Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menelusuri Tafsir Ibnu Mas’ud: Tafsir Jama’wa Tahqiq Wa Dirasah

ibnu mas'ud
Sumber: https://www.docdroid.net

Tafsir Jama’wa Tahqiq Wa Dirasah merupakan tafsir yang dibuat oleh Ibnu Mas’ud, seorang sahabat Rasulullah saw. Nama aslinya adalah Abdullah bin Mas’ud bin Ghaafil al-Hudzali al-Makki al-Muhajiri. Dia berayah Abu Abdurahman dan serumpun dengan Bani Zahrah. Beliau pendek dan kurus, dengan kulit agak hitam. Berasal dari kabilah Hudzail, yang terkenal dengan sejarah bahasa dan sastranya. Setelah masuk Islam pada awalnya, sahabat ini termasuk dari generasi pertama yang masuk Islam.

Kemudian beliau dan sahabat lainnya hijrah ke Habasyah dan Madinah, mengikuti peperangan Badr dan semua peristiwa penting lainnya. Dan bersama Nabi Muhammad Saw; beliau termasuk salah dekat dengan Rasulullah saw karena beliau merupakan orang yang biasa menyiapkan air untuk bersuci; sendalnya, siwak, dan tempat duduknya Rasulullah saw. Sehingga menjadi salah satu yang menceritakan hadits dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan jumlah riwayat yang sangat banyak.

Keutamaan Ibn Mas’ud

Ibnu Mas’ud seperti para sahabat lainnya menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an disamping pula melandaskan tafsirnya dengan hadis nabi. Beliau akan meriwayatkan apa pun yang dia ketahui tentang ahli kitab selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Selain itu, karena Abdullah Ibn Mas’ud berada di dekat masa turunnya Al-Qur’an dan Rasulullah SAW; beliau memiliki kesempatan untuk meriwayatkan asbabun nuzul, atau sebab-sebab turunnya Al-Qur’an dari pengetahuan pribadinya tanpa meninggalkan koridor Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan demikian, Abdullah bin mas’ud dianggap sebagai salah satu referensi penting dalam periwayatan asbabun nuzul.

Karena pada saat itu penyampaian Al-Qur’an masih dilakukan dari lisan ke lisan. Ibnu Mas’ud dan sahabat penafsir lain tidak terlalu menekankan ketika terdapat masalah. Hal ini juga disebabkan oleh fakta bahwa Nabi Muhammad SAW masih ada; sehingga mendapatkan jawaban langsung dari Rasulullah saw sebagai penyampai Kalamullah. Meskipun Ibnu Mas’ud tidak menulis suatu kitab tafsir. Namun, dia memiliki cara yang unik untuk menafsirkan Al-Qur’an karena dia sangat memahami hubungan antara ayat-ayatnya, dan kedekatannya dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sehingga sangat membantunya dalam menafsirkannya. Dia juga dapat menggunakan kedekatannya dengan Rasulullah sebagai pengetahuan asbabun nuzul dalam periwayatannya.

Baca Juga  Ideologi Al-Qur’an Pada Fenomena Cyberbullying

Ibn Mas’ud dan Tafsir Al-Qur’an

 Selain itu, Abdullah ibn Mas’ud memiliki pengetahuan tentang ahli kitab terdahulu. Beliau dengan terang-terangan menyatakan bahwa ia mengambil dari mereka sesuatu yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Dan menyatakan bahwa ia melakukannya karena dia percaya bahwa itu boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah nabi. Namun, jika orang yang diriwayatkan memiliki syubhat yang bertentangan dengan pemahamannya tentang Al-Qur’an dan syariat, maka beliau akan menolaknya. Contoh korelasi ayat Al-Qur’an dengan hadis dalam tafsir Abdullah ibn Mas’ud dalam Qs. Al-Baqarah 238

حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ

Artinya : “Peliharalah semua salat dan salat wustha. Dan laksanakanlah (salat) karena Allah dengan khusyuk”.

At-Tirmidzi: Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Abu Dud Ath-Thayalisi dan Abu An-Nadhr menceritakan kepada kami dari; Muhammad bin Thalhah bin Musharrif dari Zubaid dari Murrah Al Hamdani dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkat: Rasulullah SAW bersabda

 صَلَاةُ الْوُسْطَى : صَلَاةُ الْعَصْرِ  (Shalat Wustha adalah Shalat Asar) (Muhammad Ahmad Isnawi Tafsir Ibn Mas’ud : Jama’ Wa Tahqiq Wa Dirasah Tafsir Ibnu Mas’ud: Studi Tentang Ibnu Mas’ud Dan Tafsirnya, 2009)

***

Dalam Kitab ver Al-Alamiyah Nomor 2911, Kitab Tafsir Qur’an, pada bab Diantara Surah Al-Baqarah pada sunan Tirmidzi.

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ، حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ وَ أبُو دَاوُدَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ مُرَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ صَلاَةُ الْوُسْطَى صَلاَةُ الْعَصْرِ ‏”‏ ‏.‏ وَ فِي البَابِ عَن زَيدِ بنِ ثَابِتٍ وَ أَبِي هَاشِمِ بنِ عَتَبَةَ و أَبِي هُرَيرَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ ‏.

Baca Juga  Tafsir Tarbawi: Begini Makna Keberanian bagi Pelajar

Telah Menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Abu An-Nadlr dan Abu Daud dari Muhammad bin Thalhah bin Musharrif dari Zubaid dari Murrah dari Abdullah bin Mas’ud. Ia berkata, Rasulullah shallahu a’laihi wasallambersabda, “Salat Wusthaa adalah salat Asar” Dalam hadis ini berupa dari Zaid bin tsabit, Abu Hasyim bin ‘utbah dan Abu Hurairah Abu Isa berkata, Hadis ini Hasan Shahih.(Shahih menurut Muhammad Nashiruddin Al-Albani)

Dalam pengajarannya, Abdullah Ibnu Mas’ud  menggunakan gaya bahasa yang unik. Sangat memperhatikan amanah ilmiah dalam menjawab masalah. Jika dihadapkan pada orang yang memiliki pengetahuan yang lebih besar darinya tentang suatu masalah tertentu, beliau akan menyarankan agar orang tersebut menemuinya.

Selain itu, Abdullah ibn Mas’ud tidak suka membuat dirinya terlihat seperti orang yang sangat berilmu. Jika menyadari bahwa beliau salah dalam memberikan fatwa, beliau akan mempertimbangkan etika, yaitu menisbatkan kebenaran kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan melibatkan kesalahan pada dirinya sendiri. Dengan menggunakan gaya bahasa Al-Qur’an, beliau dapat memperluas arti dan memahami hubungan antara susunan bahasa dalam ungkapan.