Causa Prima Aristoteles: Tuhan sebagai Simpul Rantai Kausalitas
Dalam metafisika Aristoteles, Tuhan berfungsi sebagai unmoved mover—penggerak yang tidak bergerak, yang menjadi asal mula segala gerakan di alam semesta. Konsep ini kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh para filosof Muslim Peripatetik, seperti Ibn Sina[1] dan al-Farabi,[2] yang menjadikan Tuhan sebagai “Sebab Pertama” (al-‘illah al-ūlā) dalam rantai kausalitas hierarkis. Dalam kerangka ini, hubungan Tuhan-alam dipahami melalui skema sebab-akibat: Tuhan menciptakan melalui proses emanasi (fayḍ) yang bertingkat.
Akibatnya, Tuhan terjebak dalam logika deterministik yang membatasi kebebasan absolut-Nya. Para teolog Asy’ariyah, sebagaimana dicatat oleh Fazlur Rahman, menolak teori ini karena “determinisme teistiknya yang tanpa henti” dan konsekuensinya yang mereduksi kehendak Tuhan menjadi “dinamika rasional yang diperlukan”.[3] Bagi al-Ghazali, konsekuensi paling berbahaya dari skema ini adalah hilangnya sifat irādah (kehendak) dan qudrah (kekuasaan) Tuhan, karena penciptaan menjadi keharusan logis (wujūb bi al-dhāt), bukan tindakan sukarela (ikhtiyār).[4]
Dengan demikian, Tuhan tidak lagi menjadi al-Fā’il al-Mukhtār (Yang Berbuat dengan Pilihan), melainkan sekadar prinsip kosmologis yang tak ubahnya hukum alam yang dipersonifikasi. Kritik ini menjadi fondasi bagi pembacaan Qur’ani yang menegaskan bahwa Tuhan adalah Zat yang berkehendak, mendengar, dan terlibat secara personal dalam sejarah manusia—sebuah antitesis mutlak terhadap unmoved mover yang dingin dan tak peduli.
Badi’: Mencipta tanpa Model dan Tanpa Sebab
Al-Qur’an menawarkan konsep badi’ yang secara eksplisit menolak kerangka kausalitas Aristotelian. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 117 dan Q.S. Al-An’am [6]: 101: بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (“Pencipta langit dan bumi”). Para mufasir, seperti al-Tabari[5] dan al-Qurthubi,[6] menafsirkan badi’ sebagai penciptaan tanpa contoh sebelumnya (lā ‘alā mithāl sābiq). Ini berarti Tuhan tidak membutuhkan model, bahan, atau proses kausal apa pun untuk mencipta.
Konsep ini bertentangan dengan logika causa prima yang mensyaratkan rantai hubungan antara sebab dan akibat. Dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 117, Allah menegaskan: إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (“Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia”). Frasa kun fa-yakūn ini adalah antitesis dari setiap metafisika kausalitas: tidak ada proses material, waktu, maupun rantai sebab-akibat. Yang ada hanyalah kehendak absolut yang langsung mewujud.
Menyangkal Kebutuhan Tuhan: Al-Ṣamad dan Kemahacukupan Absolut
Surah Al-Ikhlash [112]: 1-4 menegaskan: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah tempat bergantung, Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”). Ayat ini mengandung kritik ontologis yang menghancurkan: Tuhan tidak membutuhkan “anak” karena Dia tidak membutuhkan “pasangan” (ṣāḥibah).
Dalam perspektif Aristotelian, Tuhan sebagai causa prima masih terikat dengan kebutuhan logis untuk “menggerakkan” sesuatu. Sebaliknya, al-ṣamad dalam Tafsir Jalalayn berarti “Tuhan yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu” yang menunjukkan kemahacukupan mutlak.[7] Tuhan tidak membutuhkan apa pun, termasuk “sebab” atau “model” untuk mencipta.
