Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ru’yatullah dalam Penafsiran Muqatil bin Sulaiman dan At-Thabari

Ru’yatullah
Gambar: www.inhilnews.com

Penafsiran al-Quran memiliki ciri khas dan coraknya masing-masing. Hal ini disebabkan karena latar belakang keilmuan serta kondisi historis-politik para mufassir yang berbeda-beda. Meski penafsiran telah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad dan berkembang hingga saat ini. Namun masih terdapat beberapa diskursus yang menarik dikaji. Salah satunya yakni terkait ru’yatullah atau melihat Allah SWT.

Dalam kitab Tafsir wal Mufassirun karya ad-Dzahabi, disebutkan bahwa beberapa ulama yang bergolongan Mu’tazilah dan Syiah menafsirkan bahwa kelak manusia akan dapat melihat dzat Allah SWT.

 Berbeda dengan golongan Sunni yang percaya bahwa yang dimaksud ru’yatullah bukan melihat Allah SWT dengan mata telanjang. Melainkan kelak umat manusia dapat melihat ganjaran baik dari Allah SWT. Yakni pahala atas amal-amal baik yang mereka kerjakan selama hidup di dunia. Berdasarkan isu tersebut, penulis hendak membahas ru’yatullah dengan merujuk pada Q.S. al-Qiyamah ayat 22-23 dari perspektif Muqatil bin Sulaiman yang bermadzhab Syi’ah. Kemudian menyandingkannya dengan penafsiran at-Thabari yang bermadzhab Sunni.  

Profil Muqatil bin Sulaiman

Sebelum masuk kepada pembahasan, perlu diketahui biografi singkat dari masing-masing mufassir yang akan dibahas dalam tulisan ini. Dimulai dengan Muqatil bin Sulaiman. Ia merupakan seorang ahli dalam berbagai bidang ilmu agama, khususnya ilmu tafsir. Hidup di zaman akhir Dinasti Umayyah yang dipimpin oleh Marwan bin Muhammad. Hingga peralihan kekuasaan oleh Dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh Abu Abbas al-Saffah.

Muqatil memiliki nama lengkap Muqatil bin Sulaiman al-Adzi al-Khurasani. Ia dilahirkan di sebuah kota di daerah Khurasan yang bernama kota Balkh. Tidak diketahui secara pasti kapan Muqatil dilahirkan. Namun terdapat sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa ia dilahirkan 4 tahun setelah wafatnya al-Dahhak bin Muzahim al-Hilaly. Yakni pada tahun 109 H.

Baca Juga  Wasiat Luqman Al-Hakim; Pendidikan Karakter dalam Al-Qur’an

Berdasarkan penelusuran literatur, tidak ditemukan bagaiamana perjalanan awal hidup Muqatil. Kecuali hanya ditemukan bahwa ia memulai perjalanan untuk menimba ilmu dengan pergi ke Irak tepatnya kota Bashrah. Kemudian ke Kufah dan kembali lagi ke Bashrah hingga akhirnya wafat pada tahun 150 H.

Muqatil seringkali disebut sebagai intelektual yang gemar belajar serta menghasilkan berbagai karya tulis. Hal ini dapat dilihat dalam salah satu karyanya dalam bidang tafsir yang berjudul Tafsir al-Kabir atau biasa juga disebut dengan Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Tak hanya itu, al-Wujuh wa al-Nadzair fi al-Quran al-Adzim, Mutashabih al-Quran, at-Taqdim wa at-Ta’khir. Serta masih banyak lagi merupakan hasil karya tulis dari Muqatil bin Sulaiman.

Profil At-Thabari

Selanjutnya, biografi at-Thabari. Beliau memiliki nama lengkap Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Katsir ibn Ghalib at-Thabarir. Namun lebih sering disebut sebagai Ibnu Jarir at-Thabari. At-Thabari dilahirkan pada tahun 224 H di kawasan Thabaristan dan wafat di Baghdad pada tahun 310 H. Selama masa hidupnya, at-Thabari dikenal sebagai seorang cendekiawan yang pendapatnya selalu dijadikan sebagai rujukan.

