Di dunia Islam, narasi ketertinggalan acapkali menjadi topik yang tak hentinya didengungkan. Tingginya kekerasan dan konflik, lemahnya kesadaran iptek, meningkatnya otoritarianisme, keterbelakangan sosioekonomi, dekadensi moral, krisis ekologi, dan berbagai fakta sosial lainnya meninggalkan pertanyaan besar bagi umat Islam: apakah Islam kompatibel dengan laju perkembangan zaman?
Berbagai ikhtiar telah dirumuskan dalam menjawab persoalan krusial tersebut, mulai dari analisis eksternal, seperti dampak kelam kolonialisme hingga dominasi ideologi sekularisme-liberalisme yang dibawa oleh peradaban Barat modern, maupun analisis internal yang menggarisbawahi kurangnya sensibilitas umat akan komprehensifitas keilmuan Islam berikut faktor yang mendasarinya, seperti persekutuan ulama-negara, hingga miskonsepsi terhadap nalar sufistik.
Benar, bahwa pluralitas ikhtiar tersebut semestinya dilihat sebagai entitas holistik-integratif yang berkaitkelindan non-atomistik. Namun demikian, tulisan sederhana ini mencoba untuk menguak akar elementer dari persoalan tersebut dengan melibatkan proses hermeneutis guna menyingkap spirit etos kerja yang sedari awal dibawa oleh Islam melalui kitab suci Al-Qur’an dan spirit kenabian.
Dalam pengertiannya yang paling dasar, Islam memandang etos kerja bukan sebagai suatu entitas yang berdiri sendiri (isolated entity) yang hanya mencerminkan karakter semangat kerja. Etos kerja dalam Islam merupakan suatu ruh yang mengilhami idealitas trilogi Tuhan, manusia, dan alam semesta. Karenanya, dalam uraian berikutnya, etos kerja akan dieksplorasi dan direkognisi sebagai suatu manifestasi integratif yang menghubungkan dimensi spiritual, sosial-humanities, dan kosmologis secara seimbang.
Niat dan Etos Transendental
Pembahasan mengenai pandangan Islam tentang etos kerja ini barangkali dapat dimulai dengan usaha menangkap makna sedalam-dalamnya dari sabda Nabi yang amat terkenal. Yaitu bahwa, “(nilai) suatu pekerjaan bergantung pada niatnya,” (Bukhari dan Muslim).
Sabda Nabi tersebut menegaskan bahwa nilai tindakan manusia tergantung kepada komitmen yang mendasari kerja itu. Tinggi-rendah nilai itu diperoleh seseorang sesuai dengan tinggi-rendah komitmen yang dimilikinya. Selain itu, kesempurnaan nilai tersebut hanya jika setiap tindakan didasari oleh komitmen untuk memperoleh rida Allah dan Rasul-Nya.[1]
Dengan mengorientasikan pada rida Allah dan Rasul-Nya, setiap tindakan manusia akan bernilai luhur dan akan mengantarkan pelaku tindakan tersebut kepada nilai-nilai luhur universal lainnya, seperti keadilan, amanah, dan totalitas. Semakin tinggi komitmen terhadap rida Allah dan Rasul-Nya, semakin kecil celah profanitas (non-luhur) tindakan untuk mewujud.
Sebagaimana disebutkan, niat menempati posisi fundamental dalam setiap tindakan manusia. Niat yang memiliki arti “ketetapan hati” beroperasi pada tataran kehendak, yang dalam konsep moral berfungsi mendorong terwujudnya eksistensi sebuah tindakan.[2] Di sinilah Islam berusaha untuk selalu memastikan pada batas yang paling dasar dan awal agar setiap tindakan bernilai luhur.
Lebih-lebih, tindakan tersebut pada gilirannya, tidak boleh tidak mesti dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah: “Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin,” (QS At-Taubah [9]: 105).
Dengan demikian, tindakan (kerja) dalam pandangan Islam bukan sekedar persoalan profit. Bukan juga asal yang penting “kerja, kerja, kerja!”. Kerja adalah suatu amanah luhur yang bersifat imperatif—harus ditunaikan dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab. Islam melihat kerja sebagai suatu tindakan yang, sekali lagi, tidak dapat dilepaskan dari aspek transendental.
