Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

6 Tips Manjur Untuk Menenangkan Hati Menurut Nashir Al-Syatsry

Hukum
Sumber: istockphoto.com

Banyak orang berbicara tentang kebahagiaan. Banyak buku telah mendefinisikan arti kebahagiaan. Para motivator dan pelatih berlomba-lomba memunculkan ungkapan-ungkapan cerdas tentang kebahagiaan. Tapi tidak ada kebahagiaan yang mereka katakan sempurna. Ini hanyalah kata-kata yang halus dan lemah yang diikuti oleh beberapa orang dan dibantah oleh pakar yang lain. Sangatlah penting untuk meyakini takdir yang telah Allah tetapkan, karena apapun yang tertulis untuk seseorang tentu merupakan keputusan yang terbaik untuknya. Oleh karena itu, kita umat Islam hendaknya selalu menenangkan hati untuk berprasangka baik terhadap segala takdir Allah dan berkata: “Hari ini dan seterusnya, aku akan selalu bahagia.”

Manusia akan mencapai puncak kebahagiaan ketika mereka mengenali Allah dengan benar. Tentang ini, imam Ghazali berkata: “Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu, bila kita rasakan nikmat. Kesenangan dan kelezatan rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia. Kelezatan hati ialah makrifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Allah.”

Tips Menenangkan Hati

Sheikh Saad bin Nashir al-Satsri merekomendasikan bahwa ada 6 tips yang efektif untuk menenangkan hati.

Pertama, menenangkan hati dengan berkumpul mencari ilmu. Rasulullah bersabda:

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul sebuah rumah Allah tabaraka wata’alà, mereka membaca Kitabullah, mempelajarinya sesama mereka, melainkan akan turun kepada mereka sakinah, rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka dan Allah senantiasa menyebut-nyebut mereka di hadapan malaikat yang berada di sisi-nya.(HR. Muslim)

Baca Juga  Kiat-Kiat dalam Menjaga Hati Membersihkannya

Kedua, menenangkan hati dengan senantiasa berdoa kepada-Nya. Disebutkan dalam hadis bahwa pada Saat Perang Ahzab, Rasulullah berdoa kepada Allah untuk ketenangan hati.

حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ حَدَّثَنَا شُرَيْحُ بْنُ مَسْلَمَةَ قَالَ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ يُحَدِّثُ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ الْأَحْزَابِ وَخَنْدَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ يَنْقُلُ مِنْ تُرَابِ الْخَنْدَقِ حَتَّى وَارَى عَنِّي الْغُبَارُ جِلْدَةَ بَطْنِهِ وَكَانَ كَثِيرَ الشَّعَرِ فَسَمِعْتُهُ يَرْتَجِزُ بِكَلِمَاتِ ابْنِ رَوَاحَةَ وَهُوَ يَنْقُلُ مِنْ التُّرَابِ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا وَثَبِّتْ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا وَإِنْ أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا قَالَ ثُمَّ يَمُدُّ صَوْتَهُ بِآخِرِهَا

Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Utsman, telah menceritakan kepada kami Syuraih bin Maslamah dia berkata, telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Yusuf dia berkata, telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Abu Ishaq dia berkata, aku mendengar Al Barra` bin Azib bercerita, dia berkata, “Pada waktu perang Ahzab atau Khandaq, aku melihat Rasulullah ﷺ mengangkat tanah parit, sehingga debu-debu itu menutupi kulit beliau dari (pandangan) ku, saat itu beliau bersenandung dengan bait-bait syair yang pernah diucapkan oleh Ibnu Rawahah, sambil mengangkat tanah beliau bersabda, ‘Ya Allah, seandainya bukan karena-Mu, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan salat, maka turunkanlah ketenangan kepada kami, serta kokohkan kaki-kaki kami apabila bertemu dengan musuh. Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berlaku semena-mena kepada kami, apabila mereka menghendaki fitnah, maka kami menolaknya.’ Beliau menyenandungkan itu sambil mengeraskan suara diakhir baitnya.”(HR. Bukhari)

Baca Juga  Tafsir Al-Mizan dan Al-Safi: Perbandingan Dua Pendekatan Tafsir Syiah

***

Ketiga, menenangkan hati dengan membaca Al-Qur’an. Dalam sebuah hadis Nabi SAW disebutkan bahwa:

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْكَهْفِ وَإِلَى جَانِبِهِ حِصَانٌ مَرْبُوطٌ بِشَطَنَيْنِ فَتَغَشَّتْهُ سَحَابَةٌ فَجَعَلَتْ تَدْنُو وَتَدْنُو وَجَعَلَ فَرَسُهُ يَنْفِرُ فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Al Barra` bin ‘Aazib ia berkata, Seorang laki-laki membaca surah Al-Kahfi, sementara di sisinya terdapat seekor kuda yang terikat dengan dua tali, ternyata di atasnya terdapat kabut yang menaunginya. Kabut itu mendekat dan semakin mendekat sehingga membuat kudanya lari ingin beranjak. Ketika waktu pagi datang, laki-laki itu pun mendatangi Nabi dan menuturkan kejadian yang dialaminya, Nabi bersabda, “Itu adalah As Sakinah (ketenangan) yang turun karena Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat, menenangkan hati dengan memperbanyak dzikrullah. Allah berfirman:

ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَتَطۡمَىِٕنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَىِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’du: 28).

***

Kelima, hati kita menjadi tenang manakala bersikap word (hati-hati). Wara’ adalah berhati-hati dalam perbuatan dan sikap yang belum jelas hukumnya (syubhat). Hati menjadi tenang dengan menghindarinya. Rasulullah bersabda:

الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالْإِثْمُ مَا لَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ

“Kebaikan itu adalah yang jiwa merasa tenang dan hati merasa tenteram kepadanya. Sementara keburukan adalah yang jiwa merasa tidak tenang dan hati merasa tidak tenteram kepadanya, walaupun orang-orang memberimu fatwa (menjadikan untukmu keringanan)” (HR. Ahmad)

Baca Juga  Fenomena Menyontek dalam Perspektif Agama Islam

Keenam, hati ini tenang kalau selalu bersikap jujur dalam berkata dan berbuat. Rasulullah bersabda:

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Tinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu karena kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan.”(HR. Tirmidzi) Kejujuran membawa pada kepastian dan rasa yakin akan apa yang dihadapinya. Anda tidak merasa terbebani oleh rasa bersalah dan dengan percaya diri melangkah.

Penyunting: An-Najmi