Manusia dan membela kemanusiaan menjadi perhatian yang serius dalam Islam. Ketika Rasullah Saw. pertama kali mendapatkan mandat tugas mensyiarkan Islam, kondisi negeri Arab sedang dirundung kebejatan moral dan pelecehan nilai-nilai kemanusiaan.
Perang dan pertumpahan darah lantaran fanatisme antar suku yang masing-masing merasa paling terhormat. Kaum perempuan dijatuhkan martabatnya, bahkan berkembang perilaku mengubur hidup-hidup bayi perempuan sebab dianggap sebagai sosok yang tak berguna dan memalukan keluarga. Perjudian dan eksploitasi ekonomi terhadap kaum miskin atas nama berhala dan lainnya.
Dengan demikian betapa berat misi nabi itu. Beliau tidak hanya hendak membersihkan paganisme, tetapi juga menata moral masyarakat Arab yang dilanda kelangkaan rasa kemanusiaan yang akut. Itulah mengapa dakwah Rasulullah Saw. di kota Mekkah dilaksanakan dalam jangka waktu 13 tahun dibadingkan di Madinah yang berjalan selama 10 tahun.
Tentang misi ini, Rasulullah pernah mendeklarasikan diri bahwa beliau diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak.
Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Membela Palestina Sama Dengan Membela Allah
Berbicara tentang kemanusiaan, andaikan tanpa perintah agama pun tentu persoalan kemanusiaan itu pasti muncul, sebab ia adalah kodrat dari manusia itu sendiri. Dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 pun disebutkan bahwa, “…maka penjajahan di dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
Lain halnya dengan persoalan kemanusiaan lainnya. Penjajahan tanah Palestina yang direnggut oleh Israel merupakan suatu perjuangan untuk membela kehormatan agama Islam. Menurut Tafsir Kementrian Agama Republik Indonesia, bahwa Tanah Palestina adalah tanah yang Allah janjikan akan mendapatkan kemenangan pada waktunya. Sebagaimana yang terdapat pada Q.S. Al-Isra’: 37.
“Kami wariskan kepada kaum yang tertindas itu, bumi bagian timur dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi. (Dengan demikian) telah sempurnalah firman Tuhanmu yang baik itu (sebagai janji) untuk bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Kami hancurkan apapun yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa pun yang telah mereka bangun.”
Lantas muncul sebuah pertanyaan, “Jika memang Palestina Allah janjikan akan bebas pada waktunya, lantas bagaimana jika kita menunggu saja hingga waktunya datang? Mengapa kita perlu membela Allah? Allah itu kan Maha Kuat?”
***
Kita memang sadar dan tahu siapa kita dan siapa Allah yang ditolong. Kita adalah hamba Allah yang kecil. Tetapi kita harus mempunyai semangat yang besar. Walaupun kecil kita hendak menolong Allah, artinya hendak menolong menegakkan dan menggerakkan agama Allah.
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolong kamu dan akan meneguhkan perlangkahan kamu.” (Q.S. Muhammad: 7).
Narasi “menolong Allah” bukan menandakan Allah itu lemah. Melainkan untuk memberikan kepada manusia kepercayaan kepada diri sendiri, agar manusia jangan berpangku tangan. Manusia mesti beramal bukan menunggu. Berjuang bukan berpangku tangan. Yakin dan bukan ragu-ragu.
Pertolongan dari Allah akan datang kepada orang yang memperjuangkan agama Allah dengan kemampuan yang dimilikinya. Dan agama Allah itu bukanlah semata-mata sholat, zakat, dan puasa, tetapi juga mengandung ajaran ekonomi, politik, sosial dan kenegaraan. Lantas ini memberikan kesempatan kepada semua orang untuk berkontribusi sesuai dengan perannya masing-masing, bukan hanya untuk kaum agamawan saja.
Memohon Kemerdekaan Palestina Sama Dengan Mempercepat Kiamat?
Rahasia besar yang hanya diketahui oleh Allah Swt. dan tidak ada makhluk apapun yang mengetahuinya adalah terjadinya hari kiamat. Apakah kemerdekaan Palestina bisa dikaitkan dengan tanda munculnya hari kiamat?
Dalam hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bertutur, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
« اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ : …. فَذَكَرَ مِنْهَا:” فَتْحُ بيتِ المقدس ” »
‘Hitunglah enam (tanda) menjelang datangnya hari Kiamat ………’ dan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan diantaranya : ‘Penaklukan Baitul Maqdis’.” (HR. Al-Bukhari).
Namun hadits ini tidak bisa menjadi sebuah alasan akan terjadinya hari kiamat secara spontan. Sebab yang mengetahui kapan hari kiamat itu terjadi hanyalah Allah Swt.
***
Konsentrasi kita sebetulnya bukan terfokus pada hari kiamatnya, karena itu sudah menjadi tugas kita masing-masing untuk mengumpulkan pundi-pundi amal sholeh sebagai tabungan di akhirat kelak. Salah satunya adalah dengan berkontribusi atas pembebas tanah Palestina.
Dengan adanya kita ataupun tanpa kita, Palestina pasti akan merdeka. Dengan tidak suka ataupun suka, Masjidil Aqsha pastilah akan terbebas, itu janji Allah. Namun pertanyaannya adalah ada dimana kita saat hari yang dijanjikan itu tiba? Ada dimana kita ketika hal itu tercapai?. Apakah kita berada dalam posisi orang yang hanya menonton dari jauh tanpa kontribusi dan hanya menangis tanpa adanya usaha untuk membantu?
Atau apakah kita benar-benar memilih berada dalam barisan orang yang berjuang untuk menegakkan agama Allah dengan kemampuan yang kita miliki? Membantu dengan apapun, tidak harus kita berangkat ke Gaza, dengan update informasi, dengan materi, dengan gerakan apaun yang kita bisa, yang penting harus ada peran dalam diri kita untuk perjuangan dalam pembebas Baitul Maqdis dan Palestina.
Editor: An-Najmi





























Leave a Reply