Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ketika Kitab Suci Diterjemahkan untuk Berperang: Jejak Politik di Balik Al-Qur’an Versi Barat

Penerjemahan Al-Qur'an
Penerjemahan Al-Qur'an

Bayangkan sebuah kitab suci diterjemahkan bukan untuk dipahami, melainkan untuk dikalahkan. Itulah yang terjadi pada abad ke-12, saat Eropa Kristen mulai serius menerjemahkan Al-Qur’an ke bahasa Latin. Proyek ini tidak lahir dari keingintahuan intelektual yang murni. Kebutuhannya jauh lebih mendesak: memahami musuh untuk mengalahkannya secara teologis. Terjemahan, dalam konteks ini, berfungsi sebagai senjata, bukan jembatan pengetahuan.

Robert of Ketton dan Proyek Penerjemahan Al-Qur’an Latin

Tokoh kunci di balik proyek ini adalah Robert of Ketton, pendeta sekaligus astronom asal Inggris. Ia aktif di Spanyol pada pertengahan abad ke-12 dan ditugaskan langsung oleh Peter the Venerable, yang saat itu menjabat sebagai Abbas Cluny. Peter sedang berkeliling Semenanjung Iberia mencari bahan untuk menyusun argumen anti-Islam. Penugasan ini bukan proyek akademik netral, melainkan bagian dari strategi besar gereja menghadapi dunia Islam. Islam saat itu dianggap menjadi ancaman teologis, sekaligus politik, bagi Eropa Kristen.[1]

Hasil kerja Robert selesai pada 1143 dengan judul yang sudah menunjukkan keberpihakannya sejak awal. Judulnya adalah Lex Mahumet Pseudoprophete (Hukum Muhammad Sang Nabi Palsu). Judul ini sama sekali bukan terjemahan netral dari kata “Al-Qur’an”. Ia adalah label propaganda yang sengaja ditempelkan untuk membentuk persepsi pembaca. Sejak halaman pertama, pembaca Eropa sudah digiring memandang teks ini sebagai produk kebohongan.

Motif di balik proyek ini terang-terangan diakui sendiri oleh Peter. Ia menuliskannya dalam surat kepada Bernard of Clairvaux—tokoh penting Gereja kala itu. Tujuannya adalah membekali umat Kristen dengan amunisi tekstual untuk membantah Islam.[2] Terjemahan ini juga dimaksudkan untuk memudahkan upaya konversi umat Muslim ke Kristen. Karya ini lantas menjadi bagian dari Corpus Cluniacense, kumpulan teks polemik anti-Islam yang lebih besar. Semua disusun dengan satu tujuan, yakni persenjataan intelektual untuk Perang Salib yang sedang berlangsung.

Baca Juga  Meninjau Kajian Orientalis dalam mengkaji Al-Quran dan Hadis

Distorsi dalam karya Robert tidak hanya terletak pada judul, tetapi merembes ke struktur penerjemahan itu sendiri. Ia kerap mengubah urutan ayat dan menyisipkan parafrase panjang yang menjauh dari makna literal. Ia juga menambahkan tafsirnya sendiri yang condong memperkuat citra negatif terhadap Nabi Muhammad. Hamilton menunjukkan bahwa gaya penerjemahan Robert jauh lebih bebas dibanding penerjemah sezamannya, Mark of Toledo.[3] Mark justru memilih pendekatan literal yang lebih setia pada teks asli. Kebebasan gaya Robert bukan kebetulan stilistika, melainkan ruang untuk menyelipkan agenda tertentu.

George Sale dan Terjemahan Al-Qur’an Berbahasa Inggris

Tiga abad berselang, pola serupa muncul kembali dengan kemasan yang lebih halus. George Sale menerbitkan terjemahan Al-Qur’an ke bahasa Inggris pada 1734. Karyanya dilengkapi Preliminary Discourse sepanjang ratusan halaman sebagai pengantar. Berbeda dari Robert, Sale justru mengkritik para penerjemah sebelumnya. Mereka dianggap penuh kesalahan, termasuk versi Prancis karya Andre du Ryer.[4] Ia mengklaim ingin menghadirkan terjemahan yang lebih akurat berbasis sumber Arab asli, bukan sekadar salinan dari salinan Latin lama.

Klaim objektivitas Sale memang punya dasar nyata yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Ia memang merujuk pada tafsir klasik, seperti karya al-Baydawi, bukan sekadar polemik kosong tanpa rujukan. Bahkan Edward Said dalam Orientalism mengakui Sale berbeda dari para pendahulunya.[5] Sale bersedia membiarkan komentator Muslim berbicara melalui catatan kakinya sendiri. Namun, pengakuan ini tidak lantas membuat karyanya steril dari kepentingan politik zamannya. Hanya bentuk kepentingannya yang bergeser, dari pedang teologis menjadi pena administratif kekuasaan.

