Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mengapa Kita Harus Beriman kepada Hari Akhir?

Sumber: istockphoto.com

Salah satu hal yang wajib dipercayai adalah iman kepada hari akhir. Keimanan ini menegaskan bahwa kehidupan tidak selamanya di dunia. Ada kehidupan lain setelahnya. Kehidupan ini lebih kekal daripada kehidupan di dunia. Ini yang disepakati para ulama ketika memahami beberapa Al Qur’an dan Hadis terkait dengannya.

Hari akhir memang belum terjadi. Namun, sebagai pilar keimanan, ia harus dipercayai sepenuh hati tanpa keraguan. Hari akhir pasti terjadi yang diawali dengan kehancuran dunia dan segala isinya. Banyak ayat Al Qur’an yang menginformasikan hal ini.  Dalam al-Qur’an disebutkan misalnya yaum al-qiyamah, al-yaum al-akhir, al-haqqah, al-qari’ah, juga istilah lainnya. Yang semuanya itu mengarah pada makna kejadian ketika dunia hancur dan gambaran hari akhir.

Hari akhir pasti terjadi. Dunia tidak kekal. Sementara yang kekal adalah Yang Maha Menciptakan. Lebih lanjut, ketika hari akhir dipercayai, apa maknanya bagi kehidupan manusia? Bukankah hari akhir belum terjadi dan sebagai muslim kita harus mempercayainya?

Alasan Mempercayai Hari Akhir

Pertama, hari akhir berhubungan dengan penentuan keputusan posisi akhir manusia. Apakah ia selamat atau celaka atau yang biasa digambarkan dengan surga atau neraka. Apa yang dilakukan di dunia, nanti akan diperlihatkan hasilnya di akhirat. Manusia akan melihat hasil dari perbuatan baik atau buruknya, seperti pada QS al Zalzalah:7-8. “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya”.

Dalam Tafsir Kemenag (2022) disebutkan bahwa kedua ayat ini menjelaskan bahwa Allah merincikan balasan amal masing-masing. Barang siapa beramal baik, walaupun hanya seberat atom niscaya akan diterima balasannya, dan begitu pula yang beramal jahat walaupun hanya seberat atom akan merasakan balasannya. Amal kebajikan orang-orang kafir tidak dapat menolong dan melepaskannya dari siksa karena kekafirannya. Mereka akan tetap sengsara selama-lamanya di dalam neraka. Sehingga, sekecil apapun perbuatan baik dan buruk, manusia akan melihatnya.

Baca Juga  Kontekstualisasi Adzab Kaum 'Ad di Masa Kini

Kesadaran ini hendaknya ditanamkan dalam keimanan. Kehidupan tak terhenti di dunia. Ada kehidupan lain kelak yang akan dialami dalam ruang waktu yang berbeda sebagai   pembalasan amal di dunia.

***

Kedua, kesadaran akan harapan bahwa kebaikan akan dibalas kebaikan begitu pun sebaliknya keburukan akan terbalas keburukan, apabila tidak bertobat.  Hari akhir menyediakan ruang pembalasan bagi yang baik akan tersedia kebahagiaan  baginya. Sebaliknya, bagi perbuatan buruk akan mendapatkan ancaman. Pahala kebaikan adalah kehidupan yang diridai karena berat timbangan amalnya. Ancaman neraka bagi orang yang berperilaku jahat karena ringan timbangannya.

Al Qur’an menginformasikannya pada QS al-Qari’ah (hari kiamat yang menggetarkan) ayat 6 sd 9, “Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya,dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, tempat kembalinya adalah (neraka) Hawiyah.” 

Allah menjelaskan tentang ganjaran bagi orang-orang yang banyak melakukan amal kebajikan, yaitu ketika amal mereka ditimbang dan timbangannya berat karena banyak mengerjakan amal-amal saleh. Ganjaran bagi orang-orang ini adalah kesenangan abadi di surga. Mereka hidup di dalamnya penuh dengan kebahagiaan, kenikmatan, dan kepuasan. (Tafsir Kemenag, 2022)

Sebaliknya, nasib orang-orang jahat yaitu bila amal orang-orang jahat itu ditimbang dan timbangannya itu ringan karena banyak mengerjakan kejahatan dan sedikit mengerjakan kebajikan di dunia maka mereka akan ditempatkan dalam neraka Hawiyah tempat penyiksaan orang-orang jahat, tempat hidup sengsara; suatu tempat yang mereka dijerumuskan ke dalamnya. (Tafsir Kemenag, 2022)

***

Ketiga, setiap perilaku harus dipertimbangkan dengan matang. Perbuatan yang ditampilkan hendaknya sesuai dengan kebaikan. Begitu pun kehati hatian bila ada maksud untuk berbuat jahat. Sebab, keduanya akan berujung pada konsensuansi.

Tidak ada satu perilaku pun yang tidak akan terbebas dari konsekuensi balasan. Hari akhir adalah hari pembalasannya.

Baca Juga  Konsep Fikih dalam Syariat Hukum Islam

Keimanan kepada hari akhir dimaknai untuk sikap waspada dan hati hati dalam berbuat. Hari akhir memang belum terjadi. Namun, keimanan kepadanya dicerminkan hari ini.

Sungguh baik ajaran Islam yang diarahkan pada perbuatan manusia. Niat berbuat baik saja sudah dicatat pahala apalagi melakukannya. Berbeda dengan keburukan, ia harus dicatat setelah perbuatan ditampilkan sementara ketika masih niat dan tidak diwujudkan dalam perbuatan, keburukannya tidak tercatat. Sungguh pemurah Allah terhadap hamba-Nya.

Keempat, keimanan kepada hari akhir menyadarkan diri atas keadilan Allah atas perbuatan manusia. Dalam pandangan umum, setiap orang diberi konsekuensi sesuai dengan perbuataan. Namun terkadang kenyataan itu tidak semuanya tepat. Misalnya, ada orang yang tidak sama sekali melakukan tindak pidana tertentu. Ia dituduh melakukan hal itu yang sebenarnya ia tidak melakukan. Pada saat di dunia, mungkin Ia tidak bisa berbuat banyak untuk menuntut keadilan. Tapi di hari akhir, semuanya bisa terbuka mana yang benar dan mana yang salah. Keadilan Allah akan terwujud.

***

Beberapa uraian di atas setidaknya akan menguatkan seorang muslim akan pertanggungjawaban di akhir. Sebab, apa yang terjadi di dunia tidak mesti harus terbalas langsung di dunia, meskipun ada yang mungkin langsung terbalas. Balasan yang pasti akan terwujud di akhirat kelak.

Editor: An-Najmi