Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Makrifat Ramadan (2): Melipatgandakan Harapan

Harapan
Sumber: https://interestingengineering.com
Contents

Dalam suasana yang penuh ketidakpastian, memelihara dan merawat harapan adalah keharusan. Sebab agama melarang orang pesimis.  Mental pesimis hanya akan melahirkan penyakit. Yakni mudah kehilangan arah dan dihempas serta diombang-ambing oleh badai kehidupan. 

Melalui firman-Nya QS. Al-Baqarah [2]: 156 Tuhan mengabarkan bahwa kehidupan manusia di bumi akan selalu dihadapkan pada beberapa batu kerikil untuk menguji kadar keimanan mereka. Mereka akan diuji dengan rasa takut, kekurangan harta, rasa lapar, dan kekurangan pangan. Dalam suasana itu, menggenggam harapan adalah sebaik-baiknya jawaban. 

Suasana dan keadaan getir tidak boleh dihindari. Ia mesti dihadapi dengan langkah tegap dan mantap. Seperti kata pepatah lama kita, untuk menjadi seorang petarung, seseorang harus berani melewati badai. Dalam konteks beragama, ujian demi ujian yang didatangkan adalah tangga untuk naik kelas.     

Misal pada hari-hari sebelumnya. Anak muda disodorkan dan dikagetkan pada data tentang menurunnya angka pernikahan di Indonesia. Ini adalah tantangan dan sekaligus ujian. Selebihnya tergantung pada sikap kita meresponnya.

Apakah akan menyikapinya dengan rasa takut dan cemas? Karena menganggap pernikahan sebagai beban dan momok yang menakutkan. Atau akan tetap berusaha memupuk harapan? Di antaranya menjadikan data itu sebagai pemicu semangat untuk bekerja lebih giat agar dapat mempersiapkan pernikahan secara matang.

*** 

Pada level tertentu, rasa takut tentu adalah hal yang wajar dan manusiawi. Sebab ia memang ada dalam diri manusia. Hanya saja, jika berkaca pada ajaran agama, bersama rasa takut itu harus ada harapan. Harapan itulah yang kelak akan menghapus rasa takut dan menggerakkannya untuk mengerjakan hal-hal yang mendekatkannya terhadap apa yang dituju. 

Hal ini memang tidak mudah. Mungkin tidak semudah kata para rohaniawan atau motivator. Namun setidaknya, mereka mengajarkan manusia untuk tetap berpegang pada harapan di tengah berbagai keraguan dan ketakutan yang melanda. Nasihat yang mereka berikan sekurang-kurangnya dapat menjadi booster yang melindungi manusia dari rasa takut yang berlebih. 

Baca Juga  Tembang Macapat dalam Kehidupan Masyarakat Islam Jawa

Salah satu kesadaran yang mesti ditanamkan pada diri manusia ialah bahwa setiap hal yang terjadi kepadanya adalah takdir dan kehendak-Nya. Karena itu kita tak boleh memelihara rasa takut yang berlebih. Nabi berpesan:

“Jagalah Allah dan Dia akan menjagamu. Waspadalah terhadap Dia dan Anda akan menemukan Dia di sisimu. Jika kamu bertanya, mintalah kepada Allah. Jika kamu membutuhkan sesuatu, carilah Allah. Ketahuilah, kalaupun seluruh dunia berkumpul untuk membantumu, mereka tidak akan dapat membantu kecuali jika Allah telah memerintahkan demikian. Dan sekiranya seluruh dunia berkumpul untuk menyakitimu, niscaya mereka tidak akan menyakitimu kecuali jika Allah telah memerintahkannya.”

***

Beragama sejatinya adalah merawat harapan. Dengan agama, manusia mempunyai sandaran atas segala ketakutan-ketakutan yang menghantuinya. Amal-amal kebajikan yang diperbuatnya, selain diniatkan untuk sesama, juga diharapkan sebagai bentuk persembahannya pada Tuhan agar kelak mendapatkan balasan tempat terbaik di akhirat. 

