Indonesia pada tahun 2021 ini menjadi negara urutan ketiga dalam kasus fatherless. Fakta tersebut berkaitan dengan faktor budaya patriarki yang masih cukup kuat dalam tradisi pendidikan anak dalam keluarga. Pedidikan dan tumbuh kembang anak dalam keluarga sering dianggap sebagai tanggung jawab yang lebih besar untuk dipenuhi oleh peran Ibu, padahal ayah memiliki peran penting juga.
Fatherless diartikan sebagai ketidakhadiran seorang Ayah. Ketidak hadiran yang dimaksud adalah ketidakhadiran secara fisik maupun secara psikologis dalam kehidupan anak. Faktor pemicu terjadinya fatherless adalah perceraian, kematian Ayah, pemisahan karena intensitas kebersamaan Ayah dan anak yang kurang, dan kurangnya interaksi antara Ayah dan anak secara cukup meskipun hidup bersama.
Kehadiran dan interaksi yang terjalin antara Ayah, Ibu, dan anak dalam keluarga harus berimbang. Untuk keharmonisan dan kebaikan pertumbuhan seorang anak. Pernyataan ini didukung oleh tulisan Jack O Balswick, seorang profesor senior dalam sosiologi dan pengembangan keluarga di Departement of marriage and Family School of Phsycology California. Bahwa anak yang secara konsisten ditinggalkan oleh Ayahnya tidak memiliki keamanan fisik dan emosional yang memadai. Dampak ketiadaan Ayah secara parsial atau total akan menyebabkan anak tidak pernah menjadi lelaki atau perempuan dewasa.
Posisi Krusial Ayah dalam Al-Qur’an
Untuk itu perlu kiranya untuk kita memperhatikan kembali betapa krusialnya peran Ayah dalam pendidikan anak. Sebagaimana yang telah disebut Allah SWT dalam Al-Qur’an. Sedikitnya dapat kita temukan tiga bingkai hikmah dalam Al-Qur’an tentang peran pendidikan Ayah kepada anak. Di antara dari kisah Nabi Ibrahim As dengan Ismail As, Nabi Ya’qub As dengan putra-putranya, dan Luqman al-Hakim dalam menasehati anaknya.
Allah SWT menganugrahkan kema’suman (terpelihara dari dosa) kepada para nabi tapi Allah menganugrahkan kemanusiaan yang sama kepada kita. Manusia yang diberikan akal untuk berpikir akan kehidupan. Artinya teladan yang ada pada nabi bisa untuk direnungi dan dijadikan acuan berkehidupan bagi seluruh umat manusia. Selain dari nabi teladan yang dapat kita petik dalam hal ini juga datang dari golongan hamba biasa yang dimuliakan oleh Allah SWT, yaitu Luqman al-Hakim.
Hikmah Pendidikan Nabi Ibrahim kepada Ismail
Nabiyullah Ibrahim As adalah salah seorang nabi yang disebut sebagai khalil ar-Rahman (kekasih Allah). Dalam diri Nabi Ibrahim tercermin kecintaan dalam wujud ketaannya kepada Allah SWT. Ketaatan tersebut untuk meraih kedekatan dengan Allah SWT. Kisah masyhur bukti ketaan tersebut adalah diturunkannya perintah kepada Nabi Ibrahim As untuk menyembelih putranya, Ismail As.
Ada hal yang menarik untuk diperhatikan, yaitu adanya komunikasi terbuka antara Nabi Ibrahim kepada putranya, Ismail “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim)berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku nermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!…” (QS. as-Saffat [37]: 102). Dengan penuturan yang baik dan pemahaman ketaatan yang cukup, Ismail As menjawab penawaran Ayahnya dengan sangat bijak dan baik, “…Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang sabar.” (QS. as-Saffat [37]: 102).
Hikmah Pendidikan Nabi Ya’qub kepada Anak-anaknya
Konsep pendidikan yang elegan juga telah diajarkan Islam melalui uswah dari Nabi Ya’qub As dalam mendidik putra-putranya. Nabi Ya’qub oleh putranya yaitu Yusuf digambarkan sebagai matahari dalam mimipinya (Yusuf). Matahari melambangkan ketegasan dan jernih dengan cahanya yang terang benderang. Seorang Ayah harus bersikap tegas dan tidak emosional. Menjadi pengarah, pendidik, dan membimbing anak serta keluarga adalah tugas seorang Ayah sebagai kepala keluarga.