Hal tersebut dikarenakan, pada zamannya at-Thabari dianggap sebagai ulama yang menguasai hampir seluruh keilmuan agama yang mencakup al-Quran, hadis maupun fikih. Sebagai bukti atas keluasan ilmunya, terdapat banyak karya tulis at-Thabari yang dapat ditemukan. Di antaranya yakni Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Quran serta Tarikh al-Umam wa al-Mulk.

Penafsiran Muqatil bin Sulaiman tentang Ru’yatullah

Allah berfirman dalam Q.S. al-Qiyamah ayat 22-23:

إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ   وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ

Artinya: Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan-Nya lah mereka melihat.

Muqatil bin Sulaiman terkenal dengan penafsirannya terhadap al-Quran secara tekstual. Seperti yang pernah disinggung juga dalam The Origins of Kufan Grammar and The Tafsir Muqatil, dimana disebutkan bahwa Muqatil sendiri berpendapat bahwa setiap orang dengan akal sehat pasti mampu memahami al-Quran tanpa perlu tuntutan ilmu khusus untuk memahaminya.

Baca Juga  Dunia Itu Hina, benarkah demikian?

Pada ayat di atas, merujuk pada Tafsir Muqatil bin Sulayman karya Abdullah Mahmud Syahatah, Muqatil menafsirkan وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ yakni wajah orang mukmin putih dan bersinar. Kemudian dijelaskan lebih lanjut bahwa hal tersebut disebabkan karena mereka orang mukmin dahulu banyak mengerjakan kebaikan. Beralih pada ayat selanjutnya, إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ  ditafsirkan sebagai bahwasannya mereka orang mukmin kelak dapat melihat Allah SWT (ru’yatullah) tanpa perlu bersusah payah.

Penafsiran At-Thabari tentang Ru’yatullah

Berbeda dengan Muqatil yang menafsirkan al-Quran cenderung secara tekstual atau sebatas pada makna zahir, at-Thabari dalam tafsirnya Jami’ al- Bayan fi Tafsir al-Quran, menafsirkan Q.S. al-Qiyamah ayat 22-23 yakni وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ bermakna wajah-wajah orang mukmin pada hari kiamat berseri-seri dan rupawan, إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ yakni mereka orang mukmin dapat melihat pada Tuhannya.

Namun dalam kitab tafsirnya, menyangkut Q.S. al-Qiyamah ayat 22-23 terdapat beberapa ulama yang menafsirkannya sebagai melihhat pahala atau ganjaran baik dari Allah SWT atas kebaikan yang telah mereka lakukan selama hidup. Penjelasan tersebut pada akhirnya menjadi kesimpulan at-Thabari terhadap penafsiran  Q.S. al-Qiyamah ayat 22 sampai 23 dengan merujuk kepada beberapa riwayat hadis yang memiliki makna serupa. Beberapa perawi hadis tersebut diantaranya yakni Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Muhammad bin Ali al-Hasan al-Syaqiq, serta Ibrahim bin Said al-Jauhari.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, terlihat bahwa dalam menafsirkan Q.S. al-Qiyamah: 22-23, Muqatil dan at-Thabari memiliki penafsiran yang berbeda. Muqatil yang terkenal dengan penafsirannya secara tekstual menafsirkan إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ sebagai bahwa kelak orang mukmin dapat meilhat Allah (ru’yatullah) dengan jelas dan tanpa bersusah payah.

Di sisi lain, meskipun at-Thabari juga menafsirkan إِلَىٰ  رَبِّهَا نَاظِرَةٌ sebagai melihat Allah SWT (ru’yatullah), namun ia juga tetap mempertimbangkan pendapat ulama lain khususnya yang bersumber dari hadis Nabi.

Baca Juga  Membuka Dogma Beragama: Antara Identitas dan Kesadaran

Oleh karena itu, pada kesimpulannya, at-Thabari sepakat dengan pendapat yang menyatakan bahwa إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ tidak diartikan sebagai melihat Allah SWT (ru’yatullah) secara langsung. Melainkan kelak orang mukmin dapat melihat atau menerima pahala dari Allah SWT sebagai ganjaran atas kebaikan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia.

Penyunting: Bukhari