Bahkan dalam agama, orang dengan masa lalu sekelam apapun, dilarang untuk berputus asa. Sebab melalui hadis qudsi yang disampaikan oleh Nabi, rahmat dan kasih sayang itu luas dan mengalahkan amarah dan murka-Nya. Agama selalu pandai dan tampil paling depan dalam mengembangkan asa manusia.

Dalam salah satu hadis, Tuhan tampil dengan sangat romantis. Dia mengatakan, siapa yang merangkak menuju-Ku, maka Aku akan berjalan menujunya. Siapa yang berjalan menuju-Ku, maka Aku berlari menujunya. Tuhan tidak pernah menutup pintu-Nya bagi orang-orang yang ingin meraih rahmat-Nya. Dia selalu mengulurkan “tangan”-Nya bagi siapa saja yang ingin. 

Merawat harapan merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia. Carl Jung, tokoh psikologi dunia, melalui hasil pengamatannya yang mendalam, menemukan bahwa hidup manusia ke depan sangat dipengaruhi oleh harapan-harapannya. Harapan-harapan yang digenggamnya akan membentuk tumbuh-kembangnya kelak. 

Baca Juga  Makrifat Ramadan (1): Takwa yang Menggerakkan

Sejalan dengan itu, baik Al-Ghazali atau Erich Fromm, memandang bahwa harapan tidak boleh bersifat pasif. Ia harus mewujud dalam tindakan dan gerakan. Al-Ghazali mencontohkan harapan seperti seorang petani yang menanam dan ingin mendapatkan hasil dari tanamannya. Sebelum memetik hasil, ia akan merawatnya sepenuh hati: menyiram, menjaganya dari hal-hal yang merusak dan memberinya pupuk.

Demikian pula halnya harapan. Ia tidak boleh dibiarkan sekedar mengenap dalam diri. Ia harus dilipatgandakan. Dan cara melipatgandakannya adalah dengan membentuk serangkaian langkah yang dapat mempermudah jalan mewujudkan harapan. Harapan mesti dirawat, dipupuk dan dijaga agar kelak dapat tumbuh ranum.

Erich Fromm juga memandang demikian. Ia melihat banyak orang yang masih menyalahartikan arti dari harapan. Inilah yang menurutnya membuat hidup banyak orang bermasalah, baik personal atau kolektif.

***

Bagi Fromm, harapan tidak boleh dimaknai sebagai kepasifan yang membuat orang hanya berdiam diri dan menunggu. Sebab pemaknaan seperti ini nantinya akan menghasilkan manusia-manusia yang tidak percaya diri akan kemampuannya mencapai sesuatu. Padahal harapan adalah seni mengada, mewujudkan dan meraih sesuatu dalam hidup.

Dalam pemikiran Fromm harapan mempunyai titik landas yang menarik, yakni keimanan.  Iman adalah bagian penting dalam melambungkan harapan. Dengan imannya, ia yakin bahwa segala hal yang diinginkan dan dicita-citakannya pasti tercapai.

Dengan imannya, sebagaimana hadis sebelumnya, ia yakin bahwa segala sesuatu yang ditakdirkan untuknya akan menjadi miliknya. Namun dengan catatan sambil tetap melakukan ikhtiar. Sebab iman dan ikhtiar inilah yang membedakan antara beriman yang salah dan beriman yang benar (rasional dan terukur).

Pemaknaan harapan seperti yang disampaikan oleh Al-Ghazali dan Erich Fromm di atas harus meluas dan menjadi pemahaman mainstream. Agar manusia tidak lagi terjebak pada harapan yang semu. Harapan yang akan mematikan dirinya dan semangatnya. Sebab merawat harapan yang kita inginkan adalah merawat harapan dengan aktif. Yakni dengan membuktikannya dalam tindakan dan kesetiaan memperjuangkan hidup yang layak.   

Baca Juga  Al-Qur'an dan Menyikapi Kenyataan yang tak Sesuai Harapan

Alumni Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Jakarta, Mahasiswa Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta dan Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKU-MI), Bendahara Umum DPD IMM DKI Jakarta 2024-2026.