Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kebahagiaan Sejati: Merawat Koneksi dengan Allah

kebahagiaan sejati
Sumber: https://www.pinterest.com/

Setiap manusia pasti berharap bahagia dalam menjalani kehidupan di dunia. Kebahagiaan sejati. Baik secara individu maupun kelompok keluarga. Allah memberikan pedoman kepada manusia yang mengantarkan manusia pada kebahagiaan sejati dalam menjalani kehidupan. Yang ternyata bukan hanya kehidupan dunia semata, tapi juga di setiap tempat seperti ruang yang di pijak. Bahkan waktu yang dilalui baik di dunia hingga di akhirat kelak.

Al-Qur’an menjelaskan ragam kebahagiaan yang diperuntukkan untuk seluruh manusia. Ada kebahagiaan yang berkaitan dengan amalan seperti ibadah spritual dan kepedulian sosial. Selain itu, ada juga yang berkenaan dengan pemanfaatan waktu dan tempat untuk kebahagiaan.

Al-Qur’an Menunjukkan Kebahagiaan yang Sebenarnya

Al-Qur’an menyadarkan tentang kebahagiaan sejati yang berpindah dari kebahagiaan relatif. Tentunya relatif kembali kepada prespektif masing-masing berdasarkan pengalaman-pengalaman yang membahagiakan. Untuk pemain sepak bola, kebahagiaan bisa hadir dengan bermain sepak bola. Adapun seorang arsitektur, kebahagiaan itu hadir ketika mendesain bangunan tertentu hingga terwujud. Untuk seorang ilmuwan, kebahagiaan itu hadir ketika dia berhasil menemukan karya  fenomenal. Kebahagiaan inilah yang pada akhirnya menjadi relatif jika diambil dari teori-teori manusia, karena mengacu pada pengalaman dan latar belakang yang merasakan.

Al-Qur’an hadir untuk mengajarkan manusia kebahagiaan sejati yang telah disediakan oleh Allah. Ada beberapa amal yang dapat mengantarkan manusia kepada kebahagiaan yang sejati. Allah membuka Al-Qur’an dengan detail rincian yang dimulai dengan surah al-baqarah setelah menyampaikan intisari Al-Qur’an pada surah al-fatihah.

Dalam pembuka surah al-baqarah ayat 1-5, Allah menyampaikan kepada manusia berbagai macam amalan yang sejatinya mengantarkan pada kebahagian yang sebenarnya. Di ayat 5 nya termaktub :

اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Baca Juga  Kecerdasan IQ, EQ, dan SQ Dalam Tinjauan Al-Qur’an

Jadi ayat ini ingin menyampaikan bahwa ada di antara orang-orang yang mereka itu senantiasa dinaungi oleh Allah. Setiap kehidupan mereka pasti Allah berikan bimbingan dan petunjuk. Jika dianalogikan seperti keadaan manusia di dunia, misal manusia yang dibimbing dengan mentor saja, bisa jadi tugas dan pekerjaannya menjadi mudah. Apalagi jika manusia yang dibimbing secara langsung oleh Allah, maka tidak ada kesulitan bagi Allah. Rezeki datang dengan mudah, pengetahuan datang dengan cepat, begitu pun aspek-aspek lain yang diharapkan. Semua itu secara otomatis akan mengantarkan manusia pada kebahagiaan sejati menurut prespektif Al-Qur’an.

Rincian Kebahagiaan Sejati dalam Al-Qur’an

Ternyata Allah memberikan rincian amalan dan perbuatan yang tepatnya itu di awal surah al-baqarah itu yang mengantarkan pada kebahagiaan yang sebenarnya, berikut rinciannya.

Pertama, kebahagiaan itu harus di mulai dengan keyakinan yang paripurna. Jadi jika ingin bahagia, manusia itu harus yakin jangan pernah ragu untuk menyiapkan langkah-langkah positif yang melahirkan kebahagiaan itu. Puncak keyakinan itu adalah ketangguhan untuk menautkan segala bentuk harapan apapun itu kepada Sang Pencipta Allah. Walaupun belum tampak di hadapan manusia atau ghaib sifatnya. Tetapi karena kuat keyakinan yang di gantungkan secara totalitas kepada seluruh ketetapan Allah, maka sikap positif ini adalah pengantar menuju kebahagiaan yang sebenarnya.

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

Yakin tanpa ragu sedikitpun dengan menekankan seluruh harapan kepada Allah inilah yang disebut iman. Keimanan yang sejati akan memberikan jaminan pengantar pada kebahagiaan. Orang beriman disebut “mu’min” jamaknya “mu’muninun” dijadikan nama surah ke-23 sesuai namanya yaitu al-mu’muninun yang artinya orang-orang beriman. Pada ayat pertama:

قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.”

