Eksistensi tafsir lokal memang selalu menjadi sesuatu yang menarik dan sangat diminati. Sebab dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan kontekstual tentang teks yang ditafsirkan. Tafsir dengan nuansa lokal dapat memberikan wawasan tentang bagaimana teks itu digunakan dan diinterpretasikan oleh masyarakat setempat. Serta dapat memberikan konteks yang lebih luas dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang teks itu sendiri. Satu dari sekian banyak tafsir lokal adalah tafsir Al-Madrasi yang ditulis oleh H. Oemar Bakry. Tafsir ini merupakan sebagai sarana untuk memenuhi kurikulum pendidikan madrasah, itulah mengapa tafsir ini bernama “Al-Madrasi”.
Adapun penulisan buku Al-Laun At-Tarbawi fi At-Tafsir Al-Madrasi berawal ketika sang penulis menyelesaikan tugas akhir di UIN Walisongo Semarang. Lalu berinisiatif untuk menerbitkannya menjadi sebuah buku dan berharap dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan khazanah Islam khususnya tafsir di Nusantara. Meski referensi terkait tafsir lokal ini terbilang belum banyak, tidak lantas menyebabkan sang penulis berkecil hati. Gagasan Oemar Bakry dalam tafsirnya harus terus dimunculkan ke permukaan. Agar masyarakat selalu mengingat sosok tokoh fundamental dengan tafsirnya yang memiliki pengaruh cukup signifikan dalam kiprahnya di bidang pendidikan. Kemudian karyanya masuk menjadi kurikulum pesantren, khususnya pesantren modern Gontor dan pondok alumni.
Tafsir Lokal yang Kaya Nuansa Tarbawi
Tafsir al-Madrasi yang kaya dengan nuansa tarbawi tidak lepas dari background H. Oemar Bakry pada masa pendidikannya selama di Sekolah Thawalib Padang Panjang atau Sumatera Thawalib, sehingga menghasilkan sebuah pemikiran dalam tafsirnya. M. Riyan Hidayat dalam bukunya yang berjudul “Al-Laun At-Tarbawi fi At-Tafsir Al-Madrasi”; menjelaskan tentang bagaimana kitab tafsir ini terus menerus diajarkan di pondok pesantren. Di dalamnya juga memuat bahwa corak yang digunakan dalam tafsir al-Madrasi adalah tarbawi dan adab al-ijtima’i, tetapi yang lebih menonjol adalah corak tarbawi. Hal ini dikarenakan pondok pesantren modern memiliki basis dan fokus pada aspek pendidikan. Adapun secara metode, tafsir tersebut menggunakan metode ijmali sebab penjelasannya yang cenderung ringkas.
Kemudian, buku ini menunjukkan bahwa tafsir Al-Madrasi berdiri di atas lima landasan; yaitu bahasa, upaya mengungkap makna Al-Qur’an dalam pendidikan, materi dalam aplikasinya di masyarakat sosial, penjelasan hukum dalam Al-Qur’an, pengungkapan sebab-sebab nash, dan peniadaan kecurigaan.
Langkah Metodis Penafsiran
Sedangkan langkah-langkah penafsiran H. Oemar Bakry dalam tafsir Al-Madrasi sebagaimana yang dijelaskan di dalam buku ini, di antaranya;
- Menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditafsirkan, misalnya; menulis seluruh ayat dari surah Al-Fatihah dan beberapa ayat dari surah al-Baqarah.
- Mengembangkan kosa kata yang sulit dipahami (al-mufradat al-sha’bah) menjadi mudah untuk dipahami.
- Penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an sepotong demi sepotong. Maksudnya, kadang-kadang kata demi kata atau ayat demi ayat untuk mencapai pemahaman tentang apa yang diinginkan Tuhan Yang Maha Esa dari ayat-ayat tersebut.
- Lalu mengajukan pertanyaan untuk mengetahui sejauh mana siswa (santri) memahami ayat-ayat yang terdapat di dalam teks. Demikian pertanyaaan-pertanyaan di poin inilah yang menjadi ciri khas tafsir Al-Madrasi sebagai kitab tafsir yang menjadi kurikulum madrasah.
Sistem penulisan yang digunakan oleh H. Oemar Bakry menyesuaikan dengan urutan ayat di dalam Al-Qur’an. Selain itu, kitab ini merupakan rangkuman dari tafsir Al-Manar karya gurunya (Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang berjumlah 12 jilid). Al-Madrasi diterbitkan dalam bahasa Arab, berisi dua jilid, sampul buku kitab berwarna hijau dengan gambar Al-Qur’an. Edisi pertama tahun 1937 (bahasa Marathiyya) dan jilid kedua pada tahun 1940 (bahasa populer), yakni menggunakan lafal dan kata yang sederhana serta mudah dipahami.
Terkait dengan penggunaan bahasa Arab dan huruf Arab dalam karya H. Oemar Bakry tersebut, pertama, secara umum, dimaksudkan untuk pembelajaran di KMI. Sedangkan sebagian dari tujuan KMI adalah tafaqquh fi al-din dan mahir berbahasa Arab lisan (takallum) dan tulisan (kitabah). Secara spesifik, Tafsir al-Madrasi ditulis dalam bahasa Arab dimaksudkan agar dapat memberikan kemudahan dalam memahami bahasa Arab Al-Qur’an yang dikhususkan untuk bahan ajar bagi santri di madrasah. Penggunaan kitab tafsir ini dipandang efektif untuk meningkatkan kemampuan bahasa Arab dan literasi di bidang tafsir Al-Qur’an.
Bagaimana Kontribusi Buku Ini?
Sebuah karya yang ditulis oleh M. Riyan Hidayat ini membantu dalam pengembangan dan pelestarian pengetahuan terhadap tafsir lokal karya H. Oemar Bakry yang belum cukup banyak muncul dipermukaan. Sebab kajian tafsir lokal akan selalu menarik bila dikaji, terlebih di bumi Indonesia. Kajian seperti ini juga memberikan kontribusi dan informasi yang baik bagi pembaca, terkhusus bagi yang ingin mengkaji tentang tafsir al-Madrasi karya H. Oemar Bakry.
Sayangnya, buku Al-Laun At-Tarbawi fi At-Tafsir Al-Madrasi menggunakan bahasa Arab dalam sajiannya. Ini mungkin akan menjadi kendala bagi pembaca yang memiliki background umum serta belum pernah mendalami bahasa Arab sebelumnya. Namun, meskipun menggunakan bahasa Arab, sang penulis berusaha menyajikan tulisannya dengan kata dan kalimat bahasa Arab yang sederhana, sehingga akan lebih mudah dipahami. Harapannya, semoga akan lahir karya-karya berikutnya sebagai penyempurna buku ini.
Penyunting: Ahmed Zaranggi



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.