Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menerawang Tafsir Al-Qur’an Secara Futuristik

Futuristik
Sumber: https://www.arabiahorizons.com/

Menerawang sesuatu bukanlah perkara mudah. Apalagi objeknya adalah tafsir Al-Qur’an di masa mendatang. Pasalnya, perubahan kondisi zaman begitu cepat dan masif. Di sisi lain, Al-Qur’an seumpama samudera yang begitu luas. Lalu, bagaimana mungkin gelas yang kecil mampu menampung luasnya samudera. Perlu melihat secara futuristik.

Alhasil, urusan terawang-menerawang, jika diterapkan pada penafsiran Al-Qur’an akan menjadi kompleks. Akan tetapi, penerawangan ini bisa-bisa saja dilakukan. Yaitu dengan memprediksi tren kajian dan metode, serta pendekatan tafsir yang sudah berkembang di era sekarang. Untuk itu, mari kita berandai-andai, namun tetap melihat konteks dan perkembangan tafsir di masa kini sebagai acuan futuristik.

Menggunakan klaim bahwa Al-Qur’an selalu relevan dengan setiap zaman dan tempat, maka saya berasumsi bahwa setiap metode tafsir yang selaras dengan spirit Al-Qur’an akan selalu digunakan di setiap masa. Maksud saya, Al-Qur’an menawarkan sesuatu yang universal, seperti nilai-nilai kemuliaan. Sehingga, penafsiran yang mampu mengungkap nilai universal dan berhasil mengaktualisasikannya dalam suatu konteks zaman adalah tafsir futuristik yang “abadi”.

Penafsiran Abadi

“Tafsir abadi” adalah sebutan saya untuk metode tafsir yang selalu solutif bagi setiap penafsiran ayat. Mengapa abadi? Karena tujuan utama dari Al-Qur’an adalah sebagai kitab petunjuk dan petunjuk yang universal selalu bisa diterapkan pada konteks zaman dan tempat yang bersifat partikular dan unik. Dengan metode semacam ini, Al-Qur’an berhasil menjadi cahaya yang terus menerangi gelapnya jalan hidup manusia.

Al-Qur’an sebagai cahaya, memberikan beberapa isyarat yang penting. Pertama, cahaya memiliki dua sifat utama; terang bagi dirinya sendiri dan menerangi yang lainnya. Kedua, cahaya hanya akan menerangi sesuatu yang mau menerima cahaya. Ketiga, cahaya yang begitu terang benderang, tak akan mampu dilihat kecuali dengan kekuatan dan kesiapan yang memadai.

Baca Juga  Pengungkapan Manna dan Salwa: Analisis Q.S Al-Baqarah Ayat 57

Dengan demikian, metode tafsir yang kompatibel dengan cahaya Al-Qur’an akan senafas juga dengan Al-Qur’an yang universal. Sehingga, metode tafsir semacam ini yang akan selalu dibutuhkan di setiap masa, termasuk masa depan. Tentu, metode tafsir semacam ini dapat mewujud dalam beragam wajah. Boleh jadi, dalam wajah tafsir maqāshidi, wajah tafsir ma’nā cum maghzā, wajah tafsir mubādalah dan wajah-wajah tafsir yang serupa dan berkembang di masa sekarang.

Metode Komprehensif

Sebagai catatan, metode yang komprehensif dan pendekatan yang beragam akan lebih sempurna dalam upaya menafsirkan Al-Qur’an. Mengingat, Al-Qur’an memiliki dimensi lahir dan batin, serta memuat beragam topik dalam segala aspek kehidupan manusia, seperti: hukum, politik, ekonomi, sosial, intelektual, spiritual, pendidikan dan lain sebagainya. Poinnya, keragaman level dan tema Al-Qur’an perlu ditangkap dengan keragaman metode dan pendekatan.

Berbekal keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kitab kehidupan, saya memiliki sebuah pandangan menarik. Kitab kehidupan yang saya maksud adalah kitab yang nilai-nilainya harus hidup di dalam diri para pembacanya. Nah, karena sudah ribuan tafsir ditulis, dengan ragam corak dan metodenya. Maka, tugas penafsir kedepannya adalah menginternalisasi nilai-nilai qurani kedalam dirinya; mewujudkan dalam pikiran, ucapan dan tindakan sehari-hari.

Dengan pandangan semacam ini, Al-Qur’an akan berhasil membawa perubahan kepada setiap diri para pembacanya. Kalau boleh melakukan pembagian model tafsir, saya akan membaginya menjadi tiga model, yaitu; tafsir bilkalām (penjelasan lisan), tafsir bilqolām (penjelasan tulisan) dan tafsir bilfi’lān (penjelasan tindakan).

Tiga Model Penafsiran Al-Qur’an

Menafsirkan Al-Qur’an model pertama bisa dengan berceramah. Adapun model kedua dengan menulis kitab. Sementara yang ketiga dengan perbuatan dan suri tauladan. Nah, pembagian tiga model ini serupa level Al-Qur’an dalam diri seorang. Dan yang paling menarik buat saya adalah model yang ketiga. Seseorang menjelaskan ayat bukan lagi dengan berceramah atau dengan menulis kitab, melainkan menjelaskan Al-Qur’an dengan perilaku keseharian.

Baca Juga  Nuzul Qur’an: Al-Qur’an Diturunkan Bukan Hanya Untuk Dibaca

Artinya, segala gerak-geriknya adalah cermin dari nilai-nilai Al-Qur’an. Tidak ada tindakannya yang bertentangan dengan ayat Al-Qur’an. Saya kira ini adalah sebaik-baiknya tafsir Al-Qur’an. Sehingga, tidak ada lagi jarak antara pembaca dengan Al-Qur’an. Pembaca sudah pada posisi being terhadap Al-Qur’an. Caranya bertutur, bersikap, memperlakukan orang lain, bekerja dan setiap aktivitasnya menjadi tafsir Al-Qur’an yang nyata dan hidup.

Alhasil, saya berandai bahwa di masa depan yang entah kapan persisnya, tidak ada lagi tafsir dalam tulisan dan lisan. Tapi tafsir sudah bereformasi dalam bentuk tindakan nyata yang tak bisa dipisahkan dari diri setiap orang yang membaca Al-Qur’an. Ini adalah harapan yang futuristik. Al-Qur’an menjadikan manusia hidup, dan ia hidup dalam wujud Al-Qur’an. Hal ini serupa revolusi, dari quotes manusia menuju quotes Tuhan, kemudian mewujud dalam diri para pembacanya. Wallahu’alam.