Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Pentingnya Menuntut Ilmu

ilmu
Sumber: freepik.com

Pandemi yang telah melanda dunia bahkan di negara kita sendiri yakni indonesia. Ini telah menyulitkan semua masyarakat pada umumnya, baik dari orang-orang yang bekerja sampai pelajar. Akan tetapi selama kurang lebih satu tahun ini para pelajar tetap semangat dalam menuntut ilmu, baik mahasiswa yang mencari gelar sarjana maupun santri yang menimba ilmu dan ngalap barokah dari sang guru. Sejalan dengan misi agama Islam, perintah untuk menuntut ilmu ini juga termaktub dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قِيْلَ لَـكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَا فْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَـكُمْ ۚ وَاِ ذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَا نْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah 58: Ayat 11).

Ayat ini menunjukkan bahwasanya Allah akan mengangkat derajat bagi orang-orang yang berilmu.

Proses Menuntut Ilmu

Dalam mencari ilmu, semua proses dan perjalanannya memang tak melulu tentang kemudahan. Adakalanya susah, patah dan gagal dalam melintasi getirnya setiap perjalanan. Namun dengan demikian semua itu harus kita hadapi dengan hati yang ikhlas. Syekh Muhammad bin Hasan merupakan salah satu ulama’ yang merasakan pahitnya menuntut ilmu. Beliau dalam kitab Ta’lim Muta’alim karya Syekh Az-Zurnuji menuturkan bahwasanya kesenangan para putra raja tidak sebanding dengan kelezatan ilmu yang beliau dapatkan.

Baca Juga  Merayakan Valentine Tidak Akan Membuat Murtad

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal akrab dengan sebutan Ki Hajar Dewantara juga menuturkan, bahwasanya “Dengan ilmu kita menuju kemuliaan”. Seperti halnya Allah SWT memberi kemuliaan kepada Nabi Adam mengungguli para malaikat, sehingga Allah memerintahkan kepada semua malaikat agar bersujud kepadanya.

Sejalan dengan misi Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan hal yang penting dalam kehidupan dan kemajuan suatu bangsa. Sehingga setiap tahunnya, tepat pada tanggal 2 Mei diperingatilah sebagai Hari Pendidikan Nasional. Hari bagi siswa dan gurunya, mahasiswa dan dosennya, bahkan orang tua dan anaknya yang memiliki peran aktif dalam menanamkan nilai-nilai moral pendidikan.

Namun, bukankah setiap hari adalah hari pendidikan bagi para pengajar dan pelajar? Yang mana mereka melakukan proses belajar mengajar selama 6 hari dalam seminggu berturut-turut.

Latar Belakang Peringatan Hari Pendidikan

Latar belakang diperingatinya hari pendidikan ini tak lepas dari perjuangan Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Beliau memperjuangkan mati-matian dengan menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia-Belanda yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda yang bisa mengenyam bangku pendidikan.

Setelah diasingkan oleh pemerintah kolonial belanda, beliau kembali ke Indonesia dan mendirikan sebuah lembaga Pendidikan Nasional Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Perguruan Taman Siswa. Sehingga dengan adanya taman siswa ini anak-anak Indonesia bisa merasakan duduk di bangku sekolah dan memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi atau orang-orang Belanda.

Oleh sebab itu, hari pendidikan nasional diperingati sebagai wujud apresiasi penghargaan dari perjuangan bapak pendidikan nasional kita ‘Ki Hajar Dewantara’. Pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan ini juga ditulis dalam syair Syekh Muhammad bin Hasan bin Abdillah disebutkan tentang kemuliaan ilmu:

تعلم فإن العلم زين لأهله # وفضل و عنوان لكل المحامد

Belajarlah ilmu pengetahuan, karena sesungguhnya ilmu pengetahuan merupakan hiasan bagi pemiliknya. Ilmu juga menjadi keutamaan dan tanda bagi setiap sesuatu yang terpuji.

Perlunya Menahan Diri

Namun, di era ini ilmu seringkali di salah gunakan. Banyak para ahli ilmu yang kehilangan kemuliaan sebab kelalaian dan hawa nafsunya. Sehingga mereka terjerumus dalam kemaksiatan. Seperti contoh maraknya berita hoax dan fitnah dimana-mana sebab kelirunya pengetahuan, muncul ilmu-ilmu sihir yang dapat membahayakan orang lain, dan banyak terjadi korupsi oleh mereka yang justru memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi dan lain sebagainya.

Baca Juga  Kewajiban Menyampaikan Ilmu kepada Sesama Perspektif Islam

Dalam menuntut ilmu, kita sebagai makhluk yang diberi kelebihan akal pikiran oleh Allah sharusnya kita dapat lebih bijak dalam memanfaatkan pengetahuan yang kita peroleh. Nilai-nilai spiritual terhadap sesama juga harus kita terapkan sehingga tidak banyak menimbulkan kezaliman.

Para ulama pada zaman dahulu, dalam menuntut ilmu selalu menerapkan sifat wira’i. Mereka memiliki ihthiyat yang tinggi dalam mengambil dan memutuskan sesuatu, dan menjaga diri dari perbuatan yang dilarang oleh agama. Hal tersebut mereka lakukan demi menjaga kemuliaan ilmu dalam diri mereka.

Syekh Jalil Muhammad bin Fadhal merupakan ulama’ yang terkenal dengan kewiraiannya dalam menuntut ilmu. Beliau selalu menjaga diri dari perkara-perkara yang syubhat selama menuntut ilmu. Bahkan beliau tidak pernah memakan makanan pasar, sebab kewiraiannya. Beliau mendapat pertolongan ilmu dan menyebarkannya sehingga nama beliau akan tetap harum sampai hari kiamat.

Penyunting: M. Bukhari Muslim