Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Makrifat Ramadan (1): Takwa yang Menggerakkan

Takwa
Gambar: https://jayakartanews.com/

Salah satu kemampuan penting yang diberikan Tuhan pada orang bertakwa adalah furqan, kemampuan untuk membedakan hal baik dan hal buruk. Hal ini ditayangkan pada firman Tuhan QS al-Anfal [8]: 29:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa pada Allah, niscaya Dia akan memberikan kamu furqan (kemampuan untuk membedakan antara yang hak dan yang batil.”

Persoalan furqan atau kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk, selain persoalan wawasan, juga menyangkut pertolongan dan petunjuk dari Tuhan. Makanya tak heran jika Imam Malik dalam doa yang dibuatnya meminta senantiasa diberikan kemampuan untuk memastikan yang hak itu hak dan yang batil itu batil.

“Ya Allah, tunjukkanlah pada kami yang benar itu adalah benar dan berikanlah pada kami kemampuan untuk melaksanakan kebenaran itu. Beritahukanlah pada kami bahwa yang batil itu adalah batil dan berikanlah kami kemampuan untuk menghindari kebatilan itu.”

Doa ini serta mental dan sikap yang diajarkannya sangat penting untuk dihikmati dan dipatrikan dalam diri. Bahwa kita mesti mengakui kalau kita sering kali kewalahan dalam menilai dan menentukan sikap di antara hal-hal yang samar. 

Manusia sering dibuat bimbang dan gamang. Terutama pada wilayah yang samar dan abu-abu. Ia takut melangkah ke kanan karena khawatir yang benar adalah kiri. Begitupun sebaliknya. Karenanya kita perlu memohon petunjuk dan inayah dari Tuhan. 

Sebab di wilayah yang samar seperti inilah biasanya bisikan keburukan bermain secara halus dan perlahan. Dengan muslihatnya ia dapat mengubah pandangan manusia. Hal buruk dibuatnya menjadi baik dan hal baik dibuatnya seolah-olah menjadi buruk.

Baca Juga  Telaah Tujuan Pernikahan dalam Perspektif Q.S Ar-Rum Ayat 21

Takwa yang Menggerakkan 

Selain memiliki kemampuan untuk membedakan, saya kira menarik melihat salah satu definisi yang disampaikan oleh sahabat nabi Abu Hurairah tentang takwa. Ketika ditanya apa definisi takwa, ia memberi kiasan yang menarik. “Pernahkah kau melihat onak duri di jalanan?”, tanya Abu Hurairah pada penanya. “Pernah”, jawabnya. “Lalu apa yang kau lakukan?”, tanya Abu Hurairah kembali. “Saya akan menyingkirkannya.” “Itulah takwa”, kata Abu Hurairah. 

Dalam pandangan Abu Hurairah, takwa bukanlah sesuatu yang pasif dan hanya bersifat ke dalam. Karena itu dalam Islam, meminjam Quraish Shihab, kebaikan yang diperintahkan kepada muslim selalu punya nilai dan implikasi sosial. Begitu pun dengan takwa. Konsep ini meniscayakan dampak kebaikan yang nyata. Islam tidak hanya menginginkan takwa yang menggetarkan relung kaum beriman, tapi juga takwa yang menggerakkan seseorang untuk berbuat baik dan memberikan senyata-nyatanya manfaat pada masyarakat sekitar. 

Takwa yang menggerakkan amat sangat penting kehadirannya di zaman kacau seperti sekarang. Khususnya di saat orang-orang gampang kehilangan kendali dan pegangan nilai. Atas nama pembangunan, lingkungan menjadi mangsa. Mereka kehilangan takwa yang seharusnya mencegah mereka dari perbuatan merusak bumi. 

Begitupun dengan kasus kekerasan seksual yang marak hari ini. Semua hal itu terjadi karena orang telah hampir kehilangan pedoman dan petunjuk hidup (takwa). Sebab jika mereka bertakwa, mereka akan sadar bahwa dalam agama manusia wajib dihormati derajat kemanusiaannya dengan tidak melecehkan dan menodainya.

Takwa dan Fatwa Nurani 

Dalam satu dialognya, Nabi Muhammad pernah menjelaskan arti takwa dengan penjelasan yang jenius. Ketika orang-orang bertanya padanya tentang arti dan makna takwa, Rasulullah menjawab singkat. “At-taqwa ha huna (takwa itu di sini)” dengan sambil menunjuk dada. 

Baca Juga  Kewajiban Menyampaikan Ilmu kepada Sesama Perspektif Islam

Rasul ingin menjelaskan bahwa takwa amat erat kaitannya dengan hati nurani. Petunjuk yang paling jujur dan adil dalam mengarahkan manusia adalah hati nurani. Ia mampu memberi tahu manusia mana perbuatan yang baik dan buruk. Hal demikian karena ia telah didesain sebagai seonggok daging dalam diri manusia yang berfungsi sebagai petunjuk. Dikatakan dalam hadis Nabi:

“Di dalam tubuh manusia ada sebuah daging yang jika ia baik, maka baik seluruh jasad manusia. Dan jika ia buruk, maka buruklah seluruh jasad manusia. Ala wa hiya al-qalb (dia adalah hati nurani).”

Hanya saja manusia terkadang menutup diri dari suara hati nurani. Dalam pertarungan antara nurani dan berahi, mereka lebih memilih tunduk dan memenangkan perintah berahi. Padahal, mengikuti kata nurani adalah kunci keselamatan mengarungi badai kehidupan. Sedangkan menuruti kata berahi adalah awal dari segala kecelakaan.

Membentuk Kesadaran Kebertuhanan  

Bagi Muhammad Asad, penulis tafsir The Message of The Quran, takwa tidak cukup hanya diartikan sebagai sikap melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Lebih dari itu, takwa harus diartikan sebagai kesadaran akan kemahahadiran Tuhan. Bahwa Tuhan selalu mengawasi kita kapan pun dan di mana pun. Dengan kesadaran seperti ini, kita akan selalu menuntut diri agar menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak dan keinginan-Nya.

Ary Ginanjar, pakar ESQ (Emotional Spiritual Quotient), menjelaskan bahwa suara nurani (got spot) selalu hadir di momen-momen penting hidup manusia. Bahkan bisa setiap saat. Hanya saja kita sering abai dan acuh terhadapnya. Akhirnya suaranya perlahan redup dan menghilang. Misal saat orang ada kecelakaan di jalan. Hampir semua nurani manusia saat itu bergeming dan mengirimkan sinyal kasihan dan dorongan membantu. Hanya saja cuma sebagian dari kita yang ingin mendengarkannya dan melaksakannya. 

Baca Juga  Makrifat Ramadan (2): Melipatgandakan Harapan

Manusia hari ini, jika ingin dikaruniai hidup yang lapang dan selamat, maka harus sering-sering mengajak nuraninya berdialog. Mereka harus menjadikan nurani sebagai panglima. Sebab nuranilah kelak yang menjadi lentera penuntun kita di tengah zaman yang semakin hari semakin menunjukan kekopongannya. 

Alumni Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Jakarta, Mahasiswa Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta dan Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKU-MI), Bendahara Umum DPD IMM DKI Jakarta 2024-2026.