Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Tematik QS Al-A’raf Ayat 31: Gaya Hidup Hedonisme

Hedonisme
Sumber: pinterest.com

Pengantar: Konsep Hedonisme

Hedonisme berasal dari bahasa Yunani “hedone” yang berarti kenikmatan, kesenangan, serta kepuasan. Dalam konteks etis, hedonisme merupakan sebuah prinsip yang menitikberatkan kebahagiaan sebagai satu-satunya dan juga tujuan paling utama dari segala tindakan yang manusia tuju (Hedonisme: 2020, h. 193). Kebahagiaan tersebut pada dasarnya adalah hasil dari akumulasi berbagai bentuk kesenangan.

Sedangkan istilah hedonistik merujuk pada suatu pandangan hidup yang meyakini bahwa seseorang akan mencapai kebahagiaan dengan cara mencari sebanyak mungkin kesenangan. Tak lupa, ia juga menghindari sebisa mungkin berbagai bentuk perasaan yang menyakitkan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2016), hedonisme berarti pandangan yang memosisikan kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan hidup yang utama.

Paham hedonisme sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno, di mana tokoh pertama yang mengajarkannya adalah filsuf bernama Democritus (400–370 SM). Ia memandang bahwa tujuan utama dalam hidup manusia adalah meraih kesenangan. Selain itu, salah seorang murid Socrates yang bernama Aristippus (395 SM) juga turut mengajarkan bahwa kesenangan adalah satu-satunya hal yang manusia inginkan.

Dalam ajaran Islam, pandangan seperti ini tidak boleh menjadi sebagai rujukan utama. Islam tidak melarang umatnya untuk menikmati kesenangan hidup, namun kesenangan tersebut harus tetap berada dalam koridor norma dan aturan Islam. Pada hakikatnya, kecenderungan manusia terhadap kesenangan merupakan suatu fitrah. Namun, bila kesenangan tersebut kemudian menjadi bagian dari paham hedonisme, maka besar kemungkinan seseorang akan melakukan berbagai cara demi mencapai tujuannya tersebut. Bahkan, cara yang tidak sesuai dengan nilai moral atau agama sekalipun.

Klasifikasi Hedonisme

Dalam perspektif filsafat sosial, hedonisme dapat diklasifikasikan ke dalam empat kategori. Pertama adalah hedonisme individual. Yaitu pandangan yang menegaskan bahwa setiap manusia pasti memiliki keinginan untuk meraih kesenangan pribadi setinggi-tingginya. Kedua adalah hedonisme universal. Yaitu pandangan yang menyatakan bahwa kesenangan pribadi juga seharusnya melibatkan kebahagiaan atau kesenangan orang lain.

Baca Juga  Akhlak Seorang Pemimpin Perspektif Al-Quran

Ketiga adalah hedonisme kuantitatif. Yaitu kepercayaan bahwa manusia pada dasarnya ingin memperoleh kesenangan sebanyak mungkin, tanpa memperhatikan bentuk atau jenisnya. Keempat adalah hedonisme kualitatif. Yaitu pandangan yang lebih menitikberatkan bahwa kualitas kesenangan lebih penting daripada jumlahnya. Mutu kenikmatan tersebut sangat menentukan makna hidup seseorang.

Penyebab Hedonisme

Sikap hedonis muncul karena seseorang jauh dari Tuhan atau malas beribadah. Seseorang yang hedonis cenderung tidak memerlukan bantuan orang lain. Mereka merasa mampu melakukan apapun sendiri. Namun pada kenyataannya tidak demikian. Manusia tetaplah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain.

Arif Rahmat (2020, h. 39) menyatakan bahwa membiasakan sikap hedonis terlihat dari perilaku yang condong ke arah mendewakan kesenangan hidup. Sebagai contohnya, yaitu sikap konsumtif dalam fesyen dan barang mewah.

Faktor penyebab gaya hidup hedonisme menyatakan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi gaya hidup seseorang ada dua faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal).

Dampak Hedonisme

Dampak dari gaya hidup hedonisme antara lain adalah munculnya sikap individualisme. Individualisme muncul tatkala seseorang yang memiliki gaya hidup hedonis cenderung bersikap individualis, mengutamakan kepentingan pribadi di atas orang lain. Sikap konsumtif juga menjadi dampak negatif dari hedonisme. Sikap ini adalah kebiasaan membeli barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan, hanya demi memperoleh kepuasan sesaat karena gemar berbelanja.

Selain itu, sifat egois juga sering muncul pada individu dengan gaya hidup hedonistik, yang cenderung mengutamakan dirinya sendiri dan tidak peduli terhadap orang lain. Mereka juga cenderung menjadi malas, tidak menghargai waktu, dan kurang memiliki semangat hidup. Budaya hedonisme memiliki pengaruh buruk terhadap karakter dan perilaku seseorang. Individu yang hidup secara hedonis cenderung menjadi pribadi yang keras hati serta mudah terjerumus dalam kesesatan. Dalam mengejar kenikmatan duniawi, mereka cenderung menghalalkan segala cara demi memenuhi keinginan mereka.

