Kata manna itu ada beberapa pengertian dalam al-Qur’an yaitu pemberian, nikmat, kurnia, sesuatu yang didapati dengan gampang: embun, embun manis. Kata salwa ada mempunyai beberapa makna yaitu penghiburan, burung puyuh. Pendeknya manna dan salwa itu sebahagian daripada pemberian Allah kepada Bani Israil di dalam perjalanan mereka itu, karena firman Allah: “Makanlah sebahagian dari makanan yang kami telah kurniakan.”
Itu menunjukkan bahwa makanan yang Tuhan kurniakan di waktu itu bukan saja manna dan salwa, tetapi ada lain-lain lagi, begitulah di paham oleh sebagian dari ahli tafsir. Kalimat “dan mereka tidak menganiaya kita” itu perkataan Tuhan hadapkan kepada Nabi Muhammad atau kepada orang-orang Islam menerangkan bahwa Bani Israil mengolok-olok dan menyusahkan orang Islam itu sebenarnya bukan menganiaya kita. “Tetapi mereka itu menganiaya diri mereka sendiri”, karena yang bakal menerima siksaan lantaran tidak mau beriman kepada Muhammad itu tidak lain melainkan mereka sendiri.
Dalam Al-Qur’an kata Manna dan Salwa terdapat di beberapa tempat, namun hadits yang menafsirakan tentang Manna dan Salwa fokus pada Al-Qur’an surah Al-Baqarah [2] : 57
وَظَلَّلۡنَا عَلَيۡكُمُ ٱلۡغَمَامَ وَأَنزَلۡنَا عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَنَّ وَٱلسَّلۡوَىٰۖ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡۚ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ
“Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa”. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”
Pengungkapan Al-Manna
Dalam Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dalam kitabut tafasir terdapat hadits yang menafsirkan ayat ini :
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَمْأَةُ مِنْ الْمَنِّ وَمَاؤُهَا شِفَاءٌ لِلْعَيْنِ
“Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Abdul Malik dari ‘Amru bin Huraits dari Sa’id bin Zaid radliyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Al Kam-ah (cendawan) adalah sejenis manna (sejenis makanan yang diturunkan Allah Ta’ala kepada Bani Israil), airnya mengandung obat bagi penyakit mata.” (HR. Bukhari : 4118)
Dalam hadits ini diterangkan bahwa kata manna menunjukkan pemaknaan bahwa manna tersebut berupa cendawan yang mana manna dalam hadits ini ditujukan untuk Bani Israil yang airnya dapat menyembuhkan penyakit yang menjangkiti mata. Jika di tinjau kepada konteks ayat ini maka ayat memanglah menunjukkan untuk kaum Bani Israil.
Maka para mufassir berbeda pendapat dalam memaknai ayat ini seperti Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibn Abbas mengatakan bahwa “Manna turun kepada mereka di pohon-pohon, mereka mengambilnya dan memakannya sesuaka hati” mujahid berkata “manna merupakan getah yang berasal dari pepohonan”, ikrimah berkata “manna merupakan sesuatu yang Allah turunkan kepada mereka seperti embun yang menyerupai sari buah yang kenta”. As-Suddi mengatakan konteks ayat ini “Wahai Musa, bagaimana kita hidup disini, mana ada makanan ?” maka Allah menurunkan manna yang Allah turunkan di pohon jahe”. Qatadah berkata, “Manna turun kepada mereka di tempat tinggal mereka seperti salju, lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, turun kepada mereka dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Seseorang dari mereka mengambilnya hanya cukup untuk sekedar makan pada hari itu. Bila ia mengambil lebih maka akan hangus dan lenyap pada hari itu. Bila hari keenamnya tiba, yaitu hari jum’at mereka dapat mengambil lebih yaitu untuk hari itu dan hari esok, hal ini dikarenakan hari esoknya merupakan hari raya, mereka tidak diperbolehkan untuk sibuk dengan urusan penghidupan dan tidak mencari apapun. Semua ini telah Allah sediakan di daratan”.
