Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Q.S Ali Imron 104: Sebagai pengingat Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Sumber: istockphoto.com

Pada dasarnya, Amar ma’ruf Nahi munkar adalah bagian dari upaya memajukan agama dan membawa kemaslahatan bagi umat. Penekanan khusus diberikan pada Amar ma’ruf Nahi munkar dalam hal mengantisipasi dan memberantas kejahatan. Tujuan utamanya adalah untuk menjauhkan semua hal negatif di masyarakat tanpa menimbulkan efek negatif yang besar.  

Implementasi Amar ma’ruf mungkin sederhana dalam batas-batas tertentu, tetapi sangat sulit jika dikaitkan dengan konteks sosial dan negara. Oleh karena itu, seseorang yang berkomitmen pada Amar ma’ruf Nahi mungkar harus memahami dengan baik hal yang akan dilakukannya. Agar tidak salah dan khilaf dalam perbuatannya. 

وَلْتَكُن مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِا يَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ١٠٢

“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.Sekiranya Ahl al-Kitab beriman, tentulah itu baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”

Umat yang Menyuruh Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Kini dikemukakan bahwa kewajiban dan tuntutan itu pada hakikatnya lahir dari kedudukan ummat ini sebagai sebaik-baik ummat. Ini yang membedakan merek dengan sementara Ahl al-Kitab yang justru mengambil sikap bertolak denga itu. Tanpa ketiga hal yang disebut oleh ayat ini, maka kedudukan mereka sebagai sebaik- baik ummat tidak dapat mereka pertahankan. Kalian adalah ummat yang teru menerus tanpa bosan menyuruh kepada yang ma’ruf yakni apa yang dinilai baik oleh masyarakat; selama sejalan dengan nilai-nilai Ilahi dan mencegah yang munkar. Yakni yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur, pencegahan yang sampai pada bata menggunakan kekuatan, dan karena kalian beriman kepada Allah dengan iman yang benar.

Baca Juga  Memahami Konsep Kemandulan di dalam Al-Qur'an

Sehingga atas dasarnya kalian percaya dan mengamalkan tuntunan-Nya dan tuntunan rasul-Nya; serta melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar itu sesuai denga cara dan kandungan yang diajarkannya. Inilah yang menjadikan kalian meraih kebajikan. Tapi jangan duga Alla pili kasih sebab sekiranya Ahl al-Kitab, yakni orang Yahudi dan Nasrani, beriman sebagaimana keimanan kalian dan mereka tidak bercerai berai, tentulah itu baik juga bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman sebagaimana iman kalian, sehingga dengan demikian mereka pun meraih kebajikan itu dan menjadi pula bagiandari sebaik-baik ummat, tetapi jumlah mereka tidak banyak, kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik, yakni keluar dari ketaatan kepada tuntunan-tuntunan Allah swt.

Kata (كنتم) kuntum yang digunakan ayat di atas, ada yang memahaminya sebagai kata kerja yang sempurna (كان تامة) kata tammah sehingga dia diartikan wujud yakni kamu wujud dalam keadaaan sebaik-baik ummat. Ada juga yang memahaminyadalam arti kata kerja yang tidak sempurna kana naqishah dan dengan demikianiamengandung makna (كان ناقصة ) wujudnya sesuatu pada masa lampau tanpa diketahui kapan itu terjadi, dan tidak juga mengandung isyarat bahwa dia pernah tidak ada atausatu ketika akan tiada. Jika demikian, maka ayat ini berarti kamu dahulu dalamilmuAllah adalah sebaik-baik ummat. Bagaimana pada masa Nabi saw.?

***

Nabi  Muhammadsaw. bersabda: “Sebaik- baik generasi adalah generasiku, kemudian disusul dengangenerasi berikutnya, lalu disusul lagi dengan generasi berikutnya…”. Tetapi di kali lain beliau bersabda: “Ummat ku bagaikan hujan, tidak diketahui awalnya, pertengahannya, atau akhirnyakah yang baik”. Ayat di atas menggunakan kata (اْمة) ummat. Kata ini digunakan untuk menunjuk semua “kelompok yang dihimpunolehsesuatu”, seperti agama yang sama, waktu atau tempat yang sama, baikpenghimpunannya secara terpaksa, maupun atas kehendak mereka.

Baca Juga  4 Alasan Mengapa Al-Qur’an Berbahasa Arab

Dalam kata ummat terselip makna-makna yang dalam. Ia mengandungarti gerak dinamis, arah, waktu, jalan yang jelas, serta gaya, dan cara hidup. Bukankah untuk menuju ke satu arah, harus jelas jalannya, serta Anda harus bergerak maju dengan gaya dan cara tertentu. Dalam konteks sosiologi, ummat adalah “himpunan manusia yang seluruh anggotanya bersama-sama menuju satu arah yang sama, bahumembahu, dan bergerak secara dinamis di bawah kepemimpinan bersama”.

***

Tu’minuna bi-llah dipahami oleh pengarang tafsir “al-Mizan”, Sayyid Muhammad Husain at-Thabathaba’i dalam arti percaya kepada ajakan bersatu untuk berpegang teguh pada tali Allah, tidak bercerai berai. Ini diperhadapkan dengan kekufuran yang disinggung oleh ayat 106, “kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman”. Dengan demikian, ayat ini menyebutkan tiga syarat yang harus dipenuhi untuk meraih kedudukan sebagai sebaik-baik ummat, yaitu amar ma’ruf, nahi munkar, dan persatuan dalam berpegang teguh pada tali/ajaran Allah.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kita sebagai ummat islam yang terus menerus menyuruh kepada yang ma’ruf; yakni apa yang dinilai baik oleh masyarakat selama sejalan dengan apa yang diperintahkan Allah SWT dan mencegah yang munkar. Yakni yang bertentangan perintah dari Allah SWT. pencegahan yang sampai pada batas  menggunakan kekuatan, dan karena kita beriman kepada Allah dengan iman yang benar. Sehingga atas dasarnya kita percaya dan mengamalkan tuntunan-Nya dan tuntunan rasul-Nya. Serta melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar itu sesuai dengan cara dan kandungan yang diajarkannya.

Editor: An-Najmi