Tulisan ini secara analisis akan membahas bagaimana al-Qur‟an memaknai kata zawj dari aspek gramatikal semantik. Pemilihan semantik Izutsu didasari karena mekanisme semantiknya mencakup bahasa pada setiap makna dasar dan relasional dengan menggunakan analisis sintagmatik dan paradigmatik. Sementara persoalan kronologi sejarah linguistiknya akan terlihat pada masa pra-Qur‟anik, Qur‟anik, dan pasca-Qur‟anik. Sehingga akan diperoleh pemahaman yang komprehensif dan utuh tentang makna zawj dalam al-Qur‟an.
Klasifikasi dan Derivasi Ayat-Ayat Zawj.
Nabi Muhammad Salla Allah ‘Alayhi wa Sallam mengemban risalah kenabian selama 23 tahun, 10 tahun diMakah dan 13 tahun di Madinah. Peristiwa ini tentu menimbulkan efek hukum tertentu dalam berbagai syari‟at agama Islam, seperti terbentuknya istilah Makkiyah dan Madaniyyah dalam pengolongan surat dalam al-Qur‟an. Kata zawj misalnya, satu term zawj saja sudah mempunyai perebedaan ketika ayat-ayatnya yang dikategorikan dalamMakkiyah dan Madaniyyah.
Adapun dalam al-Qur‟an di sebutkan beberapa derivasi dari kata zawj. 21 Derivasi kata zawj sebanyak 81 kali diulangi dan tersebar dalam 43 surat. Sedangkan kata zawj terdapat dalam 72 ayat. Berikut perincian Makkiyah dan Madaniyyah katazawj beserta derivasinya dalam al-Qur‟an.
Makna Dasar Kata Zawj.
Izutsu mendefinisikan makna dasar sebagai makna yang melekat dalam kata itu sendiri dan makna tersebut senantiasa hadir di mana pun kata itu diletakkan. Kata zawj merupakan bentuk nomina verba yang berasal dari za’( س ),wawu (و) dan jim (ج). Menurut Ibn Fāris, pada dasarnya kata zawj menunjukan pada makna perbandingan. Artinya, kata tersebut memiliki hubungan perbandingan dengan makna yang lain, yaitu pasangan.
Makna Relasional Zawj.
Makna relasional merupakan makna baru yang ditambahkan kepada makna dasar dengan cara meletakkan kata pada posisi khusus dalam bidang khusus pula. Makna relasional bisa juga dimaknai sebagai makna konotasi. Dengan demikian, makna baru tersebut menyesuaikan pada kalimat di mana kata tersebut diletakkan. Analisa yang digunakan Izutsu dalam mencari makna relasional adalah menggunakan analisa sintagmatik dan paradigmatik.
Analisa sintagmatik merupakan sebuah analisis yang digunakan untuk menemukan dan mengetahui suatu makna kata dengan cara melihat dan memerhatikan kata sebelum dan setelah kata yang menjadi pembahasan dalam suatu bagian tertentu. Hal ini penting karena makna sebuah kata pasti terpengaruh oleh kata-kata yang mengelilinya. Terdapat enam makna relasional yang tersebar di dalam al-Qur‟an antaralain; suami, istri, pasangan, hewan, tumbuhan, dan golongan.
- Bermakna suami
Kata Zawj memiliki arti suami seperti pada Q.S Al Baqarah ayat 230
فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّىٰ تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ ۗ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۗ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Kemudian jika dia menceraikannya (setelah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum dia menikah dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduannya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-nya kepada kaum yang (mau) mengetahui (Q.S Al-Baqarah:230).
Ayat ini menjelaskan tentang konsep muhallil. Seorang istri yang ditalak tiga, jika suaminya ingin kembali lagi padanya, istri tersebut harus menikah dengan orang lain terlebih dahulu. Jika terjadi perceraian dengan suami kedua maka istri tersebut baru boleh menikah lagi dengan suami yang pertama.
- Bermakna istri
Kata Zawj bermakna istri seperti pada surat Q.S al baqarah ayat 35
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
Dan kami Berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrinya surga ini, dan makanlah makanan-makananya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-oarang yang zalim.(Q.S Al-Baqarah:35).
Makna kata zawj bisa dipahami dari verba instruktif uskun dan pronomina tidak terikat anta yang mendahului kata zawj sekaligus pronomina terikat huruf kāf setelah kata zawj. Kata zawj pada ayat tersebut menunjukkan makna istri.
- Bermakna pasangan
Zawj yang bermakna pasangan seperti pada Q.S Az-zariyat ayat 49
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang–pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah. (Q.S: Al-Żāriyat :49).
Pada ayat di atas, kata zawj memiliki makna pasangan ketika disandingkan dengan kata kholaqnā yang berada sebelumnya. Maksud makna pasangan ialah segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan bukan hanya makhluk biologis seperti manusia, binatang, dan tumbuh- tumbuhaan mempunyai pasangan, laki-laki dan perempuan, jantan dan betina, tetapi juga makhluk-makhluk lain seperti makhluk kosmologis.
- Bermakna Jenis Hewan
Kata Zawj bermakna hewan seperti pada Q.S Al-an’an ayat 143
ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ ۖ مِنَ الضَّأْنِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْمَعْزِ اثْنَيْنِ ۗ قُلْ آلذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الْأُنْثَيَيْنِ أَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ الْأُنْثَيَيْنِ ۖ نَبِّئُونِي بِعِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
(Yaitu) Delapan binatang yang berpasangan, sepasang domba, sepasang dari kambing. Katakanlah: “Apakah dua yang Jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya?” Terangkanlah kepada dengan berdasar pengetahuan jika kamu memang orang- orang yang benar. (Q.S Al-An‟ām: 143).
Pada ayat di atas, kata zawj ditampilkan dalam bentuk plural (azwāj) bersandingan dengan frasa numeria al-ḍa’ni iśnaini. Kata al-ma’zi yang berada setelah kata azwāj dan kata iśnaini dalam ayat di atas menunjukkan kepada jenis jantan dan betina pada jenis binatang.
- Bermakna Tumbuhan
Zawj yang bermakna tumbuhan seperti pada Q.S Asy- Syuara‟: 7
أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الْأَرْضِ كَمْ أَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?
Pada ayat di atas, kata zawj bersanding dengan kata ambatnā yang telah mendahuluinya menunjukkan makna tumbuhan, yang secara leksikologis bermakna menumbuhkan.
- Bermakna Golongan
Zawj yang bermakna golongan seperti pada QS. Al-Wāqi‟ah :7-10
“Dan kamu menjadi tiga golongan (7), yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu (8). dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu (9). dan orang-orang yang beriman paling dahulu (10)”. (QS. Al-Wāqi‟ah :7-10).
Pada ayat ini, kata zawj dimunculkan dalam bentuk plural, azwāj. Kata zawj dimaknai dengan golongan karena bersanding dengan kata śalāśah.
Editor: An-Najmi




























Leave a Reply