Sebagaimana yang kita ketahui sifat yang dimiliki oleh Bani Israil, walaupun mereka telah dikaruniakan nikmat kulinari manna dan salwa, mereka justru menginginkan makanan yang berkasta lebih rendah. Hal ini disebutkan dalam Quran surat Al-Baqarah [2] :61 tentang hal ini. Dengan dalih kebosanan pada manna dan salwa, serta kekangenan mereka pada makanan yang biasa mereka makan sebelumnya, mereka meminta Nabi Musa untuk berdoa agar ditumbuhkan mentimun, bawang putih, bawang merah, dan kacang adas. Jenis-jenis makanan yang jelas-jelas tidak sebanding dengan kenikmatan manna dan salwa. Bani Israil adalah suatu bangsa yang telah banyak Allah berikan kenikmatan kepada mereka. Salah satunya adalah banyak Nabi dan Rasul yang diutus untuk membimbing mereka. Akan tetapi mereka tidak banyak bersyukur, membangkang sampai pada tahap membunuh para Nabi. Bani Israil tidak bersyukur, malah mereka sangat cepat bosan terhadap makanan. Sehingga mereka malah menantang dan meminta nabi Musa agar mengeluarkan makanan lagi untuk mereka.
Pengungakapan Salwa
As-Salwa pun memiliki beragam makna, ada yang mengatakan bahwa salwa merupakan burung yang memiliki bentuk yang serupa dengan burung puyuh yang bisa dimakan. Jika dilihat berdasarkan yang diriwayatkan Ikrimah maka salwa merupakan burung yang berada di kebun, yang memiliki ukurang yang lebih besar dari burung pipit, dan juga yang semisalnya. Dalam riwayat lain yyang bersumber dari Qatadah bahwa salwa merupakan burung-burungan yang berwarna kemerah-merahan yang digiring oleh angin selatan. Mengkonsumsinya pun serupa dengan mengkonsumsi Al-Mann yaitu untuk cukup hari ini dan ketika hari ke enam maka diperbolehkan mengambilnyauntuk hari esok.
Berbeda halnya dengan pendapat yang dikemukakan oleh Wahab Al-Munabbih yang menyatakan bahwa As-Salwa merupakan burung yang cukup gemuk seperti merpati, burung-burung itu datang kepada Bani Israil, dan mereka mengambilnya dari sabtu ke sabtu. Dalam riwayat lain yang berasal dari Wahab pula ia berpendapat bahwa Bani Irail meminta daging kepada Musa, maka Allah memberikan hewan yang paling sedikit dagingnya dalam bentuk Allah mengirim angin yang disertai dengan salwa yaitu burung puyuh di rumah-rmah mereka, dan mereka pun menangkapinya berlebihan untuk esok hari, namun pada esok harinya dagingnya busuk, dan roti yang dibuatnya pun rusak.
Namun mereka itulah kaum Bani Israil yang tidak pernah puas, mereka terus melakukan penganiayaan. Apa yang mereka lakukan itu tidak menyentuh sedikitpun keagungan Allah. Kata “berulangkali” dipahami dari penggunaan kata kaana dan bentuk kata kerja mudhari’ yang menunjuk penganiayaan mereka, yaitu kata yadzlimun.
Memang, walaupun seluruh makhluk durhaka, kekuasaan dan keagungan Allah tidak tersentuh atau berkurang. Sebaliknya, walau seluruh makhluk taat kepada-Nya. Pada puncak ketaatan tertinggi tidak akan mampu menambah keagungan-Nya karena Allah berada pada puncak yang tiada berpuncak.
Mereka para kaum Bani Israil menganiaya diri mereka sendiri karena apa yang mereka peroleh akan punah, kalaupun mereka bertahan dan mencoba mempertahankannya maka akan tetaplah mati. Yang terbawa tidak lain dan bukan hanyalah amal, amal mereka buruk dan keburukan itulah yang menjadikan mereka tersiksa. Berapapun tingginya nikmat makanan serta naungan di padang pasir yang selama itu mereka menikmati,tentu saja nikma hidup di kota tetap merupakan suatu dambaan. Kemudian, barulah selama 40 tahun mereka hidup dalam kebimbungan di padang tih, mereka memperole nikmat serta kenikmatan dan kemenangan sehingga mereka dapat kembali memasuki kota idaman.
Editor: An-Najmi




























Leave a Reply