Pandemi Covid-19 menjadikan seluruh khalayak di seluruh penjuru dunia mengalami krisis. Tak sedikit yang mengalami frustasi, pesimis, hingga mengakibatkan bunuh diri. Berbagai cara yang dilakukan untuk keluar dari keterpurukan ini. Dunia, Negara, bahkan sampai pada titik circle keluarga merasakan dampaknya. Selama pandemi anggota keluarga berkumpul di rumah dengan segala macam aktivitasnya, termasuk ayah yang bekerja dan anak yang belajar. Berkumpulannya anggota keluarga dengan kesibukannya masing-masing justru kadangkala memberikan tantangan dalam keluarga untuk menjadi keluarga yang qur’ani.
Dilansir dari Kompastv.com yang mengutip hasil penelitian yang dilakukan Nur Asri Aini tentang perceraian di Makassar, bahwa sebanyak 63 persen atau 459 kasus dari 722 kasus penyebab tertinggi karena pertikaian yang terus menerus. Begitu pula penelitian yang dilakukan oleh Nela Fidayayanti yang meneliti tentang kasus perceraian pada masa pandemi Covid-19 di Jambi, bahwa penyebabnya didominasi oleh perekonomian yang mencekik saat pandemi. Sehingga terus menerus rumah tangga terjadi perselisihan dan mengakibatkan perceraian.
Problem Pembelajaran Di Keluarga
Di sisi lain, permasalahan anak menjadi permasalahan yang cukup serius. Anak menjalani kegiatan belajar mengajar hanya melalui gadget dan komputer di rumah santri tanpa monitoring dari guru. Mentoring tentang prilaku anak sebagai output dari pembelajaran yang telah dilakukan selama online baik berupa moral, tata kerama, adab, sopan santun dan lain sebagainya.
Permasalahan lainnya ketika kegiatan belajar dilakukan di rumah, anak kerap kali merasakan maraton tugas sehingga membikin mereka stres berkepanjangan. Perilaku seperti ini justru sangat memprihatinkan untuk kekuatan serta kreativitas daripada anak. Namun bagaimana lagi pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang berbasis IT tetap menjadi solusi yang dianggap paling tepat untuk saat ini.
Dalam kondisi saat ini sepenuhnya dikembalikan kepada orang tua selaku pendidik pertama dan utama bagi seorang anak. Keberagaman kemampuan yang dimiliki para orang tua menjadi unsur penentu setelah apa yang telah dilakukan guru meski dengan jarak jauh. Suka maupun tidak suka, siap maupun tidak siap semua harus menerima kenyataan ini dengan penuh rasa tanggung jawab.
Walaupun berbagai penekanan terkait proses pembelajaran pada masa pandemi ini telah dilakukan dan ditentukan, tentu ada peran orang tua yang aktif mendukung kegiatan pembelajaran yang ada di dalam rumah.
Anak Dalam Al-Qur’an
Padahal secara ontologis Al-Qur’an memandang anak sebagai harapan keluarga dan bangsa. Bahkan maju nya suatu bangsa tergantung bagaimana keluarga mendidik, memberikan perhatian serta memenuhi hak-hak sang buah hati (QS. An-Nisa [4]:9). Abdul Mustaqim dalam hal ini merespon bahwa Al-Qur’an sejatinya memiliki lima pandangan dasar tentang anak: 1. Anak diletakkan sebagai wahbah (anugerah) (QS. Al-An’am [6]: 84, Al-Anbiya’ [21]: 72, QS. Al-Ankabut [29]: 27), 2. Anak sebagai amanah (QS. Al-Anfal [8]: 27, QS. An-Nisa’ [4]: 9).
Adapun selanjutnya, 3. Anak sebagai zinah (hiasan) (QS. Ali Imran [3]: 14), 4. Anak sebagai fitnah (QS. At-Taghabun [64]: 15), 5. Anak sebagai aduw (musuh) (At-Taghabun [64]: 14, QS. An’am [6]: 108). (Mustaqim, 2019, 23) artinya Islam sangatlah memperhatikan anak sebagai generasi yang harus ulet, cekatan, cerdas dan dapat bermanfaat bagi orang lain. Sehingga dapat membangun keluarga yang qur’ani.
