Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kritik Politik di Khutbah Hari Raya

Hari raya Idulfitri merupakan momen kebahagiaan umat Islam yang bisa dirasakan bersama-sama dengan mengesampingkan sejenak berbagai perbedaan, mulai dari madzhab, latar belakang sosial, strata ekonomi, hingga pilihan politik. Maka pada hari raya itu setiap orang melupakan walau sejenak semua ketegangan dan segala hal lain yang membuat hubungan sesama manusia menjadi renggang dan berjarak.

Maka selayaknya dalam momen indah dan bahagia seperti ini berbagai perbedaan tidak perlu ditampakkan. Bahkan jika ada seorang atau sekelompok orang Islam yang hanya shalat di hari itu saja, perlu mendapat salam, senyum, sapa yang bersahabat dari orang lain. Begitupun yang terjadi di hari raya Idul Adha, semua berhak bahagia bersama di hari raya.

Pada hari raya Idulfitri tahun ini, sebuah video pendek beredar di platform media sosial yang merekam suasana ketika sebagian besar jama’ah shalat Idulfitri melakukan walk out dari shaf-shaf shalat karena khatib saat itu menyampaikan khutbah yang lebih banyak membicarakan masalah politik.

Memang pemilihan presiden tahun ini telah berlalu dan terlaksana pada bulan Februari lalu. Akan tetapi tentu saja dampak dari pelaksanaan kontestasi itu belum juga reda. Lalu bagaimanakah sebaiknya bersikap pada khutbah (baik dalam Idulfitri, Idul Adha maupun khutbah Jum’at) bermuatan kritik politik seperti ini ?

Nasehat Takwa Merupakan Khutbah Terbaik

Khutbah apapun itu bukanlah forum yang bisa terselenggara setiap hari. Khutbah Jum’at yang rutin sekalipun hanya terlaksana sekali dalam sepekan. Apalagi khutbah hari raya. Tentu selayaknya nasehat ketakwaan, peningkatan spiritual, semangat ibadah dan renungan jauh lebih utama dan lebih baik daripada materi kritik politik yang bisa disampaikan di forum lain.

Islam Tidak Anti Politik

Baca Juga  Memahami Kata Huda dalam Al-Qur’an Serta Derivasinya

Khutbah, masjid, kajian dan semisalnya memang perlu diisi dengan muatan-muatan wawasan politik termasuk kritik yang sekiranya perlu dan sesuai dengan etika. Akan tetapi penyampaian materi seperti itu selayaknya berupa wawasan yang mendasar, keteladanan politik para ulama dan tokoh Islam daripada menjadikannya sebagai mimbar orasi seperti unjuk rasa.

Kritik Merupakan Nahi Munkar dengan Etika

Sebuah kemunkaran yang jelas dan meluas membutuhkan nahi munkar dengan menyampaikannya di hadapan umum. Baik melalui media sosial, khutbah dan semisalnya. Akan tetapi etika Islam sebagai identitas umat Islam, terlebih para khatib perlu mendapat perhatian. Salah satu yang sering dilupakan adalah agar tidak menyebut nama pelaku kemunkaran yang sudah terlanjur diketahui masyarakat luas, apalagi membuka celah potensi hukum pidana.

Perhatikan Kebutuhan Umat Islam

Umat Islam di tanah air, terlebih ketika menghadiri khutbah lebih membutuhkan materi yang ringan, tapi berguna, atau yang praktis dan sesuai realita kehidupan sehari-hari. Renungan iman, faidah ketakwaan, penyucian jiwa dan hati, dan semisalnya lebih dibutuhkan daripada kritik politik yang sudah biasa dibahas di forum-forum luar khutbah.

Urgensi Kritik Politik Pada Khutbah

Para jama’ah yang hadir berniat untuk ibadah dan mencari ketenangan. Menghindari pergumulan kehidupan yang keras, dan menepi sejenak dari kegaduhan duniawi untuk kembali mengingat Allah. Ketika mereka hadir dan ternyata tidak mendapatkan ketenangan batin dan malah sebaliknya, mereka mendapat materi yang berat dan menjenuhkan, mereka akan kecewa. Di sisi lain, khutbah bermuatan seperti itu tidak berdampak banyak bagi para jama’ah.

Hendaklah khatib, termasuk takmir dan panitia penyelenggara memperhatikan betapa pentingnya forum khutbah (secara umum) beserta kebutuhan para jama’ah, dan tentu saja selektif memilih khatib serta memberitahu khatib kondisi para jama’ah agar tidak salah materi.

Baca Juga  Mendidik Anak Bagi Orang Tua Perspektif Tafsir Ibnu Abbas
Seorang yang memiliki minat di bidang sejarah, dakwah dan pendidikan Islam. Memiliki keseharian sebagai peneliti dan penulis di ketiga bidang yang menjadi minatnya. Monggo, silaturrahmi di media sosialnya.