Sebagai manusia yang diciptakan di muka bumi ini, masing-masing dari kita (manusia) telah membawa potensi masing-masing untuk dikembangkan. Termasuk potensi dan fitrah sebagai manusia yang beragama, sehingga orang tualah yang akan menjadikan anaknya memiliki keyakinan seperti apa yang dimiliki oleh kedua orang tuanya. Dalam pandangan Islam setiap manusia yang dilahirkan telah melakukan perjanjian dengan Allah bahwa akan menjalankan dan mematuhi ajaran Allah Swt, terlepas setelah anak itu lahir dia akan memilih agama apa, namun pada fitrahnya setiap anak itu merupakan seorang muslim.
Di lain sisi, manusia memiliki banyak dan tanggungjawab yang harus dilaksnakan sebagai wakil Allah di muka bumi ini. Termasuk menajdi khalifah serta menjalankan segala perintah Allah dan menajuhi segala larangannya. Hal demikian merupakan, sebuah keharusan umat manusia apalagi seorang muslim untuk benar-benar menjadi seorang muslim yang kaffah.
Selain itu, memahami agama khususnya Islam harus benar-benar memahami secara keseluruhan inti dari ajarannya tersebut. Sebab jika salah memahami bagian Islam itu, maka akan menghasilkan ajaran yang tidak sempurna, seperti apa yang dirisalahkan oleh Nabi Muhammad Saw. Maka jangan heran jika ada banyak, yang kemudian tampil di atas mimbar yang ceramahnya memprovokasi ataupun mengajak untuk berjuang dengan menggunakan jalur yang sudah disyariatkan oleh Islam, maka dapat dipastikan bahwa ia tidak memahami ajaran agama secara keseluruhan.
Itulah sebabnya belajar agama juga perlu mengetahui sanad keilmuan yang dijadikan sandaran. Karena ilmu pengetahuan dalam Islam itu akan selalu bersambung kepada para ulama-ulama yang memang benar-benar memiliki karomah sebagai ulama. Pentingnya sanad ini, agar kita tidak mudah terbawa arus pemahaman yang terlalu sempit mengenai Islam itu sendiri.
Pentingnya Belajar Agama
Dalam keyakinan Iman seorang muslim, belajar agama merupakan hal yang hukumnya wajib dilaksanakan. Karena agama pula menjadi, rambu-rambu dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia yang sifatnya sementara ini. Dengan belajar agama, kita mampu memahami mana yang baik dan yang buruk, halal dan haram, sunah dan wajib, bahkan dalam makan dna tidurpun Islam mengajarkan adab-adab yang itu bisa membuat kita menjadi manusia yang terbaik.
Sebagaimana dalam al-Qur’an dikatakan bahwa kita ini (manusia) merupakan umat terbaik. Maka jika ingin gelar itu tetap melekat terhadap setiap diri manusia, maka dengan belajar agama gelar tersebut akan selalu melekat diri setiap insan manusia, karena manusia bisa menajdi binatang jika ia tidak mampu membawa dirinya dengan baik yang diiringi pemahaman agama yang baik pula.
Agama itu bukan hanya sekadar memahami rukun Islam, rukun Iman melainkan bagaimana pemahaman agama yang dimiliki mampu memberikan efek atau manfaat yang begitu luar biasa bagi orang lain sebagaimana hadis nabi mengatakan “Jadilah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya” hal demikan memperjelas bahwa ajaran agama bukan hanya menajdi simbol bahwa kita seorang yang benar-benar paham agama, yang selalu berada di mimbar-mimbar Masjid, berceramah seperti para ulama terdahulu, namun kosong akan pengaplikasian dari pemahaman agama yang dimiliki.
Belajar agama akan menajdikan kita sebagai orang-orang yang memahami sesuatu bukan hanya pada ranah yang terlihat secara kasat mata, melainkan harus mampu merumuskan untuk jalan menuju perbaikan umat manusia. Itulah pentingnya belajar agama. Karena kita meyakini bahwa, agama merupakan alat penggerak masa yang cepat. Tak jarang para politisi menjadikan agama sebagai kendaraan politik untuk mencapai tujuan kelompoknya. Nah, agar hal itu tidak terjadi lagi, maka seluruh umat muslim harus belajar agama secara tuntas dan paham betul seluruh sendi-sendi agama. Tidak perlu menjadi ahli agama, cukup menjadi orang yang suka belajar agama saja itu sudah cukup.
Perkara Agama Serahkan Ke Ahlinya !
Tidak benar adanya jika Islam dianggap sebagai agama yang membatasi umatnya melakukan sesuatu yang menjadi keahliannya. Justru dalam ajaran Islam memberikan sesuatu perkara kepada ahlinya merupakan risalah yang disampaikan oleh Nabi, agar sesuatu perkara itu tidak menimbulkan keresahan. Hari ini, banyak kita temui suatu perkara yang di urusi oleh orang-orang yang tidak berkompeten. Misalkan contoh bagaimana seorang pemimpin akan mensejahterakan rakyatnya jika ia tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan. Sama halnya dengan fenomena yang terjadi belajar agama hanya sebentar dan tidak perna mengkaji kitab-kitab para ulama, sudah mampu memperkarakan persoalan ilahiya yang ia tidak memiliki keilmuan di dalamnya. Ceramah sudah melarang ini dan itu padahal realitasnya ia tidak memiliki keilmuan tersebut.
Nah inilah realitas yang terjadi, bahwa kurangnya pemahaman agama dan diberikannya seseuatu perkara bukan pada ahlinya, maka kehancuran dan huru-hara akan menimpa seluruh masyarakat dinegeri tersebut. Perpecahan akan muncul. Tidak ada lagi toleransi dan hidup rukun lkarena pemahaman agama yang terlalun skeptis dan tidak mau menerima pandangan orang lain. Dan bahkan kejadian ini bukan hanya menimpa dalam ajaran agama, perihal ilmu pengetahuan banyak lagi orang yang baru memahami beberapa poin penting dalam agama, sudah mampu berfatwa bahwa sesuatu hal yang ia kerjakan merupakan hal yang demikian sudah benar adanya, walaupun pandangan orang lain belum tentu sama.
Maka dalam ajaran Islam perbedaan pendapat dan pemahaman merupakan suatu perkara yang biasa saja, tinggal cara kita menyikapi perbedaan itu. Dan Islam selama ini tidak prna mempersoalkan perbedaan tersebut, justru perbedaan itulah yang akan menyatukan kita dalam ranah kemanusian.
Editor: An-Najmi Fikri R



























Leave a Reply