Kebahagiaan adalah sebuah mimpi dan harapan setiap manusia. Tidak ada seorang pun yang tidak mengharapkan kebahagiaan sesungguhnya. Bahkan dalam sebuah buku Psikologi Positif yang ditulis oleh Iman Setiadi Budi dikatakan bahwa kebahagiaan menjadi sebuah tujuan akhir setiap manusia.
Topik tentang bahagia hingga saat ini selalu menjadi topik yang relevan untuk dibahas di berbagai kalangan, baik muda maupun tua. Bahagia kaitannya dengan manusia, memiliki esensi yang sangat penting dalam kehidupan. Semua manusia selalu berusaha dan berlomba-lomba untuk mendapatkan kebahagiaan. Namun apa sejatinya makna kebahagiaan dan bagaimana kebahagiaan itu dapat diraih.
Apa itu Kebahagiaan?
Kebahagiaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah keadaan atau kondisi yang menunjukkan perasaan senang dan tentram (bebas dari segala yang menyusahkan). Merujuk pada pengertian tersebut maka dapat diketahui bahwa orang yang bahagia dapat diartikan sebagai “siapapun yang menemukan atau mengalami keadaan atau perasaan senang dan tentram serta terbebas dari segala hal yang dapat menyusahkan dirinya”. Bahagia juga dapat diartikan sebagai sebuah perasaan nyaman, tenang, damai hatinya tanpa beban.
Karakteristik dan faktor yang mempengaruhi kebahagiaan seseorang beraneka ragam. Menurut David G. Myers ada 4 yaitu: menghargai dirinya sendiri, optimis, terbuka, dan dapat mengendalikan diri. Maka dapat dikatakan bahwa kebahagiaan itu bukan hanya berasal dari harta, tahta, dan berbagai kemewahan materialistik lainnya. Akan tetapi kebahagiaan adalah proses setiap manusia untuk mengatur dan mengendalikan dirinya (self management).
Lebih lanjutnya, bagi umat Islam makna sesungguhnya kebahagiaan bukan hanya tentang kenikmatan dunia tapi juga akhirat. Jika menilik pada ayat Al-Qur’an maka terdapat beberapa lafal tentang makna kebahagiaan.
Kebahagiaan dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an banyak menyebutkan lafal tentang kebahagiaan. Bahagia yang ditawarkan oleh Al-Qur’an adalah kebahagiaan yang sejati. Di dalam Al-Qur’an lafal dan makna bahagia dapat diketahui melalui beberapa bentuk, di antaranya yaitu: sa’adah, falah, farih, fawz, sakinah, tuba dan surur. Adapun yang akan saya uraikan dalam tulisan ini hanya dua lafal yaitu sa’adah dan falah.
Pertama, lafal sa’adah berasal dari kata sa’ida (سعد) – yas’adu (يسعد) – su’ida (سعد) – sa’adatan (سعادة), yang bermakna berbahagia. Lafal sa’adah di dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 2 kali dalam surah Hud ayat 105 dan 108. Dalam surah Hud ayat 105 lafal sa’adah disebut dengan bentuk isim fa’il, sa’iidun:
يَوْمَ يَأْتِ لا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيْدٌ
Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.
Sedangkan dalam surah Hud ayat 108 lafal sa’adah disebutkan dengan menggunakan fi’il madhi majhul yaitu su’idu:
وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ إِلا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءَ غَيْرَ مَجْذُوْذٍ
“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.”
Dalam Kamus al-Munjid dijelaskan bahwa sa’adah merupakan lawan kata dari syaqawah: kesengsaraan. Dalam kitab Tafsir al-Jilani makna sa’adah dibagi menjadi 2 yaitu sa’adah dhahir dan sa’adah batin. Sa’adah dhahir saat manusia masih di dunia diartikan: bentuk istirahat dari rasa lelah atau capek, sedangkan saat di akhirat: selamat dari adzab. Sedangkan sa’adah batin saat di dunia diartikan: istirahat hati dari jeri payah, kekhawatiran serta kesedihan, dan di akhirat yaitu selalu menyaksikan kebenaran disisi Allah.
Dengan uraian di atas dapat diketahui bahwa kebahagiaan manusia sesungguhnya tidak hanya kebahagiaan fisik tetapi juga kebahagiaan non-fisik: batin. Orang yang merasakan bahagia secara fisik seperti istirahat dari rasa lelah belum tentu juga merasakan kebahagiaan batin: ketenangan hati. Lebih jauhnya, kebahagiaan juga bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Kebahagiaan duniawi bersifat sementara, sedangkan kebahagiaan ukhrawi bersifat kekal dan abadi.
Dalam buku Tafsir Kebahagiaan yang ditulis oleh Didi Junaedi menjelaskan bahwa lafal sa’adah yang berbentuk majhul dari redaksi aladhina su’idu menunjukkan bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya diraih oleh manusia tidak hanya semata-mata atas hasil kerja keras dan usaha yang dilakukannya. Akan tetapi, itu termasuk pemberian serta karunia dari Allah SWT. Dengan kata lain, kebahagiaan itu bukan hanya berkaitan dengan proses manusia mencarinya tapi juga proses Allah SWT memberikannya.
Kedua, lafal falah berasal dari akar kata (أفلح – يفلح) yang bermakna selamat dan sukses terhadap apa yang dicari dan diusahakan. Dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 40 kali dengan beragam derivasinya di antaranya yaitu: تفلحون يفلح ، يفلحون ، يفلحوا ، dalam bentuk fi’il mudhari’, مفلحون ، مفلحين dalam bentuk isim fa’il, dan أفلح dalam bentuk fi’il madhi. Misalnya dalam surah ali-Imran: 200 Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.
Dalam Al-Qur’an lafal tuflihun selalu disebutkan dengan bentuk laallakum tuflihun, dan beberapa ayatnya selalu disebut bersamaan dengan lafal perintah untuk bertaqwa kepada Allah SWT. Menurut al-Jailani lafal laallakum tuflihun ditafsirkan sebagai seseorang yang berhasil dalam meraih kemenangan yang besar dari Allah: seseorang yang meraih surga-Nya. Sehingga cara untuk meraih kebahagiaan yaitu dengan melaksanakan semua perintah dan hal-hal yang diridhai oleh Allah
Bahagia Sesunggunya itu Dunia Akhirat
Dalam buku Mengapa Sulit Bahagia dijelaskan bahwa kebahagiaan yang sejati adalah kebahagiaan yang mencakup kehidupan dunia maupun akhirat. Bagi umat Islam tentu keduanya haruslah beriringan karena kebahagiaan dunia saja tidak akan berarti jika tidak dapat mengantarkan manusia kepada kebahagiaan akhirat. Hal ini seperti ayat yang telah difirmankan oleh Allah SWT dalam surah al-Qasas: 77
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Ayat di atas mengisyaratkan bahwa apa yang kita miliki di dunia ini harus kita gunakan sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan yang kekal, yaitu kebahagiaan di akhirat.
Editor: An-Najmi Fikri R





























Leave a Reply