Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Sindiran Al-Quran Untuk Orang yang Lalai Terhadap Fenomena Alam

Fenomena Alam
Gambar: babel.inews.id/

Al-Quran dengan segala yang terkandung di dalamnya menekankan penganutnya untuk memperhatikan segala aspek kehidupan di alam raya ini. Alam yang begitu besar nan indah dengan segala eksotisnya ini, jika benar-benar diperhatikan oleh manusia akan menghasilkan dampak positif yang akan mempengaruhi kehidupan manusia tentang eksistensinya, kualitasnya, keilmuan serta keimananya.

Maksud memperhatikan disini yaitu bukan hanya sekedar melihat dengan mata. Akan tetapi memperhatikan dan merenungkan serta mengambil ibrah selanjutnya diimplementasikan dalam bentuk keimanan penuh. Al-Quran menyindir kebanyakan manusia yang lalai dalam hal ini. Mereka menganggap bahwa fenomena alam sebagai kejadian alamiah yang biasa terjadi begitu saja (taken for granted). Mereka kurang mendayagunakan indra, akal maupun potensi lainya untuk menangkap sinyal kekuasaan Allah.

Padahal sinyal-sinyal tersebut termanifestasi lewat fenomena alam dan kejadian yang terhampar luas di jagad raya ini. Keteraturan fenomena alam dengan segala pola ketersusunya dan perbedaanya menunjukkan eksistensi pencipta. Tidak hanya itu terpampangnya fenomena alam sekaligus bukti kekuasaan, keesaan, pengetahuan, kebijaksanaan dan keagungan sang pencipta. (Imron Rossidi, Fenomena Flaura & Fauna dalam Al-Quran, Hal. 3).

Penekanan Al-Quran Agar Memeperhatikan Fenomena Alam

Penekanan agar manusia selalu memperhatikan fenomena alam termaktub dalam Q.S Yunus [10]: 101 Allah Swt Berfirman yang artinya “Katakanlah: perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi! Tidaklah manfaat tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi mereka yang tidak beriman

Mengapa Alquran sangat menekankan agar selalu memperhatikan hal ini? Agar mereka mengetahui secara yakin bahwa di balik semua itu tentu ada pencipta yang mengatur hukum alam dengan segala digdayanya. Juga agar mereka tahu bahwa alam raya begitu luas dengan segala isinya ini tidak diciptakan dengan cuma-cuma, namun dalam tujuan agung dalam penciptaannya, yaitu seakan-akan sang pencipta memperlihatkan ayat (tanda) kekuasaan, keagungan, dan kebesaranya dihadapan makhulknya.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 29: Bumi dan Tujuh Langit

Kendati demikian Al-Quran sangat menekankan kepada manusia untuk mempelajari fenomena alam, menemukan hukum-hukum keteraturannya, melihat tanda-tanda kekuasaannya.

Sindiran Terhadap Umat Islam yang Lalai Terhadap Fenomena Alam

Namun dalam praktiknya umat Islam di era modern ini begitu lalai dan kurang antusias menyambut seruan Al-Quran tersebut. Mereka kurang peka, kurang jeli dan kurang terlatih dalam menangkap fenomena alam. Sehingga mereka stagnan dalam kemajuan keilmuan dan teknologi, sebab mereka menganggap bahwa semua yang ada dalam alam raya ini merupakan takdir Allah, tanpa mengkajinya secara radikal.

Padahal Malik Bardi dalam bukunya Tafakkur Prespektif Psikologi Islam mengatakan “Dalam Al-Quran Allah Swt. mengajak kaum berakal untuk memikirkan hal-hal yang sering diabaikan orang lain, atau yang biasa dikatakan sebagai hasil dari evolusi, kebetulan atau keajaiban alam belaka. Al-Quran menekankan agar berpikir rasinonal namun juga dibarengi metafisik dan supranatural”.

