Apabila Rasulullah diutus sebagai rahmat bagi segenap alam, lalu apa bentuk dan wujudnya yang dapat kita ketahui dan teladani? Membaca sejarah hidup Nabi adalah jawabannya. Kehidupan Nabi menggambarkan akhlak dan cintanya kepada seluruh makhluk-Nya. Bahkan Nabi hampir membinasakan dirinya demi umat. Hal yang menarik, Al-Qur’an merekam kasih sayang Nabi yang teramat besar pada QS. Al-Kahfi [18]: 6 dan QS. Asy-Syu’ara [26]: 3.
Dua Ayat Gambaran Cinta Nabi
Perhatikan kesamaan narasi kedua ayat ini:
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ اِنْ لَّمْ يُؤْمِنُوْا بِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَسَفًا
Artinya: “Maka, boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).” Q.S Al-Kahf [18]: 6.
لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ اَلَّا يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
Artinya: “Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman.” Q.S Asy-Syu’ara’ [26]: 3.
Narasi kedua ayat di atas menggambarkan rasa sedih Nabi yang mendalam karena umat enggan beriman sampai Nabi hampir membinasakan dirinya. Kesan ayat ini ditunjukkan melalui dua kosa kata utama ayat: la’allaka dan bākhi’un nafsaka.
Nabi Hampir Membinasakan Dirinya?
Quraish Shihab memahami kedua ayat tersebut sebagai tamsil keadaan Rasulullah yang sangat bersedih akibat penolakan kaumnya. Terdapat dua pendapat atas kata la’allaka. Pertama, kata ini senada dengan kata ‘asa digunakan untuk menggambarkan harapan atau rasa kasih terhadap mitra bicara. Kedua, diartikan sebagai bentuk larangan, sehingga maksudnya dalam redaksi, wahai Muhammad janganlah Engkau membinasakan dirimu akibat rasa sedih sebab penolakan mereka terhadap ayat Qur’an. (Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah)
Adapu kata bākhi’un nafsaka berarti membinasakan diri karena kesedihan yang teramat dalam. Makarim Syirazi menjelaskan bahwa kesedihan Nabi juga didorong atas rasa belas kasih Nabi kepada umatnya yang telah diberi akal dan hati tapi masih tidak beriman. (Makarim Syirazi, Tafsir Al-Amtsal)
Asy-Sya’rawi memberikan gambaran bahwa kedua ayat ini merupakan wujud dari kasih sayang Nabi yang mendalam kepada umatnya agar beriman. Kasih Nabi kepada umatnya merupakan cerminan kasih sayang Allah. Karena sumber kasih Nabi yang teramat besar adalah karena Kasih Allah yang meluas dan mendalam (ar-rahman dan ar-rahim). (Asy-Sya’rawi, Tafsir Asy-Sya’rawi)
Besarnya Cinta Nabi Kepada Umatnya
Melihat penjelasan kosa kata ayat oleh Mufasir menunjukkan begitu dalam kasih Nabi kepada kaumnya, termasuk umatnya di hari ini. Pernahkah Anda membayangkan betapa besar kasih Nabi kepada pencintanya? Ayat ini menjadi penting untuk direnungkan, sebab dapat menjadi penyemangat agar terus mengimani dan mempelajari Al-Qur’an. Jika tidak, ayat ini jadi pengingat bahwa Nabi akan bersedih hati karena Anda tidak membaca, mengimani, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an.
Sayyid Qutb dan Thaba’thaba’i menegaskan bahwa ayat tersebut merupakan cara Allah menghibur Nabi Muhammad melalui kisah-kisah pembangkang Nabi-Nabi yang celaka dalam rangkaian surat Asy-Syu’ara. Jika surat ini menjadi penghibur Nabi, maka mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an secara sungguh-sungguh menjadi pelipur hati Rasulullah di hari-hari ini dan kelak di hari akhir nanti.
Semoga dua ayat di atas dapat menggerakkan kita untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an. Menjadi motivasi untuk membahagiakan Nabi serta sebagai renungan atas besarnya cinta dan kasih sayang Rasulullah terhadap umatnya. Wallahu’alam.[]


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.