Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam sekaligus kunci untuk memahami perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Baik menyangkut hubungan dengan sesama manusia maupun dengan Allah Swt. Namun, pemahaman terhadap Al-Qur’an tidak dapat diperoleh tanpa memahami ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Khususnya ilmu Bahasa Arab sebagai bahasa yang digunakan Al-Qur’an.
Di dalam ilmu Bahasa Arab terdapat beberapa istilah seperti muradif, musytarak dan sebagainya. Oleh karena itu, bagian dari Al-Qur’an baik secara keseluruhan, ayat-ayatnya, maupun kata-kata tertentu tidak dapat diartikan secara umum. Melainkan harus ditafsirkan sesuai dengan konteks yang dimaksud.
Seperti yang telah disebutkan, bahwa kandungan dalam Al-Qur’an harus dimaknai sesuai dengan konteksnya. Adapun pada saat ini kata kafir seringkali digunakan sebagai simbol orang-orang non-Islam. Serta mengarah kepada orang-orang yang sesat dan pasti akan masuk ke neraka atau berbagai pemahaman intoleran lainnya. Oleh karena itu, pada kali ini penulis hendak membahas mengenai makna kata kafir dalam Al-Qur’an perspektif Toshihiko Izutsu.
Sekilas tentang Toshihiko Izutsu
Toshihiko Izutsu lahir di Tokyo pada 4 Mei 1914 dan meninggal di Kamakura pada 7 Januari 1993. Ia berhasil menyelasaikan pendidikan tingkat perguruan tinggi pertamanya di Universitas Keio Tokyo. Setelah lulus ia bekerja sebagai dosen dari tahun 1954 sampai 1968. Diketahui bahwa ia juga sempat tinggal di Mesir dan Lebanon. Selain itu ia juga pernah mengisi kuliah di Universitas Mcgill.
Di Jepang, ia dikenal sebagai pakar keislaman Jepang yang bahkan karya-karyanya menjadi bahan rujukan dan pengembangan studi Islam. Di antara karya-karya dalam bidang studi Islam yang ditulis Toshihiko Izutsu adalah History of Islamic Thought, Birth of Islam, dan Reading the Quran.
Etimologi dan Terminologi Kafir
Kafir secara bahasa merujuk pada Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia berasal dari kata ك ف ر yang memiliki arti menyelubungi atau menutupi. Dari pengertian tersebut kata kafir sering digunakan dalam beberapa istilah. Seperti petani yang kerjanya menggunakan tanah untuk menutupi benih dapat disebut sebagai kafir. Begitu pula dengan malam hari yang dapat disebut sebagai kafir karena menutupi siang hari dengan kegelapannnya.
Di dalam Al-Qur’an kata kafir disebutkan sebanyak 525 kali dengan berbagai variasinya. Di antaranya kata kafur yang terdapat pada QS. Al-Insan ayat 5. Kata kuffar yang terdapat dalam QS. Al-Hadid ayat 20. Juga kata kafir yang disebutkan dalam bentuk kata kaffara-yukaffiru-takfir yang berarti menghilangkan atau menghapuskan. Serta dalam bentuk jamak yakni kaffarat yang berarti penebus kesalahan atau dosa tertentu.
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat diketahui bahwa kata kafir memiliki makna asal menghapus atau menutupi. Namun dapat berubah arti menyesuaikan dengan konteks yang terdapat dalam suatu ayat.
Makna Kata Kafir Menurut Toshihiko Izutsu
Dalam kajian terkait kata kafir yang dilakukan oleh Toshihiko Izutsu, terdapat beberapa makna dari kata kafir maupun variasi bacaannya yang terdapat dalam Al-Qur’an yakni:
- Kufr atau kafir bermakna sebagai antitesis dari keimanan
Izutsu memaknai kata kafir atau kufr sebagai lawan dari kata keimanan merujuk pada salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori yang berbunyi:
“Rasulullah bersabda; “Diperlihatkan kepadaku neraka. Ketika aku melihat di antara penghuninya adalah wanita pendurhaka.” Kemudian seseorang bertanya kepada Rasulullah, “Apakah mereka durhaka kepada Allah?” Rasulllah menjawab; “Merka kafir (durhaka) kepada suami dan tidak mau berterima kasih atas kebaikan yang diterimanya.” (HR. Bukhori)
Dalam hadis tersebut, Izutsu pada karyanya Etika Beragama dalam Al-Qur’an memahami bahwa yang dimaksud dengan kata kafir adalah tidak percaya atau tidak bersyukur atas yang nikmat yang ada. Kemudian Izutsu juga menjelaskan bahwa kata kufr memiliki dua arti berbeda namun keduanya masih saling berhubungan. Hal ini seperti yang terdapat dalam QS. Al-Isra’ ayat 89:
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِى هَٰذَا ٱلْقُرْءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَىٰٓ أَكْثَرُ ٱلنَّاسِ إِلَّا كُفُورًا
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya).”
Dalam ayat tersebut Izutsu memahami bahwa penggunaan kata kufuuran merujuk pada arti penolakan atas ajaran kebangkitan yang terdapat dalam Islam. Sehingga, orang-orang yang menolak tersebut disebut kafir. Karena telah menolak doktrin kebangkitan dan lebih percaya terhadap penggunaan akalnya.
2. Kafir dapat diartikan sebagai sifat sombong
Pemaknaan kata kafir juga dapat dipahami sebagai sifat sombong. Hal ini dapat dilihat pada QS. Az-Zumar ayat 59:
بَلَىٰ قَدْ جَآءَتْكَ ءَايَٰتِى فَكَذَّبْتَ بِهَا وَٱسْتَكْبَرْتَ وَكُنتَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ
Artinya: “(Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.”
Seperti yang nampak pada ayat diatas disebutkan bahwa orang-orang yang mendustakan dan menyombongkan diri atas kebesaran-Nya termasuk ke dalam golongan orang-orang kafir. Adapun lebih jelasnya, seperti yang terdapat dalam Tafsir as-Shagir, dijelaskan bahwa kalimat istakbara digunakan untuk menunjukkan perbuatan dengan penuh kesombongan. Adapun makna nya dalam ayat tersebut yakni orang-orang yang menyombongkan diri sehingga enggan percaya ataupun mengakui atas tanda-tanda kebesaran Allah Swt yang telah sampai kepada mereka dalam bentuk ayat-ayat Al-Qur’an.
3. Kafir sebagai permisalan dari sifat hati
Makna lainnya dari kata kafir yang dikemukakan oleh Izutsu yakni kafir sebagai sebutan atas sifat hati. Hal ini dapat terlihat pada QS. Al-Baqarah ayat 74 yang berbunyi:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِىَ كَٱلْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ ٱلْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ ٱلْمَآءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ ٱللَّهِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”
Dalam ayat di atas, Izutsu menjelaskan bahwa hati orang yang kafir mengalami beberapa kali proses hingga hati itu bisa sekeras batu. Kemudian, pada akhirnya hati itu akan tertutup dan terkunci hingga tidak lagi dapat menerima dan memahami wahyu-wahyu Allah Swt.
Kesimpulan
Kajian yang dillakukan oleh Toshihiko Izutsu menunjukkan bahwa kata kafir tidak hanya diartikan sebagai pemahaman intoleran. Namun memiliki beberapa makna sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Yakni sebagai antitesis keimanan, kafir sebagai permisalan sifat kerasnya hati, dan kafir yang berarti sifat sombong. Wallahu A’lam.
Penyunting: Ahmed Zaranggi



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.