Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Belajar Keindahan Puasa Lewat Kisah Keluarga Nabi dalam Al-Qur’an

keluarga nabi
Sumber: https://www.sobranews.com

Keluarga Nabi merupakan keluarga terhormat di dalam Islam. Mereka selalu menjadi teladan bagi umat Islam dalam beribadah, berakhlak, dan dalam menegakkan agama. Dalam Al-Qur’an, terdapat satu surat yang mengisahkan tentang keluarga Nabi yang berpuasa, yaitu surat Al-Insan.

Surat Al-Insan merupakan surat ke-76 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari 31 ayat. Surat ini mengandung banyak pelajaran dan hikmah bagi umat Islam. Salah satu ayat yang menceritakan tentang keluarga Nabi yang berpuasa adalah ayat ke-8.

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

Artinya: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.

Kisah Puasa Keluarga Nabi

Ayat ini menceritakan tentang keluarga Nabi yang berpuasa dan memberikan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan seperti orang miskin, yatim piatu, dan orang yang ditawan.

Di masa kecilnya, Hasan dan Husain as. menderita suatu penyakit. Nabi akhirnya datang ke rumah Ali dan Fatimah untuk menjenguk dua cucunya yang sakit. Ketika Nabi melihat kedua anaknya, beliau berkata kepada Ali as.: Bernazarlah supaya Allah akan menghilangkan penyakit mereka!”

Setelah Ali as. langsung berkata: Ya Allah, jika kedua anakku sembuh, maka aku akan berpuasa selama tiga hari. Fatimah juga membuat janji seperti itu; bahkan Hasan dan Husain – meskipun mereka masih muda – melakukan hal yang sama, yaitu. mereka mengikuti orang tua mereka berpuasa selama tiga hari.

Segera setelah itu, penyakit jantung kedua Rasul menghilang dan tiba saatnya bagi mereka untuk memenuhi nazarnya. Pada hari pertama, Ali as. sudah menyiapkan tepung (sejenis gandum yang kualitasnya lebih rendah dari gandum) untuk berbuka puasa selama tiga hari itu, dan tepung itu dibagi menjadi tiga bagian. Sebagian disisihkan untuk memanggang roti sebagai santapan di hari pertama berbuka puasa. Baru saja mereka akan berbuka puasa, mereka mendengar ketukan di pintu bahwa seorang miskin datang meminta makanan.

Baca Juga  Syaikh Yasin al-Fadani, Ulama Nusantara yang Mendunia
***

Ali as. memberikan rotinya kepada orang miskin, begitu pula Fatimah; semua anggota keluarga lainnya juga memberikan sedekah kepada fakir miskin yang datang. Dan hari itu mereka berbuka puasa hanya dengan air putih.

Keesokan harinya mereka juga berpuasa dan dengan sepertiga dari tepung mereka ingin berbuka, tetapi terdengar suara dari luar rumah. Salah satu anak yatim di kota ini, ia lapar, dan meminta makanan untuk mengisi perutnya yang kosong. Kembalilah Ali as. memberikan porsi puasa kepada anak yatim, dan anggota keluarga lainnya dengan tulus mengikutinya. Maka, malam kedua sama dengan malam pertama, berbuka puasa hanya dengan air putih.

Pada hari ketiga, seperti yang dijanjikan, mereka berbuka puasa dan seperti pada hari pertama dan kedua, sejarah terulang kembali. Kali ini tahanan datang dan meminta bantuan dari keluarga suci ini, kembali seluruh keluarga memberinya porsi buka puasa dan ketiga kalinya mereka berbuka puasa hanya dengan air. Dan akhirnya, janji itu terbayar.

Hikmah Kisah Keluarga Nabi

Hikmah dari ayat ini adalah bahwa Islam mengajarkan tentang kepedulian terhadap sesama. Seorang Muslim harus selalu berusaha untuk membantu orang yang membutuhkan. Puasa bukan hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga untuk meningkatkan kepedulian dan empati terhadap orang lain. Puasa membuat seseorang lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan memberikan kesempatan untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Selain itu, ayat ini juga menunjukkan bahwa memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat dihargai oleh Allah SWT. Dalam Islam, memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan adalah salah satu amal yang paling utama dan akan mendapatkan pahala yang besar di akhirat. Keluarga Nabi juga mengamalkan al-itsar (mendahulukan orang lain) sebagai bentuk puncak akhlak tertinggi.

Baca Juga  Lima Kisah dalam Surat Al-Kahfi

Kisah keluarga Nabi dalam ayat ini juga menunjukkan contoh yang baik dalam beramal saleh. Mereka memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan tanpa mengharapkan imbalan atau pujian dari orang lain. Mereka melakukan amal saleh dengan tulus ikhlas karena Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, amal saleh harus dilakukan dengan ikhlas dan tanpa mengharapkan balasan dari manusia.