Q.S. Al-Qasas 88: Pembatalan Segala Sesuatu Kecuali Wajah-Nya
Puncak kritik Qur’ani terhadap metafisika kausalitas adalah Q.S. Al-Qasas [28]: 88: كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ (“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah”). Jika segala sesuatu binasa dan hanya Wajah Tuhan yang kekal, maka tidak ada “sebab” yang berdiri sendiri, tidak ada “efek” yang permanen.[8] Rantai kausalitas yang dibangun oleh Aristoteles dan filosof peripatetik adalah ilusi, karena semua yang ada—termasuk hubungan sebab-akibat—hanya memiliki eksistensi temporal yang ditopang oleh kehendak Tuhan setiap saat. Dalam kerangka ini, Tuhan bukanlah “Penyebab Pertama” dalam rantai sebab-akibat, melainkan satu-satunya Wujud yang sejati, yang setiap saat mencipta ulang alam tanpa terikat oleh logika deterministik.
Kesimpulan: Tuhan Bukan “Mesin Kosmik
Kritik Qur’ani atas metafisika Aristotelian menunjukkan bahwa Tuhan tidak dapat dipahami melalui kerangka causa prima yang menjadikan-Nya sebagai “mesin kosmik” yang bergerak secara rasional-deterministik. Al-Qur’an menawarkan ontologi yang lebih radikal: Tuhan adalah Badi’ yang mencipta tanpa model, al-Ṣamad yang tidak membutuhkan apa pun, dan al-Ḥaqq yang kekal di atas segala kausalitas.[9]
Pelajaran dari kritik Qur’ani ini menggugat setiap nalar teologis yang terlalu nyaman berpangku pada logika deterministik: bahwa Tuhan bukanlah simpul dari rantai kausalitas yang bisa dipecahkan dengan silogisme, melainkan kehadiran yang hanya bisa disaksikan dengan iman, bukan dengan demonstrasi. Mengklaim bahwa silogisme ‘causa prima‘ cukup untuk menangkap Tuhan berarti menjadikan akal sebagai sekutu sekaligus penjara bagi transendensi. Pertanyaan yang tersisa bukanlah ‘bagaimana membuktikan Tuhan’, melainkan ‘apakah kita berani bertemu dengan Tuhan yang tidak pernah bisa kita kendalikan dengan logika?’ Wallāhu a’lam bi al-ṣawāb.
Catatan Kaki
[1] Ibn Sina, Avicenna’s Psychology (Oxford: Oxford University Press., 1952). hlm. 120.
[2] A. N. Al-Farabi, Al-Farabi’s Ab Nasr Al-Farabi’s Mabadi’ Ara’ Ahl Al-Madina Al-Fadila (Oxford: Clarendon Press., 1985). hlm. 55.
[3] Fazlur Rahman, Islam (Chicago: University of Chicago Press, 1979). hlm. 85-90.
[4] Abu Hamid Al-Ghazali, Tahāfut Al-Falāsifah, ed. terj. Michael S. Marmura (Provo: Brigham Young University Press, 1997). hlm. 25.
[5] IJ At-Tabari, Jāmi’ Al-Bayān ’an Ta’wīl Āy Al-Qur’ān (Cairo: Dar Hajar, 2001). hlm. 540.
[6] Muhammad bin Ahmad al-Qurtubi, Al-Jāmiʿli Aḥkām Al-Qurʾān, Jilid 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2006). hlm. 222.
[7] Jalaluddin As-Suyuthi and Jalaluddin Al-Mahalli, Tafsir Jalalain (Beirut: Dar al-Kutub, 2002). hlm. 600.
[8] Fakhruddin al-Razi, Mafatih Al-Ghaib, Vol. 24 No (Libanon: Daar al-Fikr, 1981). hlm. 110.
[9] Fazlur Rahman, “Islam: Challenges and Opportunities,” Islam: Past Influence and Present Challenge, 1979, hlm. 125.
Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID




























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.