Bekerja sebagai Mode of Existence Manusia
Jika uraian sebelumnya memfokuskan etos kerja pada tataran kesadaran, maka sudah barang tentu kesadaran tersebut pada gilirannya mesti terwujud sebagai sebuah tindakan-tindakan konkrit (amal saleh). Al-Qur’an mengamini keterkaitan antara iman dan amal saleh, yang menunjukkan bahwa iman yang sejati mesti dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan baik.[3]
Dalam praktiknya, pemisahan antara keduanya dengan mengesampingkan yang terakhir hanya akan menjadikan manusia terpasung oleh dan terasing dari realitas. Menghindari situasi keterasingan semacam ini, Nabi senantiasa berdoa agar dihindarkan dari sikap lemah dan malas. “Allahumma inni a’udzubika min al-‘ajzi wa al-kasali[4] (Bukhari dan Muslim)”. Sehingga, nyatalah adagium yang berbunyi: “Malas tertindas, lambat tertinggal, berhenti mati”.
Selain daripada itu, berbagai karakter tercela tersebut menjadi kontra produktif dengan sikap ketekunan, profesionalitas, dan totalitas yang keseluruhannya merupakan ciri kesempurnaan tindakan yang didambakan Allah. Sebagaimana tertuang dalam sabda Nabi: “Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan pekerjaan, ia lakukan dengan sempurna” (Thabrani dan Abu Ya’la).
Kenyataan ini semakin tak terelakkan dengan memaknai sedalam-dalamnya tugas mulia yang diemban oleh manusia sebagai khalifatullah (QS. Al-Baqarah [2]: 30). Amanah tersebut mengharuskan seseorang untuk menjadi perantara yang menjembatani kehidupan sosial kemasyarakatan dengan Allah dalam menghadirkan limpahan karunia-Nya.
Memang benar, secara teologis, Allah dengan kehendak dan kemahakuasaan-Nya sama sekali tidak membutuhkan suatu perantara dalam mencipta sesuatu (QS. Yasin [36]: 82). Namun demikian, keniscayaan keterkaitan sebab-akibat adalah juga merupakan ketentuan-Nya, terutama yang menyangkut keberlangsungan kehidupan duniawi.[5]
Mengenai keniscayaan sebab-akibat dalam hubungannya dengan semangat membumikan etos kerja Islam, ada baiknya kita memaknai kembali firman Allah yang mempertautkan—secara kausal—karunia, nikmat, dan kelapangan hidup dengan suatu usaha, hijrah, dan kerja keras (QS. Ali Imran: 100; Al-Jumuah: 10; Al-Mulk: 15; Al-Muzammil: 20).[6] Lebih-lebih, bahwa rida Allah yang menjadi tujuan paripurna manusia hanya dapat digapai melalui kerja atau amal saleh yang dilandasi kemurnian tauhid (QS 18: 110).
***
Firman-firman Allah tersebut menyiratkan pentingnya manusia untuk menjangkarkan setiap tindakan pada spirit kerja aktif dan kreatif. Sehingga jelaslah bahwa sikap pasif dan “nrimo ing pandum” pada batas tertentu tidak sejalan dengan spirit etos kerja Islam. Tidak sampai di situ, Nabi bahkan mengajarkan bahwa “tangan di atas” dan “mukmin yang kuat” lebih utama dari “tangan yang di bawah” dan “mukmin yang lemah”.
Bahwa hierarki keutamaan adalah suatu keniscayaan memang benar adanya. Dengan tujuan, agar sebagian dapat memberikan manfaat untuk sebagian lainnya (QS. Az-Zukhruf [43]: 32). Namun demikian, keutamaan yang diberikan Allah tersebut berbanding lurus dengan usaha seseorang dalam mengukuhkan keimanan serta mendayagunakan potensi rasio yang dimilikinya untuk beramal (QS. Al-Mujadalah [58]: 11, dan bandingkan dengan QS. Ar-Ra’d [13]: 11). Hal ini lantaran nilai manusia sesuai dan sepadan dengan apa yang ia upayakan (QS. An-Najm [53]: 39).