Konektivitas dengan Allah

Kedua, setelah penuh keyakinan secara paripurna. Kemudian membangun konektivitas dengan Allah, tidak cukup hanya dengan yakin tapi di buktikan dengan mendekat kepada Allah. Manusia yang dekat dengan penguasa sangat rasional jika dia mudah mendapatkan akses-akses yang difasilitasi oleh penguasa tersebut. Lalu, coba sekarang kita korelasikan dengan Allah, jika manusia itu dekat dengan Allah, pasti semua diberikan, karena Allah yang mengusai segalanya tanpa batas.

Baca Juga  Peran Orang Tua dalam Mendidik Moral Anak Perspektif al-Qur’an

Membangun konektivitas dengan Allah, berarti menyambungkan diri sehingga membangun kedekatan yang spesial dengan Allah. Hal ini dapat dilakukan dengan salat, ini disebutkan di lanjutan potongan ayat 3 al-baqarah sebelumnya.

وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ

Salat yang asal akar kata“washala-yashilu-shilatan” kemudian ada yang menjadi “salatan” yang secara kebahasaan bermakna esuatu yang tersambung dengan erat. Salat juga dapat diartikan dengan doa, karena ketika berdoa posisi manusia sedang tersambung erat dengan Allah. Disebut ibadah salat juga karena melatih diri manusia agar tersambung erat dengan Allah. Maka dari itu seluruh dalam salat, baik mulai dari gerakan hingga bacaan yang ada dalam salat, seluruhnya membangun hubungan kedekatan dengan Allah. Dan harapannya pasca salat, dengan itu manusia menjadi terkoneksi dengan Allah.

Ketiga, untuk menempuh kebahagiaan itu yaitu disebutkan dalam ayat selanjutnya:

وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Dan juga antusias dalam kepudulian sosial, senang berbagi dalam berbagai bentuk. Ini adalah bukti kepedulian sosial dengan memperhatikan orang-orang yang layak. Bukan masalah jumlah berapa yang diberikan tetapi dengan niat yang tulus itulah yang memberikan jalan menuju kebahagiaan sejati.

Keyakinan Kitab Terdahulu

Keempat, yaitu meyakini apa yang telah diturunkan (Al-Qur’an) kepada Rasul itu adalah kebenaran. Sebagaimana ayat berikut:

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ

Dibuktikan melalui interaksi dengan Al-Qur’an karena hal ini mendatangkan ketenangan. Dalam surah al-hijr ayat 9 Allah menyebutkan bahwa Al-Qur’an yang di turunkan itu sebagai dzikir. Kemudian surah ar-ra’d ayat 28 menyebutkan bahwa hanya dengan berdzikir akan membuat hati tenang. Maka berintraksi dengan Al-Qur’an adalah bentuk berdzikir dan inilah yang akan mendatangkan kebahagiaan yang sebenarnya.

Kelima, yaitu meyakini juga bahwa benar adanya apa yang diturunkan sebelum Al-Qur’an seperti taurat, injil sebagai berikut:

Baca Juga  Upaya Pengembangan Sumber Daya Manusia Perspektif Al-Qur'an

وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ

Tentunya, agar bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah masa lalu. Karena semua pernah terjadi di masa lalu hingga menjadi inspirasi untuk bertindak dan dengan mempelajari kisah-kisah terdahulu untuk mendatangkan kebahagiaan.

Rincian amalan terakhir keenam, yaitu:

وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

Puncaknya yaitu harus yakin dengan kehidupan akhirat. Yakni sering-sering mengingat kehidupan akhirat. Bukan tentang kapan kita berpulang ke akhirat, tapi dalam keadaan apa kita berpulang kelak. Maka Allah memberikan rincian amalan tersebut agar ada harapan untuk wafat dalam keadaan bahagia, tempatnya nyaman dan mulia dalam keabadian itulah surga.

Insan Takwa Berpedoman kepada Al-Qur’an

Mereka itulah yang di sebutkan mendapat predikat sebagai insan yang bertakwa, ”al muttaqin” termaktub dalam surah ­al-baqarah ayat 2:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Merekalah yang mengambil sumber pedoman kebahagiaannya dari Al-Qur’an dan petunjuk Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana kalam Allah yang termaktub dalam surah al-isra ayat 9:

  إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Artinya: “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”

Allah jelas memberikan petunjuk bagi orang-orang yang ingin mendapatkan kebahagiaan agar menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan dalam kehidupan. Oleh karena itu, jangan pernah meragukan isi Al-Qur’an. Mari pelajari, pahami kemudian amalkan sebagai pedoman menuju kebahagiaan yang sebenarnya bagi insan bertakwa. Wallahu a’lam bissawab.