إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِيْرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَ نَبِيَ وَلَا رَسُولَ بَعْدَهُ
قَالَ تَعَالَى فِي القُرْآنِ الكَرِيمِ : يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبً
Hari ini masalah moral adalah masalah paling berat yang harus kita hadapi. Sebab kerusakan dan kesengsaraan yang kita terima hari ini adalah buah dari buruknya pendidikan etika. Praktik korupsi, perubahan iklim, krisis keteladanan dan kekerasan di lingkungan sekolah adalah konsekuensi yang mesti kita hadapi akibat merosotnya moral. Kita berlomba-lomba mendidik anak agar cerdas secara intelektual, tapi lupa membekali mereka agar punya kematangan moral.
Dalam Islam masalah moral mendapat porsi yang besar. Namun hal ini sangat jarang mendapat perhatian kita. Dalam sejarah Islam hanya ada beberapa ulama yang punya perhatian tentang etika, seperti al-Ghazali dan Ibnu Misykawaih. Buku-buku yang lebih banyak diproduksi adalah tentang fikih. Bukan pembahasan ini tak penting. Tapi masalah paling mendesak yang mesti jawab hari ini adalah masalah moral. Karena itu pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang etika dalam Al-Qur’an dan menguraikan bagaimana ia dapat menjadi fondasi dalam membangun jiwa kepahlawanan.
Etika sebagai Fondasi Peradaban
Dalam Al-Qur’an ada banyak istilah yang menggambarkan bagaimana besarnya perhatian Islam pada etika. Ada kata taqwa, khair, ma’ruf, ihsan, ‘adl dan qist. Kata ini diulang Al-Qur’an dalam banyak kesempatan. Kata taqwa sebanyak 258 kali, khair sebanyak 188 kali, ma’ruf sebanyak 39 kali, ihsan sebanyak 108 kali, ‘adl sebanyak 28 kali dan qistsebanyak 25 kali. Salah satu ayat pamungkas yang harus menjadi perhatian bersama adalah QS. Ali Imran ayat 10:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُم ٱلْفَٰسِقُونَ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Dalam ayat ini umat Islam disebut sebagai umat terbaik. Namun dengan tiga syarat: menyeru kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Artinya untuk mementaskan umat Islam sebagai umat terbaik kita harus berpegang pada nilai-nilai etis Al-Qur’an. Etika dalam hal ini menjadi salah satu fondasi untuk membangun peradaban. Tak ada peradaban yang tak mengindahkan etika. Sebaliknya, Al-Qur’an justru merekam kehancuran banyak peradaban karena mengabaikan etika.
Salman Harun, pakar tafsir Indonesia, menyebutkan kaum-kaum atau peradaban yang hancur karena telah jatuh pada kerusakan moral. Di antara peradaban yang hancur itu adalah umat Nabi Nuh, bangsa ‘Ad (umat Nabi Hud), bangsa Tsamud (umat Nabi Shaleh) , umat Nabi Luth, bangsa Madyan (umat Nabi Syuaib) dan Fir’aun dengan dinastinya di Mesir.[1] Semua bangsa itu dihancurkan dan dibenamkan oleh Allah karena kerusakan moral yang mereka tampilkan. Dari berbuat syirik, premanisme (menggunakan keperkasaan atau kekuasaan untuk menindas yang lemah), pengetahuan yang disalahgunakan, kejahatan ekonomi dan lain sebagainya. Kisah-kisah itu sengaja dihadirkan oleh Al-Qur’an agar dapat kita dapat mengambil ibrah:
لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ
“Sungguh, pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat.” (QS. Yusuf: 111).
Seruan Berlaku Adil dan Ihsan
Keadilan dan ihsan adalah gagasan penting dalam etika Islam. Penekanan terhadap keadilan cukup banyak ditayangkan dalam Al-Qur’an. Begitupun dengan ihsan. Dalam hadis Nabi yang masyhur, disebutkan bahwa tingkatan paling tinggi dari keberagamaan seseorang adalah ihsan. Saat ditanya apa arti ihsan, Nabi menjawab, “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, namun apabila engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Menariknya Al-Qur’an sebagai sumber moral kaum beriman menyatukan perintah adil dan ihsan dalam tarikan nafas, yakni pada surah an-Nahl: 90:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat ihsan, dan memberi kepada kerabat, serta melarang dari perbuatan keji, mungkar, dan permusuhan.”