Keluarga Qur’ani Di Masa Pandemi
Hidup bahagia, harmonis, tangguh, dan penuh rasa cinta kasih merupakan dambaan setiap pasangan yang menikah. Namun, kenyataan yang dijumpai adalah tidak semua orang dapat mewujudkan cita-cita tersebut. Sebaliknya banyak justru ketegangan, konflik, bahkan perceraian dalam rumah tangga. Ada pula yang berakhir dengan pembunuhan tragis yang disebabkan oleh emosi pasangannya yang meluap dan tidak terkontrol. Oleh karena itu, penting bagi semua keluarga untuk meredam potensi konflik menjadi sangat penting, sehingga keluarga qur’ani yang didambakan oleh khalayak bukan hanya cita-cita belaka. (Abdul Mustaqim, 2019, 94)
Sebenarnya konflik tidak selalu dipandang negatif, jika ia dikelola secara baik dan benar. Sebab, konflik merupakan bagian dari komunikasi antara anggota keluarga baik suami-istri dan anak. Kadang, konflik justru “bumbu penyedap” bagi romantika kehidupan dalam keluarga. Namun, jika konflik tidak segera dicairkan, ia akan membeku, bahkan bisa menjadi sebuah “bom” yang siap meledak dan menghancurkan keluarga. Ada bebarapa kiat yang dapat diaplikasikan untuk meredam konflik dalam keluarga ditengah hiruk pikuknya pandemi covid-19. Sehingga, keluarga akan menjadi damai, tangguh, hebat bahkan akan terhindar dari perceraian dan tindakan kekerasan.
Kiat Meredam Konflik
Pertama, saling memahami peran masing-masing (ayah-ibu dan anak) serta tidak saling menyalahkan satu sama lainnya. sering kali konflik berkepanjangan dalam keluarga terjadi karena masing-masing merasa benar dan menyalahkan yang lainnya. untuk itu, diperlukan sikap saling memahami, memaafkan. Mungkin saja ketika salah satu dari ayah-ibu dan anak sedang khilaf. (Quraish Shihab, 2002, 163)
Kedua, bermusyawarah dalam mengambil sebuah keputusan. Musyawarah adalah bentuk komunikasi yang efektif untuk melerai konflik yang terjadi di keluarga. Anas bin Malik, Nabi Muhammad Saw. Bersabda : “tidak akan menyesal orang yang mau bermusyawarah” bahkan dalam Al-Qur’an “wa syawirhum billati hiya ahsan” (dan hendaklah urusan mereka selalu diselesaikan dengan cara bermusyawarah QS. Asy-Syura [42]: 38).
Ketiga, mudah untuk memaafkan. Memafkan menjadi obat yang paling mujarab untuk meredam bahkan menghentikan konflik. Sebab, memaafkan dapat melapangkan hati seseorang dan menghilangkan kegelisahan yang ada. Maaf merupakan kata yang memiliki unsur penyadaran manusia bahwa di bumi ini tak ada makhluk yang sempurna, punya kekhilafan dan kekurangan (Zainuddin Sardar, 2014, 471).
Memaafkan Ayah Dan Ibu
Upayakan untuk mencari seribu alasan untuk memafkan ayah-ibu dan anak dalam segala bentuk aktivitas. Sebut saja ketika anak melakukan kesalahan ketika proses belajarnya tidak lah baik bagi orang tua untuk mem-bully nya dengan membanding-bandingkannya dengan anak yang lain. Tapi, yang harus dilakukan dengan memaafkannya serta memberikan solusi agar ia tak mengulangi kesalahannya kembali.
Keempat, bersabar. Kesabaran adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi kemarahannya ketika emosi itu udah di ambang-ambang puncaknya. Sabar juga bisa berarti kesungguhan, ketabahan dan keuletan dalam perjuangan mengatasi berbagai persoalan dalam kehidupan, baik masalah ekonomi keluarga, konflik, pendidikan anak, dan sebagainya. Sabar menjadi kunci orang yang berhasil meraih kesuksesan dan keberuntungan (QS. Al-Ashr [103]: 1-3). (Hasbi Ash-Shiddiqie, 1975, 354)
Kelima, bahu-membahu dalam pekerjaan. Anggota keluarga haruslah saling bahu membahu dalam urusan apapun. Sebut saja, ketika pihak ayah sibuk atau kerepotan dalam suatu pekerja maka yang lainnya ikut membantu. Terlebih di masa pandemi yang semua kegiatannya berawal dari rumah saja seperti saat ini justru keluarga harus bekerja secara kolaboratif hingga suatu pekerjaan yang berat terasa ringan jika dilakukan secara bersama-sama. Dengan sikap yang seperti ini justru tak akan ada yang merasa diandalkan tapi semua elemen bergerak, layaknya sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lainnya. (Hamka, 1965, 1588). Keenam, banyak berdoa kepada Allah sang maha khaliq. Agar dikarunia keluarga yang hebat, damai, tangguh dalam menanggapi berbagai problematika terutama agar pandemi ini segera berlalu hingga kehidupan bisa kembali normal kembali. (Fahruddin Faiz, 2021, 131). Wallahu A’lam.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.