Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Wawasan Kajian Al-Quran (1): Mengenal Al-Quran

terjemah al-quran
sumber: freepik.com

Kata Al-Quran adalah mashdar dari qara`a-yaqra`u-qur`anan. Terjemah umum dari Al-Quran adalah bacaan.

“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya di dadamu dan membuatmu pandai membacanya.” (QS Al-Qiyamah/75:17).

Al-Quran memiliki sejumlah nama atau sebutan, di antaranya al-Kitab, al-Furqan, adz-Dzikr, al-Huda, at-Tanzil. Ada ulama yang menyebutkan hingga puluhan jumlahnya. Kendati diturunkan di kalangan bangsa Arab, Al-Quran ditujukan kepada segenap manusia.

Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS Saba`/34:28)

Ini adalah sebuah Kitab Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, supaya mereka dapat merenungkan dan supaya ingat orang-orang yang arif.” (QS 38:29)

“Tidakkah mereka mau merenungkan Al-Qur`an? Ataukah hati mereka sudah terkunci mati?” (QS 47:24)

Tidakkah mereka memperhatikan firman Kami, ataukah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah dialami leluhur mereka terdahulu?” (QS 23:68)

“Tidakkah mereka menghayati Al-Qur`an? Sekiranya Al-Qur`an itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (QS 4:82)

Al-Quran adalah dunia di mana muslim hidup. Manusia adalah alam kecil dan dunia adalah alam besar. Tak seorang pun dalam Islam yang mengklaim sebagai otoritas atas dan penjaga pemahaman yang tepat mengenai Al-Quran. Seluruh umat Islam bertanggung jawab terhadap pengabadian, pengembangan pemahaman, dan implementasi ideal-ideal Al-Quran. (Muhammad ‘Ata al-Sid).

Al-Quran memiliki keampuhan bahasa yang tak tertandingi. Lebih dari sekadar bentuk atau gayanya, tapi juga karena isi pesan yang dikandungnya. Kekuatan penggerak bahasa Al-Quran terletak pada keampuhannya menghadirkan ide-ide ketuhanan, kemanusiaan dan wawasan kosmik yang sulit diingkari kebenarannya oleh nalar sehat dan hati yang jernih dan terbuka. (Komaruddin Hidayat).

Al-Quran adalah lautan tak bertepi; sumur tanpa dasar.

Katakanlah, “Sekiranya lautan tinta untuk menuliskan kata-kata Tuhanku, pasti lautan akan habis sebelum habis kata-kata Tuhanku, sekalipun mesti Kami tambahkan tinta sebanyak itu.” (QS Al-Kahfi/18:109).

Sekiranya pohon-pohon di bumi adalah pena dan samudera adalah tinta dan sesudah itu ditambah dengan tujuh samudera, Firman Allah tidak akan habis ditulis. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS Luqman/31:27).

Al-Quran memenuhi keingintahuan segala lapisan kalangan manusia, baik awam, menengah, maupun khawas. Rasulullah saw berpesan kepada umatnya agar berpegang teguh pada Al-Quran, karena bimbingannya akan memuaskan dahaga siapa saja dan tak akan kering ditimba sampai kapan saja.

Baca Juga  Memaknai Kembali Istilah "Tafsir Al-Qur'an"

Al-Quran ibarat seuntai kalung yang terdiri atas 114 butir mutiara. Masing-masing butir memiliki kilauannya tersendiri, tetapi membentuk satu kesatuan yang serasi. Demikian padunya butir-butir mutiara Al-Quran itu sehingga tak tampak lagi mana ujung dan pangkalnya, mana permulaan dan mana akhirnya. Bahkan tak mengapa bila seseorang membaca Al-Quran mulai mulai bagian paling akhirnya.

Al-Quran memiliki keindahan bahasa yang menakjubkan. Ketika ayat-ayat Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, banyak orator yang mencoba membuat syair tandingan, di antaranya Al-Walid bin Mughirah. 

Al-Quran mengundang pihak-pihak yang ragu untuk membuat yang serupa.

