Petir merupakan gejala alam yang biasanya muncul pada musim hujan di saat langit memunculkan kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan. Kemudian beberapa saat baru disusul dengan suara menggelegar yang disebut guruh. Petir dalam Bahasa Arab disebut dengan الصواعق jamak dari الصاعقة yang mana dalam kamus al-ma’ani memiliki makna halilintar, petir. Sedangkan dalam kamus al-munawwir الصواعق diartikan petir. Kemudian dalam kamus lisan al-arab kata الصواعق bermakna ابو زيد: الصاعقة هو نار تسقط من السماء في رعد شديد (api yang mematikan dari langit bersama guruh yang keras). Dan dalam KBBI petir memiliki arti bunyi yang keras sekali di udara biasanya bersama-sama dengan kilat. Dalam al-qur’an lafadz tersebut disebutkan sebanyak 7 kali yaitu dalam QS al-Baqarah [2]: 19, 55, QS an-nisa’ [4]: 153, QS al-ra’d [13]: 13, QS adz-dzariyat [51]: 44, QS Fussilat [41]: 13, 17. Sebagaimana dalam FirmanNya QS al-Ra’d [13]: 13:
وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيبُ
بِهَا مَنْ يَشَاءُ وَهُمْ يُجَادِلُونَ فِي اللَّهِ وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ
“Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya.” (QS al-Ra’d [13]: 13)
Tafsir Petir dalam Al-Qur’an
Dalam tafsir muyassar telah dijelaskan bahwa guruh pun bertasbih untuk memuji dengan rasa penuh ketundukan serta kepatuhan. Mahasucilah dzat yang disucikan dari segala kekurangan dan pujian dari makhluknya. Malaikat pun juga ikut bertasbih kepada-Nya, mensucikan, memuji, dan bersyukur kepada-Nya karena ada rasa takut terhadap kekuatan dan keagungan-Nya. Allah Swt lah yang mengirim halilintar menyambar yang membakar, memusnahkan serta menghancurkan makhluk yang dikehendakinya. Dan telah adanya tanda-tanda yang nyata ini, kau masih saja mendapati orang-orang kafir yang masih berbantah-bantahan dengan sifat, ayat, dan risalah Allah SWT, dan mereka masih meragukannya serta memusuhi rasul-rasulnya. Sesungguhnya Allah SWT itu memiliki daya, kekuatan, serta keperkasaan yang sangat Hebat tatas musuh-musuhnya, dan siksa-Nya sangatlah Dahsyat.
Sedangkan menurut ‘Aidh al-Qarni; dalam kitab Tafsirnya yang berjudul tafsir fi zhilalil Qur’an menjelaskan bahwa petir merupakan salah satu bagian dari fenomena alam. Di mana; suara yang gemerincing dan menggelegar merupakan sebuah fenomena alam yang telah diciptakan oleh Allah SWT bagaimana tabiat dan sebab-sebabnya. Ia mengingatkan kembali penciptaan Allah terhadap alam semesta ini, ia adalah pujian dan tasbih terhadap kekuasaan yang mambuat aturan ini, sebagaimana setiap ciptaan yang indah dan rapi bertasbih; dan menyatakan pujiannya kepada sang pencipta. Dan petir bertasbihnya dalam bentuk perbuatan dengan memuji Allah SWT.
***
Pemandangan tersebut adalah pemandangan makhluk hidup dalam nuansa kealaman, disana terdapat malaikat yang bertasbih karena takut kepada Allah SWT; ada do’a kepada Allah dan kepada sekutu-sekutu selain Allah SWT. Serta ada juga orang yang membentangkan telapak tangannya ke air; agar mampu untuk menyampaikan air itu kedalam mulutnya yang sudah barang tentu tidak dapat menyampaikannya. Dan ditengah pemandangan orang yang sedang berdo’a, beribadah serta bergerak ini juga telah disertakan pembahasan tentang petir, yang mana seolah-olah itu dia juga bertasbih dan berdoa.
Jadi petir bukan hanya sekedar fenomena alam atau gejala alam saja, namun adanya petir merupakan tanda-tanda Kekuasaan dan kebesaran Allah serta menunjukkan bahwa petir merupakan ciptaan Allah yang senantiasa bertasbih kepada Allah. Hal ini juga menunjukkan bahwa para Malaikat sedang bertasbih kepada Allah. Karena mereka memiliki rasa takut kepada Allah. Sedangkan Allah akan mengirimkan kepedihan akibat dari sambaran petir tersebut kepada orang-orang yang mengingkariNya.
Petir dalam Segi Sains
Petir merupakan gejala alam yang bisa kita analogikan dengan sebuah kondensator raksasa, di mana lempeng pertama adalah awan (lempeng negatif atau lempeng positif) dan lempeng kedua adalah bumi (netral). Seperti yang sudah diketahui kapasitor adalah sebuah komponen pasif pada rangkaian listrik yang bisa menyimpan energy sesaat. Petir juga dapat terjadi dari awan ken awan, di mana salah satu awan bermuatan negatif dan awan lainnya bermuatan positif. Petir merupakan suara udara yang mengembang dengan sangat cepat dan menghasilkan gelombang kejut seiring dengan pemanasan udara tersebut hingga 30.000 C (54.000 F) dalam waktu sepersekian detik.
Proses terjadinya petir adalah disaat muatan pada awan ketika dia bergerak terus menerus teratur, dan selama pergerakannya dia akan berinteraksi dengan awan lainnya. Sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah). Sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya. Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi atau sebaliknya untuk mencapai keseimbangan. Pada proses pembuangan muatan ini, media yang dilalui electron adalah udara. Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi ledakan suara. Petir lebih sering terjadi pada musim hujan, karena pada keadaan cuaca tersebut udara mengandung kadar air yang lebih tinggi; sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif, oleh karena itu petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan.
***
Petir selalu berusaha jalan yang tersingkat agar sampai ke bumi. Oleh sebab itu gedung-gedung tinggi, pohon-pohon tinggi, bahkan orang yang berdiri di tengah lapangan terbuka saat hujan akan menjadi sasaran petir. Menurut Beiser Artur, bahwa mekanisme terjadinya petir dan Guntur adalah dimulai dari terjadinya petir akibat adanya perpindahan muatan negatif ke muatan positif. Petir yang merupakan lompatan bunga api dengan volume besar antara dua masa dengan muatan listrik yang berbeda.
Petir terjadi minimal memiliki dua sambaran. Di mana sambaran pertama bermuatan negatif yang mengalir dari awan ke tanah. Biasanya sambaran kilat ini memiliki percabangan yang dilihat keluar dari jalur kilat utama. Dan sambaran kedua yang bermuatan positif terbentuk dari dalam jalur kilat utama yang langsung keluar menuju awan. Kilat yang terbentuk turun sangat cepat ke bumi dengan kecepatan 96.000 km/jam. Sambaran pertama mencapai titik permukaan bumi dalam waktu milidetik dan sambaran kedua dengan arah berlawanan menuju awan dalam tempo 70 mikrodetik setelahnya.
Editor: An-Najmi




























Leave a Reply