website. Hal itu, terlihat dari kemudahan akses dan penyebarannya yang begitu cepat.
Sebut saja ketika seorang peneliti ingin mencari kualitas sebuah hadist atau sering disebut dengan keshahihah hadist maka ia bisa mengakses di dorar.net. aksesnya pun sangatlah mudah serta sama saja dengan membuka beberapa kitab cetak yang semesti nya. Mentahqiq sebuah hadis pun dapat dilakukan dengan mudah yaitu melalui website carihadis.com. Begitupula ketika seorang peneliti ingin mencari asbabul nuzul sebuah ayat dari berbagai macam kitab tafsir melalui www.al-tafsir.com. Begitulah gambaran tafsir-hadis yang saat ini cukup memudahkan para peneliti,dosen bahkan mahasiswa mengakses bahan rujukan yang diperlukan. Transparansi data juga menjadi keunikan tersendiri dalam diskursus tafsir-hadis berbasis digital karena tidak akan ada pembodohan dan kebohongan akademik di kalangan intelektual.
Dengan cara yang seperti ini sangat lah bermanfaat bagi semua kalangan bahkan penulis sendiri pun melihat di era yang saat ini semua macam bentuk keilmuan pun mampu diakses dengan cepat dan baik tentunya dengan jaringan internet yang stabil. Namun penggunaan website serta software harus lah dipilah-pilih agar semua yang ingin kita kutip sesuai dengan standarisasi sebuah tulisan.
Wallahu A’lam.
Editor: An-Najmi


























Leave a Reply