Judul karya Sale sendiri masih menyimpan jejak bias lama yang sulit disangkal. Judulnya adalah The Koran, Commonly Called The Alcoran of Mohammed. Penamaan ini terus melekatkan kitab suci pada figur Nabi, bukan pada klaim ketuhanannya sebagai firman langsung. Dalam dedikasinya kepada politisi Inggris John Carteret, Sale menegaskan satu hal penting. Memahami hukum dan adat bangsa lain, katanya, adalah pengetahuan paling berguna bagi kepentingan negara.[6] Pernyataan ini menyingkap motif sesungguhnya: pengetahuan tentang Islam disiapkan untuk kebutuhan administrasi kekuasaan Inggris.

Baca Juga  Sejarah Pengumpulan Al-Qur'an Menurut Richard Bell

Orientalisme, Warisan, dan Refleksi Kontemporer

Di sinilah kerangka Edward Said tentang orientalisme menemukan relevansinya yang paling tajam. Said menegaskan bahwa pengetahuan Barat tentang Timur tidak pernah benar-benar netral. Pengetahuan itu terjalin erat dengan kepentingan kekuasaan imperial yang memproduksinya. Setiap terjemahan, catatan kaki, dan kata pengantar dari para orientalis awal ini bukan sekadar usaha memahami. Ia adalah usaha mendefinisikan siapa yang berhak menafsirkan dan siapa yang hanya pantas ditafsirkan.

Dampak dari kedua terjemahan ini jauh melampaui dunia akademik yang sempit. Karya Robert beredar dalam lebih dari dua puluh lima manuskrip di seluruh Eropa. Karya ini menjadi rujukan standar Eropa tentang Islam hingga abad keenam belas.[7] Sementara itu, terjemahan Sale dicetak ulang puluhan kali sepanjang abad kedelapan belas dan kesembilan belas. Karya itu membentuk imajinasi publik Inggris tentang Islam selama lebih dari satu abad penuh. Distorsi yang tertanam di tahap awal ini terus diwariskan dan dikutip oleh generasi pembaca berikutnya.

Pelajaran paling penting dari kedua kasus ini bukan sekadar soal akurasi linguistik semata. Ini soal siapa yang memegang otoritas untuk memaknai teks suci milik orang lain. Ketika penerjemahan dilakukan dengan agenda politik tersembunyi di baliknya, hasilnya jelas bukan jembatan pemahaman. Ia justru menjadi tembok prasangka yang dibangun dengan sangat rapi dan meyakinkan. Umat Islam hari ini perlu menyadari sejarah ini, bukan untuk membangun kebencian baru. Kesadaran ini penting agar kita mampu membaca secara kritis setiap teks tentang Islam yang lahir dari kepentingan yang tidak netral.

***

Kesadaran kritis ini pada akhirnya mengantar kita pada satu tugas yang mendesak untuk dijalankan. Tugas itu adalah memastikan narasi tentang Al-Qur’an tidak lagi sepenuhnya dikuasai pihak yang berkepentingan merendahkannya. Studi Al-Qur’an kontemporer kini memikul tanggung jawab ganda yang tidak ringan. Tanggung jawab itu adalah membongkar warisan distorsi lama sekaligus membangun tradisi penerjemahan yang lebih jujur. Sejarah orientalisme awal ini mengajarkan satu hal penting bagi kita semua hari ini. Kata-kata, sekecil apapun perubahannya, bisa menjadi medan perang yang jauh lebih panjang umurnya daripada perang fisik itu sendiri.

Baca Juga  Oksidentalisme: Sikap Hassan Hanafi terhadap Kajian Al-Qur'an di Barat

Catatan Kaki

[1] Charles Burnett. 2004. “Ketton, Robert of (fl. 1141–1157).” Oxford Dictionary of National Biography. Oxford: Oxford University Press.

[2] James Kritzeck. 1964. Peter the Venerable and Islam. Princeton Oriental Studies No. 23. Princeton, NJ: Princeton University Press, hlm. 27–30.

[3] Alastair Hamilton. 2001. “The Study of Islam in Early Modern Europe.” Archiv für Religionsgeschichte 3, no. 1: 169–182, khususnya hlm. 170–171; lihat juga Thomas E. Burman. 1998. “Tafsīr and Translation: Traditional Arabic Qurʾān Exegesis and the Latin Qurʾāns of Robert of Ketton and Mark of Toledo.” Speculum 73, no. 3: 703–732, khususnya hlm. 705–707.

[4] George Sale. 1734. The Koran, Commonly Called the Alcoran of Mohammed: Translated into English Immediately from the Original Arabic; with Explanatory Notes, Taken from the Most Approved Commentators, to Which Is Prefixed a Preliminary Discourse. London: C. Ackers, “Preliminary Discourse”, hlm. iii–xxv.

[5] Edward W. Said. 1978. Orientalism. New York: Pantheon Books, Bab II, hlm. 45–58.

[6] George Sale. 1734. The Koran, Commonly Called the Alcoran of Mohammed: Translated into English Immediately from the Original Arabic; with Explanatory Notes, Taken from the Most Approved Commentators, to Which Is Prefixed a Preliminary Discourse. London: C. Ackers, “Dedication to the Right Honourable John Lord Carteret”, hlm. [i]–[ii].

[7] Thomas E. Burman. 2007. Reading the Qur’ān in Latin Christendom, 1140–1560. Philadelphia: University of Pennsylvania Press, hlm. 15–24; hlm. 21 (catatan tentang “lebih dari 25 manuskrip”).

Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID