Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Memayu Hayuning Bawana: Nilai- Nilai Sosialis Islam

Memayu
Gambar: bola.com

Islam sebagai agama yang menebarkan kedamaian dan ketenangan dalam beragama, memiliki kebudayaan filosofi setiap umatnya yang tersebar di seluruh dunia. Beragam multikultural sebagai cerminan bahwa Islam menjunjung tinggi kemanusiaan. Dibuktikan dengan pengetahuan keagamaan seperti mazhab yang berbagai macam, corak tafsir, corak pemahaman, corak tradisi. Itu sebagai representasi Islam bukan agama yang fundamentalis.

Dari beragam tafsiran semuanya memiliki tujuan tertentu dalam beragama. Dahulu orang Jawa sebagaimana Nusantara merupakan negara adidaya yang kental akan nuansa spiritualitas dan kebudayaan. Menjunjung tinggi bahwa nilai-nilai agama menjunjung tinggi etika dan laku, ageming agemaji. Karena agama mengajarkan hakikat tertinggi dari spiritualitas.

Maka dari itu dahulu Nusantara memiliki pandangan menarik dalam beragama seperti contohnya, “Memayu Hayuning Bawono”. Yakni falsafah orang Jawa dalam bertindak, kalau pada umumnya, dimaknai menciptakan kemakmuran di bumi, dengan sudut pandang religiusitas dan spiritualitas. Tetapi dari kata tersebut tersirat konsep nilai-nilai sosialis islam.

Tafsir Memayu Hayuning Bawono

Memayu hayuning bawono, secara semantik, kata memayu bermakna menjaga lebih dalam lagi adanya keseimbangan positif diantar beberapa kutub keislaman. Yakni hablum minallah (theosentris), hablum minannas (antroposentris), hablum minalam (ekologis) sebagai hubungan yang timbal balik. Tetapi dibalik itu makna keseimbangan positif dimaknai juga dengan kepemilikan bahwa keadaan sosial tercapai melalui penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi. Tetapi perlu digaris bawahi kepemilikan yang absolut adalah milik-Nya. Tertuang dalam surat Thaha ayat ke 6 yang berbunyi:

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَىٰ

Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.

Baca Juga  Molekul dalam Ilmu Kimia dan Isyaratnya dalam Al-Qur'an

Dalam makna lebih dalam lagi adalah segala sesuatu yang berjalan yang kita raih memanglah materialis, dan terkadang kita kurang menyadari bahwa kepemilikan hak milik itu tiada. Tetapi lebih menyentuh peran. Semua yang ada di sekitar adalah bersifat temporal, tiada yang abadi, peran kitalah yang abadi. Ini berbeda dengan pendapat Marx yang mengutamakan suatu sistem pengontrolan secara bersama-sama terhadap produksi dan distribusi.

Kepemilikan adalah milik manusia secara proses, tetapi kepemilikan absolut hanya milik-Nya. Tetapi kewajiban seorang manusia adalah memuliakan hak-hak kepemilikan hak- hak tersebut, adanya kausalitas pemilik dan yang memproduksi. Dan adanya nilai musawah(kemanusiaan) dalam memandang kepemilikan akan sesuatu. Karena sosialis jika diruntut secara etimologi istilah sosialisme disebut  sosialisme dalam bahasa Inggris, yang berasal dari bahasa Perancis yaitu socius yang berarti masyarakat. Disini sosialis Islam berdiri di tengah-tengah antara arus sosialis ekstreme atau kapitalisme. Di antara kaum kaya dan miskin dimensi Islam tidak memandang tersebut semua harus memanusiakan manusia.

Nilai Sosialis dalam Memayu Hayunang Bawono

Hayu dalam konteks Jawa adalah dimensi pengolahan rasa membutuhkan wawasan mental untuk melaksanakan persepsi tersebut. Hayu dalam kamus bahasa Jawa berarti indah. Dalam bahasa Jawa, hayu memiliki aspek spiritual. Perpaduan antara rasa, cipta, dan karsa pada tataran kehidupan manusia Jawa sangat dipengaruhi oleh pengolahan rasa yang menjadi dasar perilaku dalam menentukan sikap.

Tentu saja sikap moderat dan tawasuth adalah ciri- ciri pergerakan kemasyarakatan untuk meraih ta’adul (keadilan). Kembali lagi dengan simbol bahwa kebenaran mutlak hanya milik-Nya, manusia dituntut untuk memiliki sikap kritis akan problematika sosial yang terjadi. Seperti ketika muncul aliran- aliran yang tidak sesuai dengan Islam, maka tugas kita harus meluruskan tanpa menyalahkan atau pun membenarkan.

Baca Juga  Surat Hud Ayat 7: Fenomena Proses Penciptaan Alam Semesta

Bawana atau dalam konteks kebumian, manusia seharusnya menyadari bahwa dimensi kebumian (ekologis) harus kita ketahui merupakan tempat kita lahir dan mati. Sikap memperjuangkan kebersamaan ini harus dikuatkan dengan sikap pemeliharaan, pengelolaan, kesadaran kolektif. Jika sosialisme Barat tidak menyukai adanya hak milik pribadi karena hak milik pribadi membuat manusia egois dan menghancurkan keselarasan masyarakat yang alami.

Tetapi sosialisme Islam menyadari bahwa hak milik itu sifatnya genealogis manusia sebagai “binatang yang berfikir”. Karena manusia memiliki hawa nafsu untuk memiliki tetapi kontrol dari hak kepemilikan melalui etika dan akhlak yang diutamakan Islam melalui pengalaman personal, atau kendali sosial. Seperti layaknya seorang bos yang wajib membayarkan upah sesuai dengan perjanjian, ada pun sifat gharar atau kidzib tidak dibenarkan.

Ketauhidan Umat dan Hirearki Filosofis

Seperti yang diutarakan di atas, memayu hayuning bawono bertujuan memperindah dan memberi keseimbangan positif dalam dunia. Baik dunia ideologi, lingkungan hidup, sosial, dan budaya, tetapi tidak melupakan aspek spiritualitas manusia sebagai homo religious. Kereligiusannya menandakan bahwa dia adalah manusia, yang memegang prinsip amal sholeh.

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ يَهْدِيْهِمْ رَبُّهُمْ بِاِيْمَانِهِمْۚ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُ فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir dibawahnya sungai-sungai. (QS Yunus: 9)

 Fokus sosialisme Islam menjunjung tinggi rasa kemanusiaan Islam sebagai bentuk amal sholeh dan Islam sebagai agama rasional yang humanistik. Amal saleh tidak selalu berkaitan dengan sesuatu tindakan yang jatuh ke masyarakat, tapi juga memperjuangkan gagasan, menebar literasi konstruktif, dan yang paling mudah adalah menebar senyum.

Baca Juga  Tafsir Al-Razi: Fenomena Tabarruj dalam QS. Al-Ahzab Ayat 33

Ketauhidan adalah simbol bentuk dari kesadaran eksistensi personal yang seperti jabatan, prestise, keahlian, kemampuan, kepemilikan hanyalah atribut manusia di suatu sisi yang mutlak ia hanyalah manusia dari ciptaan Yang Maha. Tauhid versi sosial bagaimana kita berperan aktif menyuarakan suara kemasyarakatan untuk pemberdayaan dan pembangunan. Manusia hanyalah makhluk yang hidup di bumi di antara semesta lainya.

Dengan itu ia harus sadar bahwa kehidupan yang ia perjuangkan hanyalah proses dari keberadaan dia untuk kehidupan selanjutnya. Hirearki yang tepat dari konsep di atas adalah dimulai dari, memayu hayuning diri (kontrol diri dari hawa nafsu), memayu hayuning manungso (persamaan & sosial), memayu hayuning bawana (Islam rahmatan lil alamin).

Seharusnya seorang sosialis Islam sejati menyadari hal tersebut sebagai proyeksi Tuhan untuk khalifah di bumi dengan keimanan yang tak melumpuhkan kekuatan pikiran, menyuarakan keadilan sosial dan hak-hak manusia lainya, mencintai Allah dan Rasulnya. Ia adalah zahid dan sufi yang penuh kepedulian diri sendiri maupun orang lain, semakin dalam pengetahuan dia semakin peka perasaannya untuk problematika sosial.

Penyunting: Bukhari