Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tazkiyatun Nafs Sebagai Solusi Krisis Identitas

nafs
Sumber: istockphoto.com

Tazkiyatun Nafs berasal dari dua kosa kata yaitu Tazkiyatun dan An-Nafs. Kata Tazkiyatun berasal dari kata Zaka yang diberi tambahan huruf kaf, sehingga menjadi Zakka,Yuzakki,Tazkiyatan/Tazkiyatun yang berarti menumbuhkan, mengembangkan, memperbaiki, membersihkan, mensucikan dan menjadikannya jadi baik serta bertambah baik. An-Nafs bisa berarti diri sendiri, seperti pada kalimat “Ja a Huwa Nafsuhu” artinya dirinya sendiri yang datang, bukan wakil atau siapa dan apa-apanya (lihat Al-Mu’jamul Wasith, halaman 940).

Kata An-Nafs dalam bentuk tunggal dan jamak di dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 306 kali. Jadi secara etimologis tazkiyatun nafs berarti membersihkan jiwa, memperbaikinya dan menumbuhkannya agar menjadi semakin baik serta mengembangkan potensi baik jiwa manusia. Dan pada hakikatnya, krisis identitas menjadikan seseorang tidak memiliki konsep dan citra diri yang berdampak pada kesulitan untuk mengambil keputusan dan menentukan sikap. Kesulitan bertindak dalam rangka aktualisasi diri. Kondisi seperti ini menjadikan seseorang tidak bisa mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk menunjang tugas-tugas kehidupan, dan tidak mampu menyikapi dan mengatasi problematika diri dan masyarakat. Sehingga kehadirannya cenderung menjadi beban sosial, bukan dinantikan oleh masyarakat sekitarnya.

Krisis Identitas Generasi Milenial Islam

Perlu kita ketahui bersama bahwa persoalan krisis identitas selalu menjadi persoalan yang tak usang dan selalu dibicarakan pada setiap zamannya. Generasi muda saat ini telah banyak mengalami kemerosotan moral. Remaja kini berperilaku agresif terhadap sesuatu dan menghalalkan segala cara untuk memperlihatkan eksistensinya. Norma-norma sosial yang ada di masayarakat sudah tidak di indahkan. Mereka berjalan sesuai dengan ego dan keinginannya hingga seringkali tidak mampu memikirkan dampak yang dihasilkan.

Kemerosotan moral yang dialami oleh remaja itu dilatarbelakangi oleh banyak faktor, baik dari keluarga maupun pergaulan. Indikasi ini ditunjukkan oleh maraknya kenakalan remaja. Peristiwa ini sering kita lihat dan dengar melalui berita di media massa maupun media sosial khususnya di Jawa Barat. Kenakalan remaja kini seperti tawuran, perkelahian,pencurian, penyalahgunaan narkoba, seks bebas hingga menyebabkan hamil di luar nikah.

Baca Juga  Kontroversi Puisisasi Al-Qur’an Bacaan Mulia karya H.B. Jassin

Kemudian fenomena yang terjadi selanjutnya ialah sikap individualistik dan egoistik bersifat antisosial dan merusak (destruktif) bagi individu dan masyarakat. Ini akan menyulitkan upaya-upaya untuk rekayasa sosial dan peradaban. Sikap ini menjadikan seseorang cenderung menguntungkan kepentingan diri sendiri dan menang, tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain dan dampaknya bagi masyarakat luas.

Tantangan Generasi Milenial

Individualisme generasi milenial seringkali dikaitkan dengan penggunaan teknologi yang berlebihan, sebut saja pemakaian media sosial. Sering disebutkan bahwa media sosial dan teknologi adalah penyebab seseorang menjadi manusia individual. Media sosial telah meningkatkan kolaborasi masyarakat Indonesia. Bukan media sosialnya yang salah melainkan penggunanya yang tidak bijak dalam menggunakan. Jadi disini pemikiran pengguna lah yang harus diubah. Media sosial dapat menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Jaringan jadi lebih luas, perdagangan lebih efisien, pendidikan dapat dilakukan dimana saja, dan masih banyak lagi keberhasilan yang dapat dicapai dari penggunaan media sosial.

Pesatnya teknologi secara langsung maupun tidak langsung memberikan efek pada tumbuh kembang generasi muda di era millenial dan Generasi Z ini. Kemajuan di bidang pendidikan, didukung oleh teknologi yang membuat ilmu pengetahuan semakin mudah untuk diakses siapa saja, pada bidang kesehatan kemajuan teknologi membawa angin segar bagi pengobatan yang zaman dulu dianggap mustahil kini menjadi bisa diobati dan sejumlah dampak positif lainnya. Namun, era disrupsi juga membawa sejumlah dampak negatif, salah satunya kemerosotan moral remaja. Kemorosotan moral yang sangat tajam tercermin dari meningkatnya jumlah kejahatan yang dilakukan oleh remaja. Lebih banyak menghabiskan waktu dengan dengan smartphone dan sosial medianya. Sejumlah informasi dan konten yang tersebar di media sosial dan di internet terlalu banyak dan bias, jika tidak tersaring dengan benar maka menjadi konten yang membahayakan seperti konten pornografi, kekerasan, dan kriminalitas.

