“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” (QS Al-Baqarah ayat 143).
Frasa ummatan wasathan diartikan sebagai umat tengahan, umat pertengahan, atau dalam bahasa yang lebih kekinian dikenal dengan sebutan “umat moderat”. Ungkapan ummatan wasathan sendiri terdapat dalam firman Allah surah al-Baqarah ayat 143, sebagaimana penulis kutip terjemahannya di atas. Dalam surah tersebut disebutkan, Allah menjadikan umat Islam sebagai ummatan wasathan atau umat tengahan untuk menjadi saksi atas perbuatan manusia.
Buya Hamka pun demikian, mengartikan ummatan wasathan dengan istilah “umat yang di tengah”. Maknanya sangat luas, bisa bermakna umat yang adil, umat yang tidak berat sebelah, tidak memihak ke kanan dan kiri, dan sebagainya. Istilah ummatan wasathan kemudian menjadi acuan dalam konsep keberislaman yang sesuai dengan perintah Allah SWT dan dicontohkan kanjeng Nabi Muhammad SAW. Konsep keberislaman yang merepresentasikan sifat rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil alamin) itu kemudian disebut dengan Islam wasathiyah atau Islam moderat.
Apa sebenarnya Islam wasathiyah/moderat itu? Ulama-cum-intelektual Muhammadiyah, Buya Yunahar Ilyas (alm), dalam sebuah penyampaian di suatu pengajian menerangkan bahwa Islam wasathiyah adalah Islam yang lurus, Islam yang sesuai Al-Quran dan sunah. Buya Yunahar melanjutkan, Islam moderat adalah Islam yang di tengah, tidak ekstrem ke kanan dan tidak ekstrem ke kiri. Dalam lingkup individual, umat Islam yang moderat tidak hanya mengurusi urusan-urusan berorientasi akhirat, tapi juga ikut berperan mengurusi urusan keduniaan.
Bila mendengar penjelasan yang demikian, makna Islam yang sejati bisa kita dapati dalam konsep Islam yang moderat tersebut. Namun, masih ada dalam kalangan umat Islam sendiri yang menganggap bahwa konsep moderasi dalam Islam adalah sebuah upaya untuk melunturkan ghirah Islam itu sendiri. Tentu hal ini perlu kita gali lebih dalam lagi untuk tidak terjebak dalam prasangka, apakah “Islam moderat” itu rekayasa orang Barat? Atau justru merupakan nilai-nilai autentik Islam itu sendiri? Mari kita coba gali dalam Tafsir Al-Azhar yang mahsyur karya Buya Hamka.
Keberislaman yang Tengahan
Menurut Buya Hamka, yang terdapat dalam Tafsir Al-Azhar, ayat ini diturunkan untuk menegaskan posisi umat Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan jalan yang lurus (ash-shiratal mustaqim) sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Buya Hamka menyebut, umat Muhammad berbeda dengan dua umat yang datang sebelumnya, yakni umat Yahudi dan Nasrani. Umat Yahudi dinilai terlalu condong pada hal-hal yang sifatnya duniawi.
Bahkan, kata Hamka, dalam kitab suci kaum Yahudi kurang sekali diceritakan mengenai akhirat. Sementara umat Nasrani dengan ajarannya lebih mementingkan urusan akhirat. Mereka (kaum Nasrani) menanggalkan segala macam kemegahan dunia, sampai mendirikan tempat bertapa dan melarang para pendeta untuk kawin/menikah. “Tetapi kehidupan rohani yang sangat mendalam ini akhirnya hanya dapat dituruti oleh golongan yang terbatas, sebab berlawanan dengan tabiat kejadian manusia,” ujar Hamka dalam salah satu paragrafnya.
Maka, kata Buya Hamka, ayat ini datang untuk memperingatkan umat Nabi Muhammad bahwa mereka adalah umat yang di tengah (ummatan wasathan), umat yang menempuh jalan yang lurus, bukan terpaku pada dunia semata dan tidak mementingkan aspek rohani belaka. Keduanya itu seimbang, sebab Islam mempertemukan umatnya dengan kedua jalan hidup tersebut (dunia dan akhirat). Islam menghendaki adanya keseimbangan di antara keduanya.
Buya Hamka memberikan contoh, dalam shalat, seorang muslim menggerakkan tubuhnya, takbiratul ihram, rukuk, dan sujud, tapi semua itu dituntut dilakukan dengan hati penuh kekhusyukan. Tidak semata-mata gerakan badan, tapi juga pemusatan hati dan pikiran. Begitu juga dalam ibadah membayar zakat. Buya Hamka menyebutkan, zakat berupa harta benda adalah contoh konkret di mana Islam menghendaki adanya ibadah dalam dimensi ketuhanan sekaligus upaya melakukan transformasi sosial.
Harta yang dimiliki olah umat Islam sebagiannya adalah hak fakir miskin yang wajib disalurkan, bila tidak maka disebut sebagai pendusta agama. “Menegakkan amal dan ibadah kepada Allah dan untuk membantu orang yang patut dibantu,” kata Buya Hamka.
Di sini juga ada keseimbangan antara hablumminallah dan habluminannas. Buya Hamka kemudian menjelaskan, “Bangkitnya Nabi Muhammad SAW di padang pasir Arabia itu adalah membawa ajaran bagi membangunkan ummatan wasathan, suatu umat yang menempuh jalan tengah, menerima hidup di dalam kenyataan. Percaya kepada akhirat, lalu beramal di dunia ini.
Mencari kekayaan untuk membela keadilan, mementingkan kesehatan rohani dan jasmani, karena kesehatan yang satu bertalian dengan yang lain.” Ummatan wasathan juga mementingkan kecerdasan pikiran (akal dan logika), tapi juga menguatkan ibadah untuk menghaluskan perasaan (spiritualitas, intuisi, dan kepekaan). Mereka memandang kekayaan sebagai alat untuk berbuat kebajikan. Dan yang terpenting, berperan sebagai khalifah di muka bumi, karena kelak akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah SWT.
Buya Hamka juga menjelaskan, pada ujung ayat ini (al-Baqarah 143) ditegaskan dua sifat Allah, yakni Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada manusia. Dua sifat tersebut merupakan pedoman umat Islam untuk senantiasa beramal menjadi umat yang terbaik (khairu ummah), sekaligus menjalankan tugas khalifatu fil ardh (wakil Tuhan di muka bumi). Mengamalkan nilai-nilai welas asih terhadap sesama manusia tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, dan golongannya. Jadi, pada poin ini bisa kita tangkap bahwa peran umat Islam moderat (tengahan) adalah untuk mengamalkan ajaran Islam yang lurus demi menciptakan kehidupan yang rukun, damai, dan peradaban yang berkemajuan. Wallahualam.
Selengkapnya dapat dibaca di sini


























Leave a Reply