Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Meneladani Kisah Sayyidah Maryam dalam Berpuasa

Sumber: https://www.iqraayamuslim.com

Kisah berpuasa Sayyidah Maryam terdapat dalam Al-Qur’an Surah Maryam ayat 26. Ayat tersebut menceritakan bahwa ketika Sayyidah Maryam melahirkan Nabi Isa AS di tempat yang jauh dari keluarganya; ia merasakan rasa lapar dan dahaga yang sangat kuat. Namun, Sayyidah Maryam tetap menahan lapar dan dahaga itu, dan tidak makan serta minum selama beberapa waktu.

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Artinya: “maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.

Puasa Sayyidah Maryam

Aksi puasa Sayyidah Maryam dalam kondisi yang sedemikian sulit, adalah bukti nyata dari keteguhan iman dan kesabaran yang dimiliki. Ia mampu menahan lapar dan dahaga yang kuat dalam kondisi yang sangat sulit; semata-mata hanya karena ia beriman dan percaya kepada Allah SWT.

Dalam ajaran Islam, puasa adalah salah satu dari lima rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim pada bulan Ramadan. Puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran; memperkuat iman, serta membentuk sifat-sifat kebaikan seperti kedisiplinan, kebersihan, dan keteguhan hati.

3 Hikmah Puasa dalam Kisah

Dalam kisah berpuasa Sayyidah Maryam, terdapat beberapa hikmah yang dapat diambil oleh umat muslim. Pertama, kegiatan puasa adalah bentuk pengorbanan yang disertai dengan keyakinan yang kuat kepada Allah SWT. Hal ini memperkuat iman dan memperkuat ikatan antara hamba dengan Allah SWT.

Baca Juga  Keselarasan Islam dan Teologi Pembebasan

Kedua, puasa juga dapat melatih kesabaran, baik dalam menghadapi ujian maupun dalam memenuhi kewajiban kepada Allah SWT. Seperti halnya Sayyidah Maryam yang mampu menahan lapar dan dahaga dalam situasi yang sangat sulit. Umat Muslim juga harus dapat menghadapi berbagai ujian hidup dengan kesabaran dan keikhlasan yang sama.

Ketiga, puasa juga dapat memperkuat kemampuan mengendalikan diri, karena puasa mengajarkan untuk menahan diri dari hawa nafsu, makan, dan minum. Dengan kemampuan mengendalikan diri, umat muslim dapat menjadi lebih disiplin dalam menjalankan kewajiban agama serta dalam kehidupan sehari-hari.

Puasa Berbicara

Dalam kisah berpuasa Sayyidah Maryam, terlihat bagaimana ia dapat mempertahankan imannya dalam situasi yang sangat sulit. Bahkan ketika ia merasakan lapar dan dahaga yang sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa kesabaran dan keteguhan hati; adalah kunci untuk mempertahankan iman dan keimanan kepada Allah SWT, serta memperkuat ikatan antara hamba dan Sang Pencipta.

Namun, puasa yang juga dilakukan Sayyidah Maryam adalah puasa bicara. Ia tidak bicara kepada siapapun saat kembali kepada kaumnya dengan menggendong Nabi Isa. Puasa jenis ini diamalkan demi menghalau tuduhan keji dan hina dari Bani Israil. Pada akhirnya, dengan izin Allah Nabi Isa yang masih dalam buaian menjawab tuduhan dengan berbicara layaknya orang dewasa. Inilah keajaiban dan berkah dari perintah puasa berbicara yang ditujukan kepada Sayyidah Maryam.

Keteguhan Sayyidah Maryam

Kisah keteguhan Sayyidah Maryam di dalam Al-Qur’an terdapat pada Surah Maryam ayat 16-34. Ayat-ayat tersebut menceritakan bagaimana Sayyidah Maryam menerima kabar dari Malaikat Jibril. Bahwa ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi Nabi Isa AS, meskipun ia belum menikah dan tidak memiliki suami. Sayyidah Maryam merespons dengan kebingungan dan bertanya-tanya bagaimana mungkin ia bisa hamil tanpa suami.

Baca Juga  Dinamika Wacana Antropologi Islam

Dalam penafsiran, kisah ini menunjukkan keteguhan hati dan keimanan Sayyidah Maryam kepada Allah SWT. Meskipun ia tidak bisa memahami bagaimana mungkin hal itu terjadi, ia menerima kabar tersebut dengan lapang dada dan percaya bahwa segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah SWT.

Selain itu, kisah ini juga menunjukkan keagungan dan kebesaran Allah SWT, yang mampu menciptakan segala sesuatu dengan kehendak-Nya. Dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 47, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menciptakan sesuatu dengan firman-Nya: ‘Jadilah’, maka jadilah ia.

Hikmah Kisah Sayyidah Maryam

Hikmah yang dapat dipetik dari kisah keteguhan Sayyidah Maryam adalah pentingnya memiliki keimanan yang kuat kepada Allah SWT. Kita sebagai manusia tidak bisa mengontrol atau memahami segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, tetapi kita bisa percaya bahwa Allah SWT adalah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui atas segala sesuatu.

Selain itu, kisah ini juga menunjukkan pentingnya menerima takdir dan ujian yang diberikan oleh Allah SWT dengan lapang dada dan keikhlasan hati. Setiap ujian dan takdir yang Allah berikan pasti memiliki hikmah di baliknya, bahkan jika pada awalnya kita tidak bisa memahami atau menerimanya.

Kisah keteguhan Sayyidah Maryam juga mengajarkan tentang pentingnya menjaga diri dari godaan dan godaan syaitan. Meskipun Sayyidah Maryam berada dalam kondisi yang sangat sulit dan menjadi bahan omongan oleh orang lain, ia tetap mampu menjaga kehormatan dan martabatnya sebagai seorang wanita muslim.

Kesimpulan

Kesimpulannya, kisah keteguhan Sayyidah Maryam adalah salah satu contoh kisah dalam Al-Qur’an yang dapat memperkuat iman dan membangun keteguhan hati bagi umat Muslim. Ia menjadi inspirasi bagi kita untuk terus berjuang dalam menghadapi berbagai ujian hidup, menjaga keimanan dan keikhlasan hati, serta selalu mengingat dan memuji Allah SWT dalam segala situasi.

Baca Juga  Memahami Perayaan Natal di Indonesia Lewat Buya Hamka