Bukti adanya kedekatan dan Ayah sebagai stabilisator terhadap emosi anak tergambar dalam kisah keduanya dalam Al-Qur’an surat Yususf [12] ayat 4 dan 5. Yusuf As bercerita kepada Ayahnya, “Ayahanda, sesungguhnya aku mimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan. Aku lihat semuanya sujud kepadaku.” Nabi Ya’qub menjawab dengan bijak pada ayat berikutnya, “Anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi manusia.
Hikmah Pendidikan dari Luqman al-Hakim kepada Putranya
Allah SWT juga menitipkan kepada salah satu hambanya bernama Luqman al-Hakim yang kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an. Luqman adalah hamba yang bukan dari golongan nabi. Rangkaian hikmah yang mulia dari pendidikan Luqman kepada anaknya ada dalam QS. Luqman [31] ayat 12-19. Hal menarik yang perlu disadari dari kisah tersebut adalah pada ayat 12, pengajaran tentang bersyukur kepada Allah. Nasehat di awal rangkaian ayat hikmah ini menggambarkan awal dari nasehat-nasehat pada ayat berikutnya. Dalam tafsir Mafatih al-Ghaib karya Syekh ar-Razi ayat 12 ini juga menjelaskan bahwa seseorang dikatakan mencapai hikmah adalah orang yang paham dan mengerti akan ilmu. Buti dari mengerti akan suatu akan ilmu dengan tidak terputusnya rasa syukur seorang hamba kepada khaliqnya.
Tiga Rangkaian Pendidikan Ayah dalam Al-Qur’an
Dari ketiga bingkai hikmah teladan Ayah dalam Al-Qur’an tersebut dapat kita refleksikan pada realita saat ini. secara tidak sadar peran aktif Ayah dalam pendidikan serta pengasuhan anak di Indonesia masih sangat jarang terpenuhi. Gambaran dari Al-Qur’an mengenai pendidikan yang menjadi hak anak dari peran Ayah antara lain:
- Dialog terbuka antara Ayah dan anak, sebagai bukti perlunya kedekatan Ayah dan anak. Hal ini tergambar dari ketiga kisan di atas. Dengan adanya interaksi yang baik antara Ayah dan anak akan memberikan ruang anak untuk mau menceritakan apa yang dialami atau dirasakan kepada Ayahnya. Sehingga akan menghindari terjadinya kesalahan dalam mengambil keputusan selama masa pertumbuhan anak. Seperti dalam kisah Yusuf As ketika mendapatkan mimpi, Yusuf dapat terhindar dari sikap sombong dan tinggi hati. Meskipun Nabi Ya’qub juga mengetahui takwil dari mimpi Yusuf As. Membiarkan Yusuf tumbuh dewasa sampai menemukan arti dari mimpinya bahwa ia menjadi seorang Nabi di kemudian hari.
- Tidak memilih keputusan secara sepihak tanpa alasan. seringkali anak menjadi takut berpendat dan merasa terbatasi ruang geraknya sebab keputusan ada pada orang tua. Ini tidak terjadi dalam kisah Ismail As. Nabi Ibrahim memberikan tawaran dan alasan atas permintaannya dalam memunaikan perintah untuk berkurban. Dengan memberi ruang untuk memilih, anak akan lebih suka rela melaksanakan pilihannya. Dan dapat menghindari sikap membangkang karena itu adalah pilihan yang sudah dipahaminya.
- Tidak menyakiti batin dan fisik anak-anaknya. Dalam memberi nasehat dan memberi pendidikan Ayah hanya perlu berlaku tegas bukan dengan kekesarasan. Bahkan dalam mejaga perasaan anak menjadi sangat peting. Seperti Ya’qub melarang Yusuf menceritakan mimpinya kepada saudaranya. Untuk mejaga perasaan anak-anaknya yang lain. Dalam kisah saudara-saudara Yusuf yang berbohong membuang Yusuf ke dalam sumur, Nabi Ya’qub juga bersabar dan mendo’akan anak-anaknya atas perbuatan saudara-saudara Yusuf. Sebagai usaha membetuk kesadaran bagi anak atas perbuatannya.
Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.