“Jika kamu tetap dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami, buatlah satu surat saja yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS Al-Baqarah/2:23)

Al-Quran adalah jamuan Tuhan. Rugilah orang yang tidak menghadiri jamuan-Nya; dan lebih rugi lagi yang hadir tetapi tidak menyantapnya. (Rasulullah Saw).

Tiada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini telah memainkan ‘alat’ bernada nyaring yang demikian mampu dan berani, dan demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang dibaca Muhammad, Al-Quran (H.A.R. Gibb).

Al-Quran adalah permulaan Islam dan manifestasinya yang terpenting; dunia di mana Muslim hidup; serat pembentuk tenunan kehidupannya; benang rajutan jiwanya. Al-Quran adalah jaring yang digunakan untuk menangkap jiwa manusia. Seperti ikan, manusia berenang dari satu tempat ke tempat lain, dan Tuhan memasang jaring ke dalam mana manusia terjerat, demi kebahagiaannya sendiri. (Fritjof Schuon).

Tiada satu bacaan pun yang menandingi Al-Quran. Tiada bacaan seperti Al-Quran yang dipelajari susunan redaksi, pilihan kosakatanya, kandungannya yang tersurat dan tersirat, serta kesan yang ditimbulkannya. Tiada bacaan seperti Al-Quran yang terpadu di dalamnya keindahan bahasa, ketelitian, dan keseimbangan, kedalaman makna, serta kemudahan pemahaman dan kesan yang ditimbulkannya. (M. Quraish Shihab).

Al-Quran menjadi objek pengkajian sejak pertama turun hingga hari ini dan insyaallah hingga masa yang akan datang. Orang mengkaji apa saja yang berhubungan dengan Al-Quran dalam rangka memahami pesan-pesan Al-Quran: lingkungan di mana Rasulullah Saw diutus; bahasa Arab dan sejarahnya; masyarakat Arab dahulu hingga masa diwahyukan; sikap dan tindakan orang yang menerima maupun yang menolaknya. (M. Quraish Shihab).

Baca Juga  Wawasan Kajian Al-Quran (2): Mengenal Ulumul Quran

Al-Quran ibarat sebuah permata yang memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing pembacanya. Bila Anda membaca Al-Quran, maknanya akan jelas, tetapi bila Anda membacanya lagi, akan Anda temukan pula makna lain yang berbeda dengan makna sebelumnya. Ayat Al-Quran bagaikan intan: setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan yang terpancar dari sudut-sudut lain. Jika Anda mempersilakan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak ketimbang yang Anda lihat (Abdullah Darraz).  

Al-Quran adalah pengantin wanita yang memakai cadar dan menyembunyikan wajahnya darimu. Bila engkau membuka cadarnya dan tidak mendapatkan kebahagiaan, itu disebabkan caramu membuka cadar telah menipu dirimu sendiri, sehingga tampak olehmu ia berwajah buruk. Ia mampu menunjukkan wajahnya dalam cara apa pun yang disukainya. Apabila engkau melakukan apa-apa yang disukainya dan mencari kebaikan darinya, maka ia akan menunjukkan wajah yang sebenarnya, tanpa perlu kaubuka cadarnya (Jalaluddin Rumi).  

Ayat Al-Quran itu seperti buah kurma. Setiap kali kamu mengunyahnya, maka rasa manisnya akan terasa (Basyar bin as-Sura).

Al-Quran memberikan kemungkinan arti yang tak terbatas. Kesan yang diberikannya mengenai pemikiran dan penjelasan berada pada tingkat wujud mutlak. Ayat-ayatnya selalu terbuka untuk interpretasi baru; tidak pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi tunggal. (Mohammed Arkoun).   

Orang tak dapat memahami Al-Quran, kalau tak berpengetahuan umum. Walau tafsir Al-Quran yang masyhur pun di zaman dulu,- yang orang kasih titel tafsir ‘keramat’, masih bercacat sekali; misalnya: bagaimanakah orang bisa mengerti betul-betul firman Tuhan, bahwa segala sesuatu itu diciptakan oleh-Nya ‘berjodoh-jodohan’ [QS 51:49], kalau tak mengetahui biologi, elektron, positif dan negatif, aksi dan reaksi? (Bung Karno).       