Bagi at-Thabari ayat ini adalah perintah tegas Allah untuk menegakkan keadilan (al-‘adl) dan bersikap proporsional (al-insaf).[2] Sementara bagi al-Baidhawi ayat ini adalah anjuran untuk bersikap moderat (tawassuth) dalam segala aspek. Adapun perintah berbuat ihsan dipahami al-Baidhawi sebagai anjuran menyempurnakan ketaatan pada Allah.[3]
Ibnu Asyur, ulama modern berkebangsaan Tunisia, dalam tafsirnya at-Tahrir wa at-Tanwir punya pandangan yang revolusioner dan mendalam atas ayat ini. Baginya makna dasar keadilan adalah memberikan hak kepada mereka yang berhak. Hak di sini tidak dibatasi pada kebutuhan pokok (daruriyyat) tapi juga kebutuhan sekunder (hajiyyat). Tidak hanya hak perseorangan, tapi juga hak interaksi sosial. Sementara makna ihsan bagi Ibnu Asyur adalah memperlakukan orang dengan cara yang baik (al-husna). Ihsan adalah melakukan sesuatu yang disenangi orang yang menerimanya. Oleh karena itu, ihsan adalah sesuatu yang derajatnya lebih tinggi dari adil. Orientasi dari ihsan memberikan pemberian sebaik-baiknya. [4]
Nabi Muhammad sebagai Teladan Moral
Setelah al-Qur’an, sumber rujukan moral kita adalah Nabi Muhammad. Hadis-hadis dan sirah-sirah tentang keteladanannya telah banyak ditulis. Dalam hadis yang populer Nabi bersabda, “Sesungguhnya aku diutus memperbaiki akhlak manusia.” Ini adalah visi dan misi penting Nabi, yakni memperbaiki tatanan sosial masyarakat. Hal ini sangat wajar diembankan pada Nabi. Sebab Al-Qur’an sendiri telah banyak memberi kesaksian tentang keluhuran moral Nabi Muhammad. Allah berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (QS. Al-Azhab: 21)”
Dalam tafsirnya Al-Matsalu al-‘Ala Yunan Yusuf[5] menjelaskan bahwa Nabi Muhammad memiliki banyak teladan, tak terkecuali tentang jiwa kepahlawanan. Konteks ayat ini adalah mengisahkan sikap kepahlawanan Nabi pada perang Ahzab atau sering disebut perang Khandaq. Nabi tampil dengan pribadi yang tenang, memberi semangat kepada sahabat dan yang terpenting adalah teladan berkorbannya.
Teladan Kepahlawanan Nabi Muhammad
Satu hal yang kita yakini bahwa Islam tidak akan tersebar tanpa teladan kepahlawanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Tak terkira berapa banyak pengorbanan dan perjuangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Berkat dakwah yang ia sampaikan dan perjuangkan Islam akhirnya tersebar ke seluruh penjuru dunia. Kita tentu tak lupa bagaimana Nabi harus menghadapi penentangan dan persekusi dari punggawa Quraisy, Abu Lahab, Abu Jahal dan masyarakat Tha’if yang melempari kotoran unta padanya.
Sejarah Islam juga penuh dengan kisah-kisah kepahlawanan. Kita mengenal sosok Shalahuddin al-Ayyubi dan Thariq bin Ziyad. Berkat jasa, perjuangan dan pengorban merekalah Islam bisa menduduki Palestina dan Andalusia (Spanyol). Dari mereka kita dapat mengambil pelajaran bahwa untuk meraih kejayaan dan kedigdayaan kita harus terbiasa dengan sikap kepahlawanan: berjuang dan berkorban. Begitu pun dengan sejarah Indonesia. Tanpa perjuangan para pendahulu kita tak akan bisa merasakan hidup dalam suasana damai.
Hari ini kita dapat melakukan sikap kepahlawanan yang berbeda dan tidak mesti sama persis. Kepahlawanan kita bisa disesuaikan dengan medan juang masing-masing. Bagi pejabat, kepahlawanan adalah menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya, menunjukkan kinerja yang memuaskan dan berdampak. Selanjutnya bagi para intelektual, kepahlawanan adalah berkarya sebanyak-banyaknya dan bersetia pada jati dirinya sebagai kontrol sosial. Sementara bagi politisi, kepahlawanan adalah dengan membuat kebijakan atau undang-undang yang berpihak pada rakyat.
Namun yang perlu dicatat dengan baik, kepahlawanan itu tidak akan lahir dari iman yang gersang dan moralitas yang luntur. Hanya iman yang bersih dan moralitas yang luhurlah yang memungkinkan lahirnya jiwa kepahlawanan.
Khutbah Kedua
حَمدًا يُوافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، تَعَظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللّٰهِ وَنَفْسِي الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُتَّقِينَ، وَعُدَّةُ السَّائِرِينَ إِلَى رِضْوَانِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
[1] Salman Harun. Tafsir Tarbawi: Nilai-Nilai Pendidikan dalam Al-Qur’an. Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2019, h. 52-53
[2] Ibnu Jarir at-Thabari. Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an. Beirut: Muassasah al-Risalah, 1994, h. 90-91
[3] Al-Baidhawi. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil . Beirut: Dar al-Rasyid, 2000, h. 276
[4] Ibnu Asyur. At-Tahrir wa At-Tanwir. Tunisia: Dar at-Tunisia li An-Nasyr, 1984, h. 255
[5] M. Yunan Yusuf. Al-Matsalu al-‘Ala. Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2020, h. 86






























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.