Manusia biasanya cenderung mengeluh dengan cobaan yang Allah kirimkan. Padahal hakekatnya cobaan tersebut merupakan jalan untuk mengukur seberapa teguh iman seseorang. Dalam Al-Qur’an pun sudah jelas Allah tidak akan membebani kaumnya kecuali kaum itu mampu melewatinya. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa Allah menguji hambanya sesuai dengan porsi kemampuan masing-masing. Sebagai orang yang beriman haruslah selalu khusnudzon kepada sang pencipta. Karena sebaik-baik takdir hanya Allah yang mengetahui.
Menghadapi Kesulitan
Adanya cobaan maupun ujian dalam kehidupan, biasanya menimbulkan rasa kecemasan, kekhawatiran, kegelisahan bahkan sampai tingkat keputusasaan. Sehingga rasa yang dominan adalah bentuk pesimis tanpa melibatkan rasa optimis. Padahal dalam Al-Qur’an sudah menyebutkan secara terang-terangan yakni QS. Al-Insyirah [94]: 5-6 yang artinya : “Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan dan sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan”. Tentunya janji Allah dalam ayat tersebut benar adanya.
Al-Qur’an adalah kitab petunjuk yang di dalamnya dapat mententramkan hati. Sering kali manusia ketika ditimpa musibah mengabaikan adanya pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an. Secara psikologis, ketika mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an saja dapat mengurangi rasa kecemasan dalam hidup. Apalagi terhadap isi kandungan Al-Qur’an, tentu sebagai seorang beriman harus percaya dan mengaplikasikan nasihat yang Allah berikan.
Kesulitan pada hakekatnya mengajarkan untuk mencari solusi dengan bijak dan benar, mengajak untuk berfikir. Sebagaimana dalam Al-Qur’an juga disinggung afala ta’qilun, afala tadzakkarun, afala tatafakkarun, afala yandzurun. Manusia dengan ini memiliki keistimewaan dibanding dengan makhluk lain. Hal yang membedakan kesempurnaan pada manusia adalah diberikan akal untuk berfikir. Dengan begitu, adanya kesulitan yang Allah berikan kepada hambanya, tidak sepatutnya untuk dikeluh kesahkan yang jatuhnya bisa menjadi tidak ridha dengan qada’ qadarnya Allah.
Tafsir QS.Al-Insyirah [94]:5-6
Dalam hal ini Ahmad Musthafa al-Maraghi menjelaskan bahwa setiap adanya kesempitan pasti juga terdapat kelapangan dan jalan keluar. Dengan demikian, jalan yang harus ditempuh harus sabar dan tawakkal kepada Allah. Sebab ketika menelisik ke belakang yang menjadi suri tauladan yakni Nabi Muhammad SAW selalu ditimpa kesulitan, banyak kaum yang bersatu untuk menyerang. Tetapi semuanya tidak berlaku dalam menghentikan visi dakwahnya dan sang Nabi tidak menyerah sampai kepada titik tujuan. Hal ini juga senada yang diungkapkan Hamka dalam tafsir Al-Azhar, kedua ayat 5-6 dalam surah al-Insyirah merupakan sebuah sunnatullah. Nabi Muhammad SAW merasa memikul berat beban seolah-olah akan patah tulangnya. Tetapi, adanya beban tersebut, Allah mengangkat namanya untuk dimuliakan. Sehingga sunnatullah disini, kesulitan pasti disertai dengan kemudahan. Apabila tidak ada kesulitan maka tidak ada pula sebuah kemudahan. Dalam kesusahan terdapat kesenangan, begitupun sebaliknya.
Keterangan dari tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur karya Hasbi As-Siddieqy juga menyebutkan secara umum kandungan dalam surah al-Insyirah menerangkan ketinggian derajat nabi Muhammad SAW. Lebih spesifik, penjelasan terkait ayat 5-6 surah al-Insyirah bahwa seseorang harus tahan dan kuat dalam melepaskan kesulitan dengan bersenjata kesabaran, dengan begitu kemudahan akan menghampiri. Di dalamnya diperumpamakan pada waktu itu Nabi sangat kesulitan dan kurangnya pembantu pada saat menghadapi musuh yang kuat. Tetapi karena menjalaninya dengan buah kesabaran, akhirnya memperoleh harta yang banyak, pembantu yang kuat-kuat, bahkan musuh menjadi lemah.
Tadabur Ayat
Jika diperhatikan dalam surah al-Insyirah ayat 5-6 terdapat pengulangan kata. Sehingga hal tersebut terkesan bertele-tele. Namun disisi lain mempunyai penetapan makna dan maksud kata dalam hati. Wahbah az-Zuhaily dalam tafsirnya memaparkan term pada kata “al-‘usr” bersifat makrifat dan bermakna satu, hal ini yang dimaksud kesulitan yang pertama juga kategori dalam kesulitan ayat sesudahnya. Kesulitan disini bisa diartikan sebagai kemiskinan, kelemahan atau setaranya yang berbau dengan bobot sulit. Sedangkan term lafadz “yusr” berbentuk nakirah yang mempunyai maksud kebalikan dari makrifat yaitu berbilang tidak hanya satu. Kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa bersama kesulitan pasti akan datang dua kemudahan.
Keterangan diatas dapat dipahami pada dasarnya tidak ada kesulitan yang tidak teratasi. Jika jiwa seseorang selalu dipenuhi rasa optimis untuk mencari jalan keluar sebuah permasalahan dengan menggunakan fasilitas yang telah Allah ciptakan yaitu akal kemudian berikhtiar dan tawakkal, maka kesulitan akan perlahan dapat terselesaikan. Dengan begitu, hidup yang dijalani tidak melulu sambat ketika menghadapi jalan hidup yang berliku-liku. Yang terpenting adalah selalu ingat bahwa Al-Qur’an juga hudallinnas dan hudallilmuttaqin. Wallahu A’lam.




























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.