Refleksi Surah Yusuf Ayat 105

Firman Allah dalam Q.S Yusuf [12]: 105 benar-benar merefleksi kondisi umat Islam dewasa ini agar tidak lalai melihat fenomena alam.

وَكَاَيِّنۡ مِّنۡ اٰيَةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ يَمُرُّوۡنَ عَلَيۡهَا وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُوۡنَ‏

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.

Jika diperhatikan ayat tersebut merupakan kritikan dan sindiran terhadap umat Islam yang lalai terhadap fenomena empiris. Meskipun umat Islam sepanjang zaman secara metafisis sadar bahwa fenomena alam adalah tanda-tanda kekuasaan tuhan, akan tetapi lantaran lemahnya dalam metodologi ilmiah mereka kurang mampu memformulasikan hukum-hukum regularitas fenomena alam secara sistematis sehingga menghasilkan teori-teori ilmiah yang bermanfaat.

Itulah mengapa ayat tersebut menyebutkan “berpaling” sebab mereka cuek, tak acuh dan tidak ingin tahu kejadian alam disekitarnya. Lebih parahnya lagi Zakir Naik dalam bukunya Jelajah Alam Bersama Al-Quran pedas menyatakan, bagi orang yang tidak mau berfikir dan menggunakan indranya untuk memperhatikan berbagai tanda kekuasaan Allah di jagad raya ini. Maka statusnya lebih dekat pada binatang, bahkan lebih buruk dari pada binatang.  

Baca Juga  Kajian Tafsir Ilmi: Sidik Jari dalam Al-Qur’an

Umat Islam yang seperti ini kurang berhasil memahami realitas fisik-empiris fenomena alam. Maka konsekuensinya umat Islam kurang aktif dalam memberi kontribusi dalam bidang ilmu pengetahuan modern. Pada akhirnya umat Islam kalah dengan barat yang mayoritas non-Muslim dibidang ilmu pengetahuan alam.

Sindiran Al-Quran Terhadap Saintis Barat

Dewasa ini Barat menjadi kiblat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka sangat antusias, peka, teliti dan detail dalam mengkaji serta memahami fenomena alam. Selain itu mereka juga melengkapinya dengan metodologi ilmiah yang canggih, namun lantaran terpengaruh faham materialisme yang menjadi aktivitas mereka, maka fenomena alam yang mereka fahami sebatas realitas fisik belaka guna memahami kebutuhan duniawi semata.

Mereka melalaikan realitas metafisik yang bersifat spiritual yang bisa mencapai kebahagiaan di akhirat kelak. Keeksotisan alam ini tidak dapat mengantarkan kepada Allah Swt. Sehingga Allah Swt. berfirman dalam Q.S al-Ruum [30]: 7:

يَعۡلَمُوۡنَ ظَاهِرًا مِّنَ الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا ‌ۖ وَهُمۡ عَنِ الۡاٰخِرَةِ هُمۡ غٰفِلُوۡنَ‏

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.

Kesimpulan

Ilmu pengetahuan alam sangat fundamental dalam kehidupan manusia. Disamping mampu mempertahankan eksistensinya juga meningkatkan kualitas keimananya. Hal yang harus dicatat oleh umat Islam agar kritis, radikal serta peka terhadap fenomena alam.

Dari paparan diatas sudah jelas bahwa Al-Quran secara tegas menyindir manusia yang melalaikan fenomena alam. Melalaikan artinya tidak memperhatikan kejadian alam yang merupakan manifestasi kekuasaan sang pencipta. Artinya antara memperhatikan dan mengimani harus saling bersamaan. Jangan berpacu pada metafisik saja, juga jangan ikut kaum materialism. Kita muluk’an rasa keingintahuan kita terhadap ilmu pengetahuan serta kita implementasikan dalam bentuk keimanan penuh. Wallahuaalam

Penyunting: Bukhari

Baca Juga  Surah An-Ni’am Bukti Manusia Harus Bersyukur