Bacalah Al-Quran seakan-akan ia diturunkan kepadamu. (Sir Mohammad Iqbal).

Untuk mengantarkanmu mengetahui rahasia ayat-ayat Al-Quran, tidaklah cukup kau membacanya empat kali sehari. (Abul A’la Maududi).

Allah Swt mewahyukan Al-Quran dalam rentang waktu 23 tahun, setara dengan jumlah masa belajar di sekolah formal (TK 2 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, S1 4 tahun, S2 2 tahun, dan S3 3 tahun).

Mula-mula Al-Quran berupa kata yang terucap atau yang dilekatkan dalam kalbu. Setiap kali wahyu Al-Quran turun, Nabi Muhammad Saw menugaskan sahabat untuk mencatatnya. Tak satu ayat pun yang tercecer atau tersisa. 

Baca Juga  Menjaga Lingkungan Hidup: Tujuan dan Dampak

Umar bin Khaththab mengusulkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq untuk menghimpun Al-Quran, karena sejumlah besar huffazh syahid di medan perang. Penghimpunan Al-Quran oleh Abu Bakar ditindaklanjuti oleh Usman bin Affan hingga berbentuk mushaf.

Ketika Al-Quran menyebar ke luar Jazirah Arab, orang menerjemahkan Al-Quran ke dalam berbagai bahasa. Kalangan ulama merekomendasikan pencetakan terjemah Al-Quran disertai nashnya, mengingat terjemah Al-Quran bukan Al-Quran; tidak mewakili dan tidak dapat menggantikannya.

Pencetakan Al-Quran memerlukan sentuhan banyak orang. Mula-mula ditulis ayat demi ayat, diteliti kesahihan tulisannya, dibuat proof lalu dikirim ke Lajnah Pentashih untuk diperiksa. Perkembangan teknologi memungkinkan pengkopian naskah Al-Quran.  

Kini telah ada terjemah Al-Quran dalam bahasa-bahasa sedunia, termasuk dalam berbagai bahasa daerah. Terdapat sejumlah versi terjemah Al-Quran dalam bahasa Inggris, sebagaimana terjemah Al-Quran dalam bahasa Indonesia.

Wawasan sekitar Al-Quran diberikan oleh Ulumul-Quran yang membahas tentang seluk-beluk Al-Quran yang memadukan seluruh pembahasan sistematis berhubungan dengan Al-Quran, baik menyangkut nash Al-Quran maupun apa yang di sekitarnya.

Pada masa Abu Bakar dan Umar bin Khathab ilmu Al-Quran diriwayatkan secara lisan. Pada masa Usman bin Affan orang Arab mulai bergaul lebih intens dengan non-Arab. Usman pun menyusun mushaf induk dan membuat reproduksi beberapa naskah untuk dikirim ke daerah-daerah untuk pegangan muslim. Dia peletak dasar Ilmu Rasmil-Quran.

Sepeninggal Usman, Ali bin Abi Thalib memerintahkan kepada Abul Aswad ad-Du`ali  meletakkan kaidah paramasastra bahasa Arab dan tanda-tanda harakat pada mushaf Al-Quran guna menjaga keasliannya. Dia telah meletakkan dasar Ilmu I’rabil-Quran.

Dari kalangan tabi’in di Madinah: Mujahid, ‘Atha` bin Yassar, ‘Ikrimah, Qatadah, Hasan Bashri, Sa’id bin Jubair, dan Zaid bin Aslam. Dari kalangan generasi ketiga: Malik bin Anas Zaid bin Aslam. Mereka meletakkan ilmu tafsir, ilmu asbabin nuzul, ilmu Makkiyah dan Madaniyah, ilmu nasikh dan mansukh, dan ilmu gharibil Quran.

Pada masa kodifikasi Al-Quran, Ilmu Tafsir berada di atas ilmu yang lain. Di antara ulama abad 2 H ialah Syu’bah bin Al-Hajjaj, Sufyan bin ‘Uyainah dan Waki’ bin Al-Jarrah. Kitab mereka memuat pendapat para sahabat dan kaum tabi’in.

Editor: Rubyanto