Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mengenal yang Melekat Pada Diri Manusia: Hawa Nafsu

Hawa nafsu
Gambar: https://www.harakatuna.com/

Manusia merupakan makhluk sosial. Manusia di dalam dirinya memiliki dualisme yaitu sisi malakut dan sisi syaithan. Sisi malakut mendorong seseorang untuk mengerjakan kebaikan. Sedangkan sisi syaithan selalu mengajak kepada keburukan. Seseorang yang cenderung terhadap sisi syaithan, maka iya termasuk orang yang sial. Karena yang ada dalam dirinya adalah hawa nafsu, syahwat, amarah, ujub, sombong dan lain sebagainya.

Kecenderungan dalam Diri Manusia

Manusia di dalam dirinya terdapat empat unsur sifat yang pertama, sabu’iyyah (sifat binatang buas); kedua bahimiyyah (sifat binatang ternak); ketiga, sifat syaithaniyyah (setan); keempat adalah sifat rabbaniyyah (ketuhanan). Setiap dari sifat-sifat tersebut memiliki peran masing-masing. Sifat sabu’iyyah mendorong jiwa untuk menonjolkan diri, berlaku sombong, dusta, membanggakan diri, jahat, dzalim, dan lain sebagainya.

Sifat bahimiyyah berperan di dalam jiwa sebagai penghilang rasa malu jika seseorang terpengaruh oleh sifat bahimiyyah niscaya akan menimbulkan sifat tidak tahu malu. Dendam, dengki, kikir, riya’, boros, juga termasuk dari sifat bahimiyyah. Adapun sifat rabbaniyyah adalah ketuhanan, jika sifat ini dapat mengendalikan tiga sifat buruk tersebut maka ilmu, hikmah, keyakinan, dan ma’rifat tentang hakikat segala sesuatu akan timbul di dalam diri seseorang.

Nafsu adalah kecenderungan tabiat kepada sesuatu yang dirasa cocok. Kecenderungan ini merupakan satu bentuk ciptaan yang ada dalam diri manusia, sebagai urgensi kelangsungan hidupnya. Nafsu mendorong manusia kepada sesuatu yang dikehendakinya baik itu kebaikan maupun keburukan. Selain itu nafsu merupakan sebuah dorongan di dalam jiwa yang akan menghasilkan sebuah tindakan. Nafsu yang tidak dapat dikendalikan sangat berpengaruh terhadap jiwa. Berperang melawan musuh yang terlihat mungkin terlihat biasa, tetapi melawan musuh yang tidak terlihat merupakan sebuah tantangan yang luar biasa.

Baca Juga  Love Language Qurani: Rekonstruksi Mawaddah Wa Rahmah

Jihad melawan hawa nafsu yang mengajak kepada keburukan memang harus di lakukan agar ia tidak selalu muncul di dalam jiwa dan agar mendapatkan ruang keridhaan Allah swt. Seperti pada firman Allah swt dalam surah al-Ankabut: 69:                                                                                                                                                                                                

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang berjihad untuk ( mencari keridhaan ) kami, kami akan tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami ‘’.

Tafsir Al-Ankabut Ayat 69

Terdapat beberapa penafsiran mengenai ayat ini. Ayat tersebut di dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa orang-orang yang berjihad dalam artian mencari keridhaan Allah, niscaya orang tersebut akan diberikan petunjuk oleh Allah Swt. Dan di dalam Tafsir Al-Misbah dijelaskan bahwa orang-orang yang rela berkorban untuk agama pasti akan di berikan petunjuk. Serta di dalam Tafsir Al-Muyassar dimaknai bahwa orang-orang yang berusa (berjihad) melawan musuh-musuh Allah, niscaya Allah akan membimbing serta meneguhkan mereka ke jalan yang lurus atas kesabaran yang mereka lalui.

Juga sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Nabi Saw: “Sebaik-baik jihad adalah jihad melawan hawa nafsu‘’. Salah satu pengaruh nafsu adalah munculnya ketidaktenangan di dalam jiwa. Jiwa yang tidak tenang, akan sulit bagi seseorang untuk mencapai tujuan nya. Nafsu cenderung ingin menguasai manusia bahkan nafsu dengan segala cara berusaha untuk menguasai kehidupan manusia. Oleh karena itu, untuk menggapai sebuah ketenangan jiwa di butuhkan adanya riyadha atau olah jiwa dengan cara berzikir kepada Allah Swt.

Pada awal nya memang sulit untuk melanggengkan sebuah dzikir tetapi dari kesulitan itulah akan timbul sebuah kebiasaan yang dapat di nikmati oleh jiwa. Sebagaimana firman Allah swt ( ar-Ra’d: 28 ).

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram ‘’.

Menurut para mufassir, diantaranya: Muhammad Quraish Shihab, Jalaluddin as-Suyuthi dan Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi, ayat tersebut mengandung makna bahwa orang mukmin itu hatinya tenang dan ketenangan itu mereka peroleh dengan dzikir.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 108: Sopan Santun dalam Bertanya

Qana’ah Sebagai Counter Hawa Nafsu

Untuk mengendalikan hawa nafsu sendiri, salah satu caranya yaitu bersikap qana’ah terhadap apa yang telah di tetapkan. Qana’ah sendiri memiliki arti menerima apa adanya. Itu berarti menerima serta bersyukur kepada Allah Swt atas apa yang telah diberikan kepadanya. Ketika sifat qana’ah sudah tumbuh di dalam jiwa niscaya sikap tenang akan selalu menyertai walaupun sedang mengalapi musibah (kehilangan sesuatu). Qana’ah bukan berarti kita menerima apa ada nya tanpa berusaha. Tetapi harus di barengi dengan usaha, serta harus bersyukur dengan apa yang kita miliki meskipun sedikit. ( Q.S Ibrahim: 7 )

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“ Dan ingatlah ketika tuhan Mu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih ‘’.

Para mufasir memaknai ayat ini bahwa: “Segala nikmat yang telah di berikan jika di syukuri dengan baik niscaya nikmat yang tersebut akan di tambah akan tetapi apabila nikmat tersebut tidak di syukuri niscaya akan mendapatkan ancaman Allah berupa azab.”

Penyunting: Bukhari