Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ibu, Maafkan Anakmu Telah Lalai: Refleksi QS. Luqman 14

ibu
Sumber: https://www.kompasiana.com/

Ibu merupakan satu panggilan kepada seorang wanita yang telah melahirkan kita (anak) ke muka bumi ini. Panggilan terhadap sosok ini pun sangat bervariasi di belahan dunia, apabila saya mengutip lagu Lughat Al’Aalam yang dilantuntkan oleh Humood Alkhudher setidaknya ada beberapa panggilan di antaranya: “Mama, anne, ibu, immayer, mamo, madre, ummaa, ummii”.

Keseluruhan itu mengindikasikan sosok perempuan dengan kasih sayangnya membesarkan anaknya dengan sekuat tenaga yang ia punya. Bagaimana tidak, ia dengan sekuat tenaga tanpa pernah merasa lelah melakukan aktivitas. Mulai dari menyapu rumah hingga mengurus segala urusan rumah dari pagi ke pagi lagi. Semua itu dilakukan bertujuan untuk ketertiban dan efesiensi aktivitas dalam rumah.

Fenomena Relasi Anak dan Ibu

Tulisan ini melanjutkan renungan yang penulis garap sebelumnya tentang “ayah! Anakmu menantikanmu: Refleksi QS Luqman 13”. Kemudian, usaha yang tiada henti dan tiada batasnya yang dilakukan ibu, seringkali dipandang sebelah mata. Begitu banyak emak-emak zaman now mengerjakan kegiatan rumah tangga dengan tangannya sendiri tanpa ada campur tangan buah hatinya. Tak heran jika ada semacam perdebatan dan cekcok yang terjadi antara anak dan ibu. Karena fenomena hari ini mayoritas ketika sang ibu menyuruh anak untuk melakukan sesuatu, anggap saja seperti membelikan bahan makanan di warung. Kemudian sang anak enggan untuk membelikannya atau naudzubillah sering menjawab perintah sang ibu dengan “agh”, “nanti dulu” dan masih banyak lagi.

Perilaku seperti itu, sejatinya tidak diperboleh dilakukan oleh sang anak. Hal itu karena akan berimbas kepada al-idza’u as-syu’ur (menyakiti perasaan). Perkataan yang dimisalkan di atas sejatinya terekam di QS. Al-Isra ayat 17. Ayat tersebut masyhur terdengar oleh kita di berbagai forum ilmiah dan kajian keislamaan di masjid dan media masa. Kadang kala, sang ibu lebih memilih untuk menahan diri dari amarah yang bergejolak di dalam dadanya ketika mendengar anaknya berbicara seperti itu. Kesabaran yang dicontohkannya ketika menghadapi sang anak perlu menjadi contoh bahwa seorang ibu tidak akan pernah benci apalagi memaki sang anak.

Baca Juga  Wahbah Az-Zuhaili (1): Sang Mufasir Inklusif Sekaligus Fakih

Fenomena lain yang penulis temukan, yaitu ketika sang anak lebih memperioritaskan game mobile ketimbang membantu sang ibu dalam pekerjaan rumah. Padahal pekerjaan sejatinya jika dilakukan secara bersamaan dan bergotong royong. Maka akan cepat terselesaikan dengan waktu yang sangat minim ketimbang dilakukan secara individual. Namun apalah daya sang ibu terkesan lebih sabar dan tak mau memberikan keributan dengan sang anak. Perilaku tersebut harusnya mengarahkan sang anak untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya terlebih urusan yang dilakukan sang ibu.

QS. Lukman ayat 14: Sebuah Refleksi Perjuangan Ibu

Kegelisahan sang ibu perihal gotong-royong dalam urusan rumah tangga, mungkin sebagian orang tidak menjadi isu serius. Namun, menurut penulis isu ini harus diangkat karena hari-hari ini kepekaan seorang anak begitu sangat minim. Terlebih lagi sering saya dengar statement di masyarakat yang berkembang bahwa “aku kan (anak) laki-laki, masak sih? Saya harus masak, nyuci piring, atau bahkan nyapu dan ngepel”. Statement  ini mungkin menurut saya haruslah direkonstruksi kembali, karena mengandung ketidakberpihakan seorang anak cowok terhadap urusan-urusan rumah.

Begitu banyak, Al-Qur’an menggambarkan peran ibu dalam keluarga. Terlebih lagi perihal perannya yang cukup besar dari melahirkan hingga membesarkan sang anak menjadi orang sukses. Salah satu gambaran yang diberikan Allah Swt melalui QS. Luqman ayat 14 yang berbunyi:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.

Ibu Sumber Kehidupan

Ayat di atas, memberikan gambaran bahwa peristiwa ibu yang melahirkan sang anak mengalami suatu proses yang sangat berbahaya. Ia berperang melawan segala mara bahaya ketika melahirkan bahkan nyawa pun menjadi taruhannya. Allah dalam ayat ini baru menggambarkan effort ibu yang mati-matian berusaha untuk melahirkan anak ke bumi ini. Belum lagi prosesnya yang membesarkan sang anak dengan segala konflik di dalamnya. Masih kah kita membangkang sang ibu? Masih kah kita lalai sehingga tidak membantunya? Atau masih kah kita lebih memperioritaskan bermain gadget ketimbang sang ibu?.

Baca Juga  Kemajuan Teknologi dalam Pembuatan Dinding Zulkarnain

Keseluruhan isu yang penulis angkat dalam tulisan ini, saya kembalikan lagi kepada pembaca yang budiman nan arif. Akhirnya dalam tulisan ini ada ungkapan yang berarti untuk anak bahwa “seandainya engkau menggendong ayah dan ibumu ke surganya Allah, itu tidak akan mampu membalas jasa-jasanya terhadap kita sang anak”. Wallahu a’lam.

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Bisa dihubungi melalui: Twitter: @ayasriyan, Instagram: @ayasriyan