Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Siapakah Ulama Yang Paling Tepat Menafsirkan Al-Quran?

ulama
Sumber: islami.co

Beberapa di antara kita mungkin telah banyak melihat bagaimana para ulama memiliki perbedaan pendapat dalam menafsirkan suatu ayat. Seperti contohnya perbedaan di antara para ulama yang menafsirkan frase “Jannah” dalam kisah Nabi Adam AS. Apakah yang dimaksud adalah surga yang Allah janjikan untuk orang-orang bertakwa, atau ia hanya sekedar taman dunia yang begitu indah? Hal-hal seperti ini dapat kita temukan dalam berbagai permasalahan, baik dalam masalah aqidah maupun fiqih, ayat muhkamat ataupun mutasyabihat. Lantas muncullah sebuah pertanyaan “Jika demikian, maka pendapat mana yang harus kita pegang? Siapa ulama yang paling tepat menafsirkan Al-Quran?”

Sifat Mukjizat Al-Qur’an

Sebelum menjawab hal ini kita perlu terlebih dulu mengetahui sifat dari Al-Quran selaku mukjizat terbaik yang Allah Turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Pertama, dalam buku Qashasul Quranul Karim dikatakan bahwa mukjizat para Nabi terdahulu adalah mukjizat yang dapat dirasakan dengan panca indera, seperti peristiwa Nabi Musa membelah laut, Nabi Ibrahim yang tidak mempan dibakar, dan lain sebagainya. Dampaknya, mukjizat ini sifatnya temporal alias tidak abadi, dan kemukjizatannya hanya akan dirasakan oleh orang-orang yang hidup pada masa itu saja.

Sedangkan Al-Quran adalah mukjizat yang bisa tepat dirasakan menggunakan akal pikiran yang sehat, dari sanalah setiap manusia yang berakal pasti dapat merasakan kemukjizatan Al-Quran, terlepas kapan dan dimana mereka hidup. Kedua, al-Quran turun sebagai petunjuk untuk seluruh manusia [hudan linnas]. Al-Quran tidaklah turun dikhususnya hanya untuk bangsa arab, tapi juga bangsa ajam. Tidak hanya untuk orang berkulit putih, tapi juga berkulit hitam. Tidak untuk mereka yang kaya, tapi juga mereka yang dicukupkan rizkinya oleh Allah. Ketiga, al-Qur’an turun dalam bahasa arab sebagai bahasa manusia yang paling kaya akan makna dan juga lafazh.

Baca Juga  Syawal dan Halal bi Halal

***

Dari tiga sifat inilah mengapa kita menemukan perbedaan tafsir di antara para ulama. Alasan terjadinya perbedaan ini disebabkan tepat perbedaan analisa ayat diantara mereka, karena sebagian ulama ada yang menitikberatkan kajian tafsirnya pada kajian sejarah, ada yang lebih menekankan pada filosofi makna sebuah kata, ada juga yang menggunakan rasio untuk menemukan konektifitas diantara satu ayat dengan ayat lain, dan masih banyak lagi. Lantas kembali ke pertanyaan awal, siapa yang harus kita ikut pendapatnya? Jawabannya tergantung, tafsir mana yang membuat kita semakin bertakwa? Kita harus memahami bahwa tidak ada satu manusiapun yang dapat menyingkap makna hakiki dari keseluruhan Al-Quran. Allah mengisyaratkan hal ini di dalam Firmannya:

الم (1) ذالك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين

“Alif Lam Mim, Kitab Itu tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa”

Kenapa ayat ini menggunakan frase Dzalika yang bermakna “itu”, dan bukan menggunakan frase Hadza yang bermakna “ini”? Para ulama menyebutkan bahwa ayat ini mengisyaratkan hakikat Al-Quran yang begitu jauh ditangkap oleh akal pikiran manusia, sehingga tiada jalan yang dapat kita lakukan untuk menyingkap tetesan hikmahnya selain dengan bertakwa. Apa hubungannya? Karena Allah berfirman

واتقوا الله ويعلمكم الله

“Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan senantiasa mengajarkanmu ilmu”

Mufasir yang Paling Tepat

Para penafsir Al-Qur’an yang bisa kita ketahui sekarang adalah orang-orang yang memiliki tingkat ketakwaan yang tinggi. Mereka adalah para penghafal Quran, mereka juga hafal ribuan hadits, menguasai berbagai ilmu, berakhlak mulia dan juga berhati bersih. Sehingga sudah bisa dipastikan banyak sekali ilmu yang telah Allah ajarkan kepada mereka, dan sangat kecil kemungkinannya jika mereka menuliskan kitab dengan hawa nafsu. Itulah sebabnya tidak masalah bagi kita untuk mengikuti tafsir ulama manapun, karena inti dari membaca tafsir adalah untuk meningkatkan ketakwaan diri kita kepada Allah SWT. Al-Quran yang bersifat multi-tafsir ini sering dijadikan bahan olokan oleh orientalis .

Baca Juga  Memahami Kata Huda dalam Al-Qur’an Serta Derivasinya

Padahal, fleksibilitas pemaknaan yang disebabkan karena keumuman lafazh-lafazh yang digunakan Al-Quran membuatnya bisa tetap relevan dengan perkembangan zaman. Maka perbedaan tafsir adalah keniscayaan, dan mengikuti salah satu penafsiran bukanlah sebuah kesalahan. Hal yang terpenting adalah kita bukan hanya sekedar membaca tafsir, tapi akan lebih baik juga jika kita memahami latar belakang dan cara berpikir mufassir; yang kita jadikan pegangan sampai bisa menghasilkan penafsiran tersebut. Jadi, tepat alangkah baiknya jika kita tidak melihat perbedaan itu sebagai sebuah pertentangan, tapi sebagai pelengkap yang menyempurnakan satu sama lain. Tidak ada seorangpun yang dapat melihat gambaran sempurna hanya dengan berpegang pada satu kepingan puzzle. Maka Al-Quran pun demikian, kepingan puzzle tafsir yang bertebaran ini akan membentuk satu gambaran yang lebih utuh jika kita mau mendedikasikan waktu untuk menghubungkannya satu sama lain.

Editor: An-Najmi