Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Karier Kenabian Muhammad dan Cita-Cita Sosial Al-Qur’an

Muhammad
Gambar: Gemini

Gerak sejarah di semenanjung Arabia bergerak menuju perubahan seiring dengan hadir dan masifnya pengaruh ajaran Al-Qur’an melalui sosok bernama Muhammad. Lewat pribadi yang jujur, penuh kharisma dan disegani ini ajaran Al-Qur’an menemukan tempat landing (mendarat) terbaiknya. Bahkan hingga kini pengaruh telah melintas jauh dan melampau sekat-sekat geografis. Ajarannya tidak hanya dirayakan di tengah semenanjung Arabia tempat ia lahir, melainkan ke setiap lapisan tempat yang menerima cahayanya. Cahaya yang telah mengangkat harkat dan martabat manusia sehingga melahirkan satu kesadaran bahwa penjajahan apapun tak boleh memiliki tempat di muka bumi. Ia tak pernah membedakan manusia hanya karena perbedaan warna kulit dan gender. Semuanya, dalam naungan cahaya Al-Qur’an, mendapat perlakuan yang setara dan layak.

Momentum maulid yang kita rayakan dan hikmati hari ini harus mengangkat kembali kesadaran tersebut. Kesadaran bahwa Islam unggul bukan karena ajaran ritual dan spiritualnya, tapi karena kedekatannya dengan denyut penderitaan dan kegetiran massa. Ajaran yang hanya mementingkan aspek ritual tanpa pernah memberikan perhatian nyata pada realitas umat hanya akan melahirkan kejenuhan dan berangsur mencari alternatif lain. Hal inilah yang kiranya mendorong beberapa bagian dari umat muslim mencari sandaran dan landasan perjuangan dari ideologi lain. Karena para ulama dan cendekiawan gagal menampakkan sisi sosial yang sejak awal menjadi concern Al-Qur’an. Kitab suci ini tidak hadir dengan semata-mata mengajak manusia mengenal-Nya. Lebih dari itu, ia ingin agar setiap dari kita mencari-Nya di wajah-wajah manusia yang menderita, mendapat penindasan dan membutuhkan pertolongan.

Kenabian Muhammad dan Misi Pembebasan

Nabi Muhammad lahir dari setting sosial dan politik yang sangat kontras dengan nilai-nilai yang diperjuangkan Al-Qur’an. Ia lahir pada masyarakat yang ekstra individualis, senang menumpuk harta dan menghindari tanggung jawab sosial sebagai konsekuensi hidup bersama.[1] Namun beruntungnya kehidupan yang keras tersebut tidak turut mempengaruhi kepribadiannya. Kelak, sebagaimana dicatat sejarah, ia justru dikenal berada di garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak kaum lemah. Hal ini, tentunya selain ditopang oleh bimbingan wahyu, juga dibentuk oleh pengalaman masa kecilnya yang sangat getir. Tanpa perhatian dan perlindungan orang sekitar, seperti kakek dan pamannya, ia mungkin tertimpa kesusahan setelah ditinggal ayahnya sebelum lahir dan ibunya setelah berumur enam tahun.[2]

Baca Juga  Karakter Muslim Berkemajuan Perspektif Juz 'Amma Al-Quran (1)

Ketika mendapat wahyu dan menggelar kerja-kerja perbaikan, tantangan yang dialami oleh Nabi tidak mudah. Sebab ia harus berhadapan dengan para pemuka Quraisy yang merasa terganggu oleh aktivitasnya. Ia mengutuk sesembahan masa itu sembari menyebut orang-orang yang menyembahnya sebagai orang kurang akal. Hal ini membuat para punggawa Quraisy dan pengikutnya naik pitam karena merasa tuhan mereka dihina. Padahal Nabi sejatinya hanya bertugas mengajak mereka mendayagunakan akalnya dan berpikir jernih. Nabi resah dengan kelakuan orang saat itu yang memilih menyembah sesuatu yang mereka ciptakan sendiri. Demikianlah seseorang yang ditakdirkan mengemban misi perbaikan, ia tidak akan nyaman dan berdiam diri saat melihat penyimpangan dan ketimpangan.[3]

