Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Merasa Hidup Sia-sia, Bagaimana Sebaiknya ?

Dalam beberapa momen tertentu, seseorang merasa bahwa hidupnya sia-sia. Seolah segala hal yang dilakukan, semua usaha dan kerja keras yang dilakukan sejak hadir ke dunia hingga hari itu tidak bermanfaat sama sekali dalam hidupnya. Sehingga dalam kondisi seperti ini, seseorang merasa bahwa hidupnya tidak ada artinya lagi, sehingga menjadikannya menyesal dan meratapi hidupnya. Lalu bagaimana jika seseorang mengalami kondisi seperti ini ?

Pertama, Takdir Telah Tertulis

Sebagai seorang muslim, salah satu pilar keyakinan yang harus selalu ada dalam dirinya adalah bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan telah tertulis sebagai ketetapan takdir, dan menjadi kebijaksanaan Allah atas dirinya. Keimanan pada takdir ini bukan kemudian menjadikan seseorang hanya berdiam tanpa usaha, atau bahkan tanpa ambisi untuk mengejar sesuatu yang bermanfaat baginya.

Melainkan dengan keimanan pada takdir ini pula seseorang harus berkeyakinan bahwa tiada sesuatu yang perlu disesalkan, dan jalan keluar itu akan selalu ada. Karena tidaklah Allah menggariskan takdir seseorang kecuali dengan pengetahuan-Nya yang luas dan hikmah yang tepat.

Kedua, Pilihan Kehidupan

Setiap orang sebelum lahir ke dunia tidak bisa memilih jalan kehidupan seperti apa yang akan dijalani, begitu juga lahir di keluarga seperti apa, keluarganya juga tidak bisa menentukan anak seperti apa yang akan dilahirkan sebagai generasi penerus. Setiap orang terbentuk dengan lingkungan yang berbeda, potensi kekurangan dan kelebihan yang berbeda, dan jalan cerita kehidupan yang berbeda pula.

Ketiga, Setiap Orang Diuji

Semua orang setiap harinya selalu menghadapi ujian yang berbeda, kejutan yang berbeda, hari-hari yang sama-sama berat, dan Allah menentukan ujian itu sesuai kadar kemampuan setiap orang, dan Allah yang lebih tahu tentang itu.

Baca Juga  Urgensi Mempelajari Ilmu Tahsin dalam Membaca Al-Qur'an

Keempat, Waktu Tidak Bisa Diulang

Tidak ada satu orangpun dari Nabi dan Rasul yang memiliki mukjizat mengulang kembali waktu. Karena jika Allah berkehendak, mukjizat itu bisa saja diadakan. Ini menunjukkan pentingnya setiap orang (secara khusus umat Islam) untuk menghargai dan memanfaatkan setiap waktu yang ada untuk beramal kebaikan dan apapun yang bermanfaat untuk dirinya di dunia dan akhirat.

Kelima, Menatap Masa Depan

Manusia yang beriman adalah manusia yang berpikir. Jika dalam perjalanan hidupnya dirinya sadar bahwa banyak hal yang perlu diperbaiki, maka masih ada waktu untuk memperbaiki kondisi tersebut di esok hari.

Tentu dengan melakukan koreksi dan perenungan diri dimana dirinya lebih mengetahui apa yang perlu diperbaiki dalam dirinya. Tentu dengan perencanaan yang matang dan detail, dan tentu saja dengan bertawakkal kepada Allah, dengan senantiasa berprasangka baik akan ketetapan-Nya.

Hari-hari berat yang dialami tidak kemudian bermakna bahwa kehidupan seseorang itu menjalani kehidupan yang buruk, melainkan agar dirinya menjadi lebih seiring melakukan koreksi dan menjadi lebih baik di setiap harinya.

Seorang yang memiliki minat di bidang sejarah, dakwah dan pendidikan Islam. Memiliki keseharian sebagai peneliti dan penulis di ketiga bidang yang menjadi minatnya. Monggo, silaturrahmi di media sosialnya.