***

Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), tercatat bahwa sejak tahun 2017 ada sebanyak 22 laporan masalah, selain itu ada 46 yang terlibat masalah kecanduan dan penyalahgunaan narkoba. Anak-anak yang terlibat masalah hukum di usia di bahwa 18 tahun sebanyak 87 orang, serta terdapat 1,6 juta anak yang menjadi pengedar narkoba. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kemenkess RI sebagian besar anak sudah ‘berpacaran’ di usia 15-17 tahun dengan 33% sudah berpacaran di usia kurang dari 15 tahun. Fenomena LGBT juga menjadi tren di kalangan remaja. Seks bebas juga menjadi fenomena yang meradang bahkan wajar. Berdasarkan data yang diperoleh Indoneisan Police Watch (IPW) pada Januari 2018 sebanyak 54 bayi dibuang di Indonesia. Jumlah ini dua kali lebih banyak dari periode yang sama di tahun 2017.

Baca Juga  Hari Santri: Momentum Meneguhkan Kembali Keutuhan NKRI

Sepanjang tahun 2017, kasus serupa telah banyak dijumpai, ada sebanyak 179 kasus bayi yang ditelantarkan atau dibuang di jalan maupun di sungai, di antaranya, 79 bayi tewas, terdapat 10 yang masih dalam bentuk janin, sedangkan sisanya yaitu sejumlah 89 bayi berhasil diselamatkan. Fakta tersebut cukup memprihatinkan. Majunya teknologi dan pendidikan malah memicu krisis moral. Jika diabaikan, maka tidak mustahil kenakalan remaja akan semakin meningkat, remaja akan terus melakukan hal-hal tidak bermoral karena mereka tidak merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang salah.

Mereka tidak lagi mempertimbangkan apa yang mereka lakukan, terlebih lagi mereka tidak akan melihat penyebab masalah mereka dari sudut pandang agama. Sebagai subsistem dari sistem pembangunan nasional, pendidikan Islam harus mewujudkan tujuan pendidikan nasional secara utuh, sedang sebagai bagian integral daripada pembangunan nasional pendidikan Islam harus pula berperan secara aktif dalam upaya mengatasi krisis moral ditengah masyarakat.

Bagaimana Pendidikan Karakter Islam Hadir Sebagai Solusi yang Solutif?

Tentunya kita perlu terlibat dan mengambil peran dalam hal ini, pembentukan jati diri seseorang harus dimulai seawal mungkin; salah satu bentuk ikhtiar yang dilakukan kita yaitu dengan membangun kesadaran kolektif dalam hal tazkiyatun nafs. Hal ini merupakan langkah pertama untuk memberikan landasan yang kokoh terhadap pertumbuhan kepribadian seseorang. Untuk selanjutnya kedirian tersebut harus dijaga dan dikembangkan secara teratur; dan berkesinambungan dengan berbagai rangsangan sosial dan psikologis, baik secara terprogaram dalam proses pendidikan maupun secara alamiah dalam kehidupan masyarakat. Sehingga kita mampu meniminalisir bahkan memutuskan rantai segala perilaku kemungkaran, Maka kita akan termasuk orang-orang yang beruntung.

Sebagaimana Allah Berfirman :

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Baca Juga  Merasa Hidup Sia-sia, Bagaimana Sebaiknya ?

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang; yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 104)

Dan tentunya Hal ini selaras dengan apa yang dicita-citakan oleh Muhammadiyah yang konsen berjuang dalam dakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Baik di lingkup Pendidikan formal maupun Non Formal.

***

Jati Diri, berpikir mengenai dirinya sendiri adalah aktivitas manusia yang tidak dapat dihindari. Pada umumnya, secara harfiah orang akan berpusat pada dirinya sendiri. Sehingga self (diri) adalah pusat dari dunia sosial setiap orang. Sementara, seperti yang telah kita ketahui, faktor genetik memainkan sebuah peran terhadap identitas diri; atau konsep diri yang sebagian besar didasari pada interaksi dengan orang lain yang dipelajari dimulai dengan anggota keluarga terdekat kemudian masuk ke interaksi dengan mereka di luar keluarga. Jadi konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi , sosial dan fisik. Konsep ini bukan hanya gambaran deskripstif, tetapi juga penilaian tentang diri. Jadi konsep diri meliputi apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan tentang diri.

Menurut Hurlock konsep diri ialah konsep seseorang dari siapa dan apa dia itu. Konsep ini merupakan bayangan cermin, ditentukan sebagian besar oleh peran dan hubungan orang lain, apa yang kiranya reaksi orang terhadapnya. Konsep diri ideal ialah gambaran mengenai penampilan dan kepribadian yang didambakannya. Maka daripada itu, pelatihan ini merupakan bentuk ikhtiar untuk tetap menghadirkan jati diri pada setiap pelajar dan menjadikan Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah.

Editor: An-Najmi