Ma Sya Allah (ما شاء الله) sering terdengar. Atau mungkin kita pernah dan sering menyebutkannya. Kalimat ini biasanya diucap ketika melihat sesuatu yang terjadi. Atau kejadian yang biasanya tidak terjadi, atau mungkin kejadian yang disangka oleh manusia tidak bisa terjadi.
Ma Sya Allah bukan hanya sekadar ucapan. Kalimat ini mengandung makna yang cukup mendalam dalam keimanan. Sebagai manusia, kita meyakini bahwa Allah yang telah menciptakan dan mengatur semuanya. Keyakinan kita mengarah pada apa yang terjadi sebenarnya tidak keluar dari apa yang digariskan oleh-Nya. Kejadian yang tampak rutin juga yang tidak biasa, semuanya berada dalam genggam pengaturan dan kehendak-Nya.
Manusia memiliki kehendak. Tapi, ia tidak bisa berkehendak, jika Allah tidak menciptakan kehendak padanya. Apa Makna Ma Sya Allah? Berikut penjelasannya.
Makna Ma Sya Allah
Dalam KBBI (2019), ma sya Allah diartikan kata seru untuk menyatakan perasaan heran, sayang, dan keterkejutan (maknanya apa yang dikehendaki Allah). Penulisan masya Allah pada KBBI ini seolah hanya ada dua kata yaitu masya dan Allah. Padahal, sebenarnya ia terbentuk dari tiga kata yang berasal dari bahasa Arab, yaitu ma, sya’a, dan Allah. Namun ketika ia masuk menjadi bahasa serapan dari bahasa Arab, pengaturan katanya mengikuti yang disepakati oleh pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud RI. Sebab, kata ini banyak diperdengarkan atau dikenal oleh kebanyakan masyarakat muslim di Indonesia.
Struktur tiga kata ini memiliki arti masing-masing. Kata ma berarti sesuatu, sya’a berarti berkehendak, dan Allah adalah Allah (Tuhan Yang Maha Berkehendak). Susunan ini secara sederhana berarti sesuatu yang dikehendaki oleh Allah atau sesuatu yang Allah menghendakinya.
Apabila ditinjau dari sisi gramatika, kalimat ini diurai sebagai berikut. Kata ma berfungsi isim maushul bermakna alladzi (berarti yang), bersifat tetap (mabni) dalam posisi pokok kata (mubtada’). Kata sya’a berbentuk kata kerja untuk lampau (fi’il madhi). Allah menempati posisi subjek (fa’il) yang marfu’ dengan ciri dhammah pada akhir kata. Karena ma adalah isim maushul, maka gabungan kata sya’a Allah menjadi shilah al-mausul atau penghubung makna dari isim maushul. (https://www.isalna.com).
***
Dalam rangkaian fungsi kalimat telah tergambar bahwa kalimat ini diartikan sesuatu yang dikehendaki Allah. Atau bisa jadi memungkinkan makna lain, Allah berkehendak terhadap segala sesuatu. Kehendak-Nya berdiri sendiri yang tidak ada sesuatu pun yang menandingi dan mengalahkan kehendak-Nya.
Dalam Fatwa Nomor 160063 pada Islamic.web (diakses pada 25 Februari 2022), kalimat ini lengkapnya adalah ma sya’a allah kana wa ma lam yasya’ lam yakun (ما شاء الله كان، ومالم يشأ لم يكن). Artinya, apa yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki oleh-Nya pasti tidak akan terjadi. Apapun yang terjadi dan tidak terjadi, pastinya sesuai dengan kehendak Allah. Tidak ada satu pun kejadian terlepas dari kehendak-Nya.
Allah adalah Tuhan Yang Maha Menciptakan, Mengatur, dan Berkehendak. Apa yang telah menjadi ketetapan-Nya pasti akan terjadi. Kehendak-Nya meliputi segala hal. Sesuatu yang terjadi pasti ada dalam kehendak-Nya. Pernyataan ini menjadi keyakinan orang beriman ketika menghadapi segala sesuatu atau mengalami kejadian dalam kehidupannya. Orang beriman mengaitkan kepercayaan pada penyerahan keputusan apa yang terjadi pada kehendak Allah. Sebab, Allah Maha Sempurna dan terbebas dari segala sifat kekurangan.
***
Syaikh Abdul Muhsin al-‘Ubbad dalam Syarh Sunan Abi Daud (2003) mengemukakan:
“Engkau tahu bahwa apa yang menimpamu tidak mungkin meleset bagimu. Ini adalah makna dari iman pada takdir. Maknanya adalah sesungguhnya Allah telah menetapkan sesuatu yang pasti akan terjadi, yang tidak mungkin di dalamnya terdapat kesalahan. Engkau tidak akan bisa menghindari apa yang akan terjadi pada dirimu. Apa yang terjadi tidak mungkin salah dari ketetapan-Nya”.
Al-‘Ubbad menjelaskan pula salah satu hadis dari wasiat Nabi Saw pada Ibnu Abbas ra. Nabi Saw bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya jika umat berkumpul untuk memaafkanmu, mereka tidak akan memaafkanmu kecuali dengan ketetapan-Nya untukmu. Begitu pun, jika mereka ingin menyakitimu, mereka tidak akan bisa menyakiti kecuali dengan ketetapan-Nya untukmu”. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidzi berstatus hasan sahih.
Kapan Ma Sya Allah Diucapkan?
Dalam hadis riwayat Anas. ra yang dikutip oleh Imam Nawawi dalam al-Adzkar (2003) diceritakan bahwa Nabi Saw. bersabda: ”Siapa saja yang melihat sesuatu yang membuatnya takjub, hendaklah ia berkata Ma Sya Allah La Quwwata illa bi Allah. (Sesuatu telah dikehendaki oleh Allah dan tiada kekuatan selain kekuatan-Nya)”. Hadis ini mengajarkan doa bagi seseorang ketika melihat sesuatu yang menakjubkan, juga ketika ia merasa khawatir jika hal ini madarat bagi diri dan keluarga.
Wallahu A’lam.




























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.