Batas-batas wilayah seluruh penjuru dunia menjadi kabur. Kita dapat menjelajah dengan mudahnya melalui gawai yang dibantu dengan koneksi internet dan wadah media sosial yang mampu memicu pengguna berkomunikasi dua arah. Artinya, postingan yang dikirimkan tidak hanya terbubuh like, namun juga dapat ditimpal dengan cuatan komentar.
Alih-alih menghidupkan komunikasi dua arah, fitur ini dapat disalahgunakan oleh pengguna media sosial yang kurang bijak. Tulisan ini dilatarbelakangi oleh tulisan Lora Ismail Ascholy yang menohok netizen melalui postingan feed Instagramnya pada 2 Januari 2024. Dalam postingan tersebut, beliau mengutip surah Saba’ ayat 53. “Mereka melontarkan sebuah komentar tentang hal yang tidak mereka ketahui secara pasti, dari tempat yang jauh”. Tepat sekali!
وَقَدْ كَفَرُوْا بِهٖ مِنْ قَبْلُۚ وَيَقْذِفُوْنَ بِالْغَيْبِ مِنْ مَّكَانٍۢ بَعِيْدٍۚ
Sungguh, mereka telah kufur terhadap kebenaran sebelum itu (ketika di dunia) dan melontarkan (keraguan) tentang yang gaib dari tempat yang jauh.
Ragam Tafsir Surah Saba’ Ayat 53
Menurut Al-Baghawi dalam tafsirnya, kufur terhadap kebenaran yang dimaksud adalah Al-Qur’an. Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah kufur kepada Nabi Muhammad ﷺ , sebelum mereka menyaksikan sendiri akan azab dan kedahsyatan hari kiamat.
Mujahid berkata, bahwa mereka melemparkan tuduhan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan dugaan, bukan dengan keyakinan. Mereka mengatakan, “Muhammad adalah tukang sihir, seorang penyair, seorang peramal!”. Makna dari kata ‘ghaib’ di sini adalah dugaan, karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang jelas tentang hal tersebut. Sementara ‘tempat yang jauh’ mengacu betapa jauhnya jarak mereka dari pengetahuan yang benar mengenai apa yang mereka katakan. Artinya, mereka melemparkan tuduhan kepada Nabi Muhammad ﷺ tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui. Dan juga, dengan sudut pandang yang sama sekali tidak mereka pahami [Tafsīr al-Baghawī, 6/407].
Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan, bahwa dalam bahasa Arab, orang yang berbicara tentang sesuatu yang tidak dia ketahui akan disebut “melemparkan” atau “merajam” dengan perkara gaib. “Dari tempat yang jauh,” ini menggambarkan gambaran tentang orang yang melemparkan sesuatu tanpa mengenai sasaran. Sama halnya seperti seseorang yang merajam tapi tidak mengenai targetnya. Artinya, mereka hanya berspekulasi. Mereka mengatakan tidak ada kehidupan setelah mati, tidak ada kebangkitan, surga, dan maupun neraka. Semuanya hanya dugaan dari mereka. Qatadah juga mengatakan bahwa mereka melemparkan tuduhan ini dengan hanya dugaan.
***
Ada juga yang mengatakan bahwa “melemparkan” ini merujuk pada tuduhan terhadap Al-Qur’an. Misalnya ialah dengan berkata bahwa Al-Qur’an itu adalah sihir, puisi, atau cerita-cerita dari orang-orang dahulu. Ada yang juga berpendapat bahwa maksud dari diksi tersebut adalah tuduhan terhadap Nabi Muhammad ﷺ. Mereka menyebutnya sebagai seorang tukang sihir, penyair, peramal, atau orang gila.
Makna ‘dari tempat yang jauh’ dapat berarti bahwa Allah menjauhkan mereka dari kemampuan untuk mengetahui kebenaran tentang Nabi Muhammad ﷺ. Ada juga yang mengatakan bahwa maksudnya adalah bahwa hati mereka jauh dari kebenaran ini, sehingga mereka bebal menerima kebenaran. [Al-Jāmi’ li Aḥkām al-Qur’ān, 14/317].
Menanggapi Komentar Spekulatif di Dunia Maya
Spekulasi dan asumsi yang tidak berdasar kerap kali menjejali fenomena berkomentar di dunia maya. Media sosial memberikan kebebasan bagi siapa saja untuk berbicara tentang apapun, bahkan tanpa peduli valid tidaknya. Sama halnya dengan yang tertera dalam Surah Saba’ ayat 53, di mana mereka yang tidak mengetahui kebenaran melontarkan tuduhan atau komentar tanpa dasar yang jelas, dari tempat yang jauh.
Dalam konteks ini, “tempat yang jauh” tepat sekali diidentikkan dengan media sosial yang posisi jarak nyatanya saling berjauhan. Merenggangkan pengetahuan milik si pemberi komentar dan kebenaran yang sesungguhnya. Hal ini mencerminkan betapa banyak komentar di dunia maya yang sering kali berpijak pada asumsi-asumsi yang tidak berdasarkan pada pengetahuan atau fakta yang jelas.
Jika tidak hati-hati, tuduhan di kolom komentar atau cuatan di dunia maya bisa jadi tidak benar, bahkan bisa menyakiti orang lain, tanpa benar-benar mengetahui kebenarannya. Sebagaimana yang ada pada penjelasan dalam penafsiran di atas, mereka berkata tanpa keyakinan, hanya berdasarkan dugaan atau spekulasi. Sebagai misal, seseorang bisa saja memberi label negatif terhadap orang lain atau kelompok tertentu berdasarkan sedikit informasi atau bahkan tanpa informasi sama sekali, hanya karena tidak memahami hal yang sebenarnya. Ini mirip dengan fenomena di media sosial di mana komentar-komentar tercuat berdasarkan prasangka, bukan fakta.
***
Sama halnya dengan tuduhan sebagian orang di masa awal Islam terhadap Nabi Muhammad ﷺ, banyak komentar di dunia maya yang menyudutkan tanpa bukti yang kuat. Ada yang menganggap orang lain sebagai “penipu,” “pembohong,” atau bahkan “pengkhianat,” hanya karena berbeda pandangan atau kurangnya pemahaman. Inilah yang menjadi tantangan besar di dunia maya, di mana setiap orang bisa dengan mudah melontarkan pendapat tanpa memikirkan dampaknya.
Sama seperti mereka yang mengingkari Nabi Muhammad ﷺ dengan alasan yang tidak berdasar, kita sebagai pengguna media sosial juga harus sadar bahwa setiap komentar yang kita buat bisa membawa dampak. Jika kita berbicara tanpa pengetahuan yang cukup, kita justru bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Maka, penting bagi kita untuk selalu mengecek informasi dan berpikir dua kali sebelum memberi komentar, agar tidak terjebak dalam kesalahan seperti yang tergambar dalam Surah Saba’ ayat 53.
Sebagai penutup, melalui ayat ini, kita belajar supaya tidak tergesa-gesa dalam menyampaikan tudingan di kolom komentar, apalagi jika kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Di dunia maya yang serba cepat, kita harus bisa mengontrol diri agar tidak melemparkan tuduhan atau komentar yang hanya berdasar pada asumsi.
Wallahu a’lamu.
Editor: Dzaki Kusumaning SM


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.