Semua yang telah diuraikan di atas menuju kepada suatu nuktah yang amat fundamental dalam ajaran Islam, yaitu bahwa usaha, kerja, atau amal adalah bentuk keberadaan atau cara mengada (mode of existence) manusia. Artinya, manusia ada karena kerja dan kerja itulah yang membuat atau mengisi eksistensi kemanusiaan. Oleh karenanya dalam Islam, tidaklah berlebihan bilamana dikatakan “Aku berbuat (bekerja), maka aku ada”.
Etos Kerja dan Harmoni Kosmos
Setelah diinsafi secara ontologis hakikat etos kerja Islam, baik dalam tataran kehendak maupun tindakan, segera perlu dikemukakan bahwa etos kerja Islam memiliki keterkaitan erat dengan aspek tujuan. Aspek tujuan yang dimaksud adalah bahwa etos kerja Islam dalam skala yang lebih luas berprospek pada harmoni tatanan kosmis.
Kerja sebagai mode of existence manusia bukan berarti bahwa dalam Islam, manusia menempati puncak struktur ontologis yang mensubordinasi realitas selainnya. Etos kerja Islam tidak mengandaikan antroposentrisme yang memosisikan manusia sebagai master, sementara menempatkan realitas lainnya sebatas servant yang oleh karenanya rentan menjadi objek eksploitasi.[7]
Dalam Islam, baik manusia sebagai salah satu entitas pengkosmos dan berbagai entitas pengkosmos lainnya sama-sama memiliki nilai intrinsik-otonom, yang oleh karenanya menghasilkan relasi yang interdependen dan resiprokal antara satu dengan yang lain.[8] Oleh karenanya, kehadiran manusia dengan kapasitas pengetahuan kreatif yang dimilikinya (QS. Al-Baqarah [2]: 31-33) ditujukan untuk menjaga visi transendental berupa keseimbangan tatanan kosmis (QS. Al-Qamar [54]: 49).[9]
Dalam hal ini, konsep taskhir (misalnya: QS. Al-Hajj [22]: 65) dan tadzlil (QS. Yasin [36]: 72) harus dipahami dalam terang amanah kekhalifahan manusia di muka bumi yang merangkap tiga fungsi sekaligus: menghamba (‘ibadah) (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56), memimpin (khilafah) (QS. Al-Baqarah [2]: 30), dan membangun (‘imarah) (QS. Yusuf [11]: 61).[10] Dengannya, etos kerja dalam Islam merupakan karakter kerja yang diarahkan kepada kemaslahatan dan rahmat bagi seluruh struktur kosmis (QS. Al-Mu’minun [21]: 107) yang jauh dari kecenderungan egosentris (QS. Al-Hasyr [59]: 9).
Daftar Pustaka
[1] Budhy Munawar-Rachman (ed), Karya Lengkap Nurcholish Madjid: Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemodernan, (Jakarta: NCMS, 2020), h. 953.
[2] Muhammad Abdullah Darraz, Dustur al-Akhlaq fi al-Quran, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2005), h. 424.
[3] Toshihiko Izutsu, Ethico Religious Concepts In The Quran, (Montreal & Kingston: McGill-Queen’s University Press, 2002), h. 204.
[4] Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah aku dari (sifat) lemah dan rasa malah.”
[5] Ibn Rusyd, Al-Kasyf ‘an Manahij al-Adillah fi ‘Aqaid al-Millah, (Beirut: Markaz Dirasat al-Wahdah al-‘Arabiyah, 1998), h. 166.
[6] Yusuf Qardhawi, Musykilatu al-Faqr wa Kayfa ‘Ilajaha al-Islam, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1985), h. 42-46.
[7] Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis in Modern Man, (London: George Allen & Unwin, 1968), h. 18.
[8] Ibrahim Ozdemir, Toward an Understanding of Environmental Ethics from a Quranic Perspective dalam “Islam and Ecology: A Bestowed Trust”, (Cambridge: Harvard University Press, 2003), h. 8.
[9] Mohammad Aslam Parvaiz, Scientific Innovation and al-Mizan dalam “Islam and Ecology: A Bestowed Trust”, (Cambridge: Harvard University Press, 2003), h. 393.
[10] Yusuf Qardhawi, Ri’ayat al-Biah fi Syari’at al-Islam, (Kairo: Dar asy-Syuruq, 1968), h. 23.
Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.