Baru-baru ini jagat raya dikejutkan dengan beredarnya foto dan video dari tanah pegunungan kota Mekkah yang sudah menghijau nan subur. Daerah pegunungan di Mekkah yang sebelumnya gersang dan merupakan padang pasir kini berubah menjadi pemandangan yang sejuk. Area tersebut menjadi penuh ditutupi oleh tanaman hijau. Hal tersebut merupakan efek dari hujan yang belakangan mengguyur Mekkah dan membuat tanah menjadi subur.
Hal tersebut mengingatkan kita akan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kedatangan hari kiamat. Yaitu bumi Arab yang saat ini gersang akan kembali menjadi dataran hijau dengan ditumbuhi sungai-sungai mengalir di dalamnya. Yaitu sabda beliau:
لا تقومُ السَّاعةُ حتَّى يكثُرَ الهَرجُ وحتَّى تعودَ أرضُ العرَبِ مُروجًا وأنهارًا
“Tidak akkan terjadi hari kiamat, hingga tanah arab menjadi subur kembali dan dipenuhi dengan sungai-sungai.”(HR. Ahmad No. 9323)
Zhahir hadits ini menunjukkan bahwa di negara-negara Arab nantinya akan banyak airnya. Sehingga muncul banyak sungai yang menumbuhkan banyak tumbuh-tumbuhan, sehingga menjadi padang rumput, kebun-kebun, dan hutan-hutan.
Tanah-tanah Arab adalah tanah yang berbeda dengan di Indonesia. Negara-negara Arab adalah negara dengan tanah tandus yang diselimuti oleh gurun pasir yang luas. Jangankan untuk menemukan rumput-rumput hijau seperti di kebun Indonesia. Menemukan sungai-sungai pun agaknya seperti mencari air yang jatuh di pasir, mustahil. Akan tetapi, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa suatu saat nanti, tanah-tanah Arab akan kembali menjadi daratan hijau dengan banyak sungai mengalir. Kalau kita lihat fakta selama 1400 tahun ini, bukankah hal ini konyol?.
Mukjizat Nabi Muhammad
Pada masa ini, kabar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan 1400 tahun lalu terbukti kebenarannya.Mungkin masa-masa sebelumnya hadits tersebut terdengar konyol dan mustahil, bahkan mendapatkan banyak celaan dari orang-orang kafir dan munafik.Namun sekarang benar adanya.Keadaannya dapat dilihat pada kondisi saat ini. Banyak mata air yang memancar seperti sungai-sungai untuk menyirami pohon-pohonan yang banyak jumlahnya dan menjadi seperti apa yang diberitahukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara demikian pada 1400 tahun yang lalu, yang dimana pada saat itu tanah Mekkah atau Arab masih dalam keadaan gersang dan tandus, yang masih dipenuhi dengan padang pasir.Dimana pada masa beliau masih belum ada teknologi canggih yang dapat meneliti dan memprediksi kejadian-kejadian masa-masa setelahnya.Dan sekarang, nampaklah kebenaran sabda beliau.
Beliau berkata demikian bukanlah menurut ramalan atau hawa nafsu beliau semata, melainkan karena wahyu Allah ta’ala. Seandainya bukan karena wahyu, niscaya perkataan beliau pasti banyak yang salah dan mungkin tidak akan terjadi. Namun, kebenaran akan sabda beliau satu persatu mulai terjadi dan benar akan adanya. Karena hari kiamat adalah perkara ghaib, yang dimana tidak ada satupun makhluk yang mengetahui hal demikian, kecuali atas apa yang Allah subhanahu wa ta’ala izinkan.
Namun yang terpenting, cukuplah kita menjadikan tanda-tanda kiamat yang ada untuk menakut-menakuti kita dan sebagai dorongan agar lebih giat lagi dalam beramal.Percuma saja kita sibuk dengan tanda-tanda kiamat dan panik dengan demikian, sehingga kita lupa dan terlalaikan dari beramal shalih.
Pembahasan yang Tidak Bermanfaat
Kiamat pasti terjadi, meskipun tidak ada satupun yang tahu kapan itu terjadi, selain Allah Ta’ala.Sehingga tidak perlu kita tunggu atau bertanya-tanya, kapan kiamat. Andaikan saja mencari tahu kapan hari kiamat itu terjadi, niscaya Allah dan Rasulnya sudah memerintahkannya.Namun yang ada justru sebaliknya, dalam banyak ayat, Allah malahtidak memuji mereka melainkan mengkritik bahkan mencela mereka. Seperti firman Allah dalam akhir ayat surat An-Nazi’at:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا . فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا . إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا
“Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat, ‘Kapankah terjadinya?’. ‘Untuk apa engkau perlu menyebutkan (waktu)-nya?. Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahan (ketentuan waktu)-nya’.” (QS. An-Nazi’at : 42-43)
Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat tersebut:
ما الفائدة لك ولهم في ذكرها ومعرفة وقت مجيئها؟ فليس تحت ذلك نتيجة، ولهذا لما كان علم العباد للساعة ليس لهم فيه مصلحة دينية ولا دنيوية، بل المصلحة في خفائه عليهم، طوى علم ذلك عن جميع الخلق، واستأثر بعلمه
“Apa manfaat bagimu dan bagi mereka dengan menyebutnya kemudian mengetahui tentang waktu hari kiamat. Hal itu tidak ada manfaat sama sekali.Oleh karena itu, mencari tahu akan hari kiamat tidak membawa maslahat sama sekali bagi seorang hamba, baik dunia maupun akhirat, justru maslahatnya adalah dengan disembunyikannya tentang waktu terjadinya hari kiamat, maka Allah menyembunyikannya hal itu dari semua makhluk, dan hanya Dia sendiri yang tahu.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman : 215)
Sehingga, mencari-cari tahu tentang kapan terjadinya hari kiamat merupakan hal yang tidak bermanfaat, dan tentu saja sikap semacam ini bukan sikap terpuji, karena termasuk ciri khas orang kafir. Yang lebih penting bagi seorang hamba yaitu memikirkan bagaimana kondisinya nanti pada hari akhir, apakah ia termasuk hamba yang beruntung atau yang merugi, apakah ia termasuk hama yang mendapat nikmat atau yang mendapat adzab.
Editor: An-Najmi




























Leave a Reply