Baca Juga  Doktrin Ishmah dalam Tafsir Al-Qummi

Bagi penganut hedonisme, hidup adalah tentang kesenangan dan kenikmatan belaka. Dengan kata lain, mereka memuja hiburan serta kenikmatan hidup. Dua karakter utama yang melekat pada individu hedonis adalah sifat materialistik dan individualistik. Budaya hedonis juga dapat menumbuhkan kesombongan dalam diri seseorang. Mereka biasanya tamak terhadap harta serta kekayaan, dan sangat menyukai gaya hidup mewah yang bergelimang kemewahan dengan mencari jalan termudah untuk mendapatkan kenikmatan duniawi.

Akibatnya, hal ini bisa memicu tindakan kriminal yang dapat merugikan orang lain, negara, dan bangsa. Untuk mencegah gaya hidup semacam ini, generasi muda Indonesia perlu bersikap lebih kritis dan selektif terhadap berbagai pengaruh baru di lingkungan sekitar mereka.

Pandangan Para Mufassir terhadap Hedonisme

QS. Al-A’raf Ayat 31:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

Artinya:”Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan,”.

Dalam agama Islam, terdapat larangan bagi umatnya untuk melakukan tindakan yang bersifat berlebihan bermegah-megahan. Hal ini diperingatkan secara tegas dalam kitab suci Al-Quran dengan ancaman hukuman yang sangat pedih baik, di alam barzakh maupun di akhirat kelak.

Firman Allah yang menyatakan “Alhakum al-takatsur” tertuju sebagai ancaman bagi orang- orang yang hanya sibuk dengan urusan duniawi selama hidupnya. Ayat ini juga berkaitan dengan orang yang tidak sempat bertaubat sebelum akhirnya meninggal dunia. Mereka pasti menyadari dampak dari tindakan mereka dengan keyakinan yang kuat atau ‘ain al-yaqin.

***

Beberapa ulama meyakini bahwa manusia akan hidup kembali di alam barzakh seperti kehidupan mereka di dunia. Di sana, mereka akan diuji melalui pertanyaan-pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir. Mereka juga akan menerima balasan, baik berupa kemuliaan atau siksaan, akibat tindakan yang mereka lakukan selama hidup di dunia.

Baca Juga  Telaah Rasionalitas Pohon Zaqqum dalam Al-Qur'an

M. Quraish Shihab (Tafsir al-Misbah, 2002) berpendapat mengenai kata israf dalam tafsirnya. Beliau menjelaskan kata israf terambil dari kata اسرف. Arti dari kata ini adalah melampaui batas kewajaran sesuai dengan kondisi yang bernafkah dan yang diberi nafkah.

Sifat ini adalah larangan bagi manusia untuk melakukan perbuatan melampaui batas, yaitu berlebih-lebihan dalam hal apapun. Untuk menilai sifat ini pada manusia, kita perlu melihat kesesuaiannya dengan kondisi setiap orang. Berdasarkan perbedaan kadar penilaian terhadap seseorang, boleh jadi seseorang telah melakukan hal yang melampaui batas atau belum cukup untuk orang lain.

Sedangkan Musthafa al-Maraghi (Terjemah Tafsir al-Maraghi, 1986) menyatakan bahwa israf merupakan membelanjakan harta di luar batas naluri, ekonomi, serta syar’i. Dari pendapat tersebut tampak jelas bahwa israf adalah perilaku negatif yang dapat melalaikan manusia. Perilaku ini membuat manusia terjerumus dalam perbuatan dosa atau hal-hal yang tidak Allah ridai.

Ayat di atas menunjukkan bahwa perilaku tabzir, yaitu mengeluarkan harta secara tidak benar, merupakan perbuatan-perbuatan negatif yang dapat menjerumuskan mukmin dalam perbuatan setan.

Editor: Dzaki Kusumaning SM

Referensi:

  1. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Kelima). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2016.
  2. Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
  3. Al‑Maraghi, A. M. Terjemah Tafsir Al‑Maraghi. Kuala Lumpur: Pustaka Al‑Azhar, 1986.
  4. Qur’an Kemenag Digital
  5. Maryam Ismail, “Hedonisme dan Pola Hidup Islam,” Jurnal Ilmiah Islamic Resources 16, no. 2 (22 Januari 2020): 193, https://doi.org/10.33096/jiir.v16i2.21.
  6. Arif Rahmat, Asyari Asyari, dan Hesi Eka Puteri, “Pengaruh Hedonisme dan Religiusitas Terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa,” EKONOMIKA SYARIAH : Journal of Economic Studies 4, no. 1 (10 Juli 2020): 39, https://doi.org/10.30983/es.v4i1.3198.