Tantangan dan Ujian Dakwah

Selain persoalan iman, tentunya ada hal yang lebih mendesak para pemuka Quraisy menghalangi dan menghadang dakwah Nabi. Salah satunya soal kelas sosial mereka yang perlahan merosot. Sebab ajaran yang dikenalkan Nabi mengajarkan kesetaraan dan menentang ketimpangan ekonomi yang dihasilkan oleh para pemuka Quraisy. Atas upayanya ini mereka berupaya menyingkirkan dan menundukkan Muhammad. Mula-mula meminta pada pamannya namun berujung pada kegagalan. Setelah tak berhasil melalui pamannya, mereka mencoba membujuk langusung melalui Nabi. Segala hal ditawarkan agar Nabi urung terhadap kegiatan dakwahnya. Di antara sosok yang berusaha merayu adalah Abu al-Walīd ‘Utbah ibn Rabi’ah. Ia mengatakan bahwa jika yang menjadi target dari dakwah ini adalah harta benda, maka mereka siap mengumpulkannya. Namun, meski mendapat tawaran yang menggiurkan, Nabi sama sekali tak goyah. Rekaman atas sikap Nabi terangkum jelas dalam QS. Fushilat 1-12.[4] Momen bujuk rayu yang gagal ini justru makin memantapkan dan mengobarkan semangat dakwah Nabi. Ia percaya, umat yang telah lama tertindas, tidak akan keluar dan meraih keselamatan kecuali dengan pembebasan. Pembebasan yang mengantarkan mereka menjadi sosok yang berdaulat.

Baca Juga  Mengenal Asy-Syifa: Pendidik Perempuan Pertama di Masa Rasulullah

Cita-Cita Sosial Al-Qur’an yang Terlupakan

Al-Qur’an hadir dengan bahasa yang jelas dan ajaran yang tegas, menolak penindasan dan eksploitasi. Surah al-Mutaffifin adalah rekaman jelas betapa Al-Qur’an mengeritik sifat menumpuk harta dan curang dalam timbangan. Hanya saja karakter dari ajaran Al-Qur’an yang bersifat sosial ini seringkali tertimbun oleh ajaran yang bersifat ritual dan legalistik. Padahal agama ini lahir dari pergulatan historis yang sengit. Berhadapan dengan tatanan sosial yang timpang dan menindas. Terdapat satu kelompok yang memiliki status istimewa dan di saat yang bersamaan terdapat kelompok yang subordinatif. Bagian yang membuat Al-Qur’an menarik karena ia membawa ajaran yang dekat pada keadilan dan kesetaraan. Spirit universal ini mestinya selalu diterjemahkan dalam setiap zaman dengan pola-pola yang tentu berbeda dan lebih berkembang.

Surah al-Ma’un yang belakangan menjadi surah favorit Muhammadiyah juga mengeritik tajam kelakuan sebagian umat Islam yang serangkaian ritualnya tak berdampak apa-apa bagi masyarakat. Bahkan Al-Qur’an menyebut mereka sebagai orang-orang yang celaka dan lalai. Mereka salat tapi abai terhadap kaum miskin dan sama sekali tak membantu masyarakat di sekitarnya. Keberagamaan semacam ini masih jamak kita temukan hari-hari ini. Mereka rajin salat, puasa, naik haji dan sebagainya. Tapi orang-orang di sekitarnya kelaparan dan menderita. Di sinilah agama kehilangan relevansi dan maknanya bagi manusia. Sebab alih-alih berperan aktif dalam menuntaskan masalah, ia justru menunjukkan sikap yang acuh dan menjauh serta memilih asyik dengan diri sendiri.


[1] W. Montgomery Watt. Muhammad: Melihat Sang Nabi sebagai Negarawan. Yogyarkata: IRCiSoD, 2020, h. 26. 

[2] W. Montgomery Watt. Muhammad: Melihat Sang Nabi sebagai Negarawan, h. 25

[3] Musthafa As-Siba’i. Yang Tersembunyi dari Sirah Nabi. Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2019, h. 45

Baca Juga  Israiliyat: Contoh dan Cara Menyikapinya

[4] M. Quraish Shihab. Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-Hadis Shahih. Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2018, h. 364-367 

Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Banten