Pembahasan tentang manusia, sangat luas cakupannya. Mulai dari aspek biologis, psikologis, antropologis hingga metafisis. Akan tetapi, tulisan ini mengkaji bagaimana Al-Qur’an yang sebagai kitab suci memperkenalkan manusia?
Istilah Manusia dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an menyebut manusia menggunakan beberapa istilah. Di antaranya adalah basyar, insan dan nas. Sekalipun kata tersebut bermuara pada makna manusia. Tetapi berbagai istilah tersebut mengandung pemahaman yang berbeda-beda.
Kata basyar di dalam al-Qur’an menunjukkan bahwa manusia merupakan makhluk yang mempunyai nafsu lahiriyah; seperti makan, minum, seks, dan usaha pemenuhan kebutuhan biologisnya. Istilah basyar meliputi semua manusia di bumi ini.
Mengenai istilah Al-Ins, menunjukkan sifat kelembutan manusia. Kata ini berkebalikan dengan Al-Jin (kesamaran yang seram atau kebuasan).
Ketiga, kata insan. Istilah ini merupakan perkembangan dari Al-Ins yang menjadikannya manusia secara utuh. Kata ini menunjukkan totalitas aktivitas manusia. Dari sini, Al-Insan menunjukkan manusia yang menerima beban taklif dan amanah di muka bumi; yang menempatkan dirinya sebagai khalifah.
Keempat, kata nas. Kata ini menunjukkan sifat dan karakter kelompok sosial pada manusia.
- Sifat kelompok manusia : syukur, kufur, dermawan, pelit, dan lain-lain.
- Karakter kelompok sosial : kelompok mukmin, musyrik dan lain-lain.
Kelima, bani adam. Kata ini memperkenalkan bahwa manusia adalah keturunan dari Nabi Adam. Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia pertama di muka bumi ini adalah Nabi Adam.
Proses Penciptaan Manusia Dalam Al-Qur’an
Dalam memperkenalkan manusia, Al-Qur’an juga menjelaskan proses penciptaan manusia. Dijelaskan dalam surah Al-Mu’minun: 67-68, yang artinya,
“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani. Sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa). Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). Dialah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.
Berdasarkan ayat di atas, Al-Qur’an membagi proses penciptaan manusia menjadi dua tahapan yaitu tahap primordial dan biologi.
Tahapan Primordial
Pada tahapan ini dijelaskan bahwa manusia diciptakan pertama kali dari saripati tanah dan diberikan ruh dengan bentuk yang sempurna.
Tahapan Biologi
Tahapan ini menjelaskan proses penciptaan fisik manusia mulai dari air mani hingga menjadi janin dalam kandungan. Proses ini terdiri dari berbagai fase yaitu
- Nuthfah (Air Mani)
Dalam tafsir Al Misbah, nutfah diartikan sebagai pancaran mani yang keluar dari alat kelamin pria dan mengandung ratusan juta benih yang dikenal sebagai sperma.
2. Alaqah (Segumpal darah)
Alaqah artinya darah yang menggumpal dan kental yang menggantung pada dinding rahim. Untuk menjadi segumpal darah diperlukan waktu 40 hari setelah bertemunya sperma dan sel telur. Dari proses tersebut, menghasilkan sel tunggal yang dikenal sebagai zigot yang berkembang menjadi gumpalan daging.
3. Mudgah (Segumpal daging dan dibalut dengan tulang belulang)
Mudgah adalah segumpal daging atau tempat pembentukan janin. Fase ini dimulai kira-kira pada minggu keempat masa kehamilan yang merupakan awal pembentukan anggota tubuh manusia mulai dari kepala, tubuh, hingga kaki, yang berasal dari segumpal daging menjadi tulang-tulang rawan.
4. Insya (Peniupan ruh)
Allah meniupkan ruh di dalam janin sehingga ia menjadi makhluk berbentuk lain yang mempunyai pendengaran, penglihatan, rasa, akal, dan juga gerakan. Peniupan roh oleh Allah merupakan puncak dari segala proses penciptaan manusia. Sebab fase ini menandakan adanya sesuatu yang dianugerahkan kepada manusia yang menjadikannya berbeda dari makhluk ciptaan